Negara-negara Miskin Membuang Jutaan Vaksin Covid karena Hampir Kedaluwarsa

Siswanto, ABC

Selasa, 18 Januari 2022 | 11:10 WIB
Negara-negara Miskin Membuang Jutaan Vaksin Covid karena Hampir Kedaluwarsa
Ilustrasi vaksin Covid-19 [Foto: Antara]

Suara.com - UNICEF, salah satu badan PBB, melaporkan negara-negara miskin menolak lebih dari 100 juta dosis vaksin COVID-19 yang didistribusikan lewat program COVAX karena masa berlakunya yang hampir habis.

Ini menunjukkan meski pasokan vaksin lewat program COVAX sudah melebihi 1 miliar dosis dan distribusikan ke 150 negara, tapi masih ada kendala dalam upaya melakukan vaksinasi penduduk di dunia.

"Lebih dari 100 juta dosis mendapat penolakan bulan Desember lalu," kata Etleva Kadilli dari UNICEF kepada para anggota parlemen Eropa."

Menurutnya alasan utama penolakan vaksinasi adalah masa berlaku atau kedaluwarsa yang hampir habis.

Ditambahkan oleh Etleva, negara-negara miskin juga terpaksa menunda pengiriman vaksinasi karena tidak memiliki tempat penyimpanan vaksin yang memadai.

UNICEF belum memberi keterangan lanjutan soal berapa jumlah dosis vaksin secara keseluruhan yang sudah ditolak negara-negara miskin.

Selain penolakan pengiriman vaksin, banyak juga vaksin yang tidak digunakan tapi masih disimpan di negara-negara tersebut.

Data dari UNICEF soal pasokan dan pengiriman vaksin menunjukkan 681 juta dosis saat ini tidak digunakan di 90 negara miskin, seperti yang dicatat lembaga  CARE.

Menurut CARE, lebih dari 30 negara yang miskin, termasuk yang memiliki penduduk besar seperti Republik Demokratik Kongo dan Nigeria, hanya menggunakan kurang dari setengah vaksin yang mereka terima.

baca juga

COVAX, program global yang dikoordinir oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sejauh ini sudah mengirimkan 989 juta dosis vaksin ke 144 negara, menurut GAVI, aliansi vaksin yang juga menjalankan program tersebut.

Pasokan dari negara maju juga tidak digunakan

Pasokan vaksin yang sudah mulai tersedia sejak bulan Desember 2020 awalnya dikuasai oleh negara-negara maju, sehingga pengiriman ke negara-negara miskin sangat terbatas.

Namun dalam tiga bulan terakhir, pengiriman meningkat lewat donasi dari negara-negara kaya setelah mayoritas penduduknya sudah divaksinasi.

Di bulan Januari 2022, 67 persen penduduk negara-negara kaya sudah mendapatkan vaksinasi penuh, sementara di negara-negara miskin angkanya baru sekitar delapan persen menurut data WHO.

Meningkatnya ketersediaan vaksin membuat banyak negara miskin juga tidak siap untuk menerimanya.

"Ada beberapa negara yang menolak vaksin sekarang samEtleva."

Menurut data UNICEF,  dari sekitar 15 juta dosis vaksin asal negara-negara Uni Eropa yang ditolak, 75 persennya adalah vaksin AstraZeneca . Padahal vaksin Astrazeneca masa berlakunya sekitar 10 minggu setelah kedatangan.

Reuters melaporkan hampir 1 juta vaksin sudah berakhir masa berlakunya di Nigeria di bulan Desember padahal belum digunakan sama sekali.

Reuters

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya dari ABC News 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Rusia Kirim 200 Ton Biji-bijian ke 6 Negara Termiskin di Afrika, Ini Tujuannya

Rusia Kirim 200 Ton Biji-bijian ke 6 Negara Termiskin di Afrika, Ini Tujuannya

News | Rabu, 21 Februari 2024 | 15:15 WIB

Terkini

Prabowo Panggil COO Danantara dan Menteri KKP ke Istana, Ini yang Akan Dilaporkan

Prabowo Panggil COO Danantara dan Menteri KKP ke Istana, Ini yang Akan Dilaporkan

News | Selasa, 03 November 2026 | 15:10 WIB

Pemain Keturunan Jember Ingatkan Taisei Marukawa Keputusan John Herdman Soal Pemain Timnas Indonesia

Pemain Keturunan Jember Ingatkan Taisei Marukawa Keputusan John Herdman Soal Pemain Timnas Indonesia

Bola | Selasa, 03 November 2026 | 15:09 WIB

Geger Isu Sejumlah Jenderal Polisi Ditangkap Brimob, Diduga Terlibat Pengerahan Massa di Yogyakarta?

Geger Isu Sejumlah Jenderal Polisi Ditangkap Brimob, Diduga Terlibat Pengerahan Massa di Yogyakarta?

News | Selasa, 03 November 2026 | 15:08 WIB

Kritik Pemerintah Lewat Lagu, Aviwkila Diteror Komentar Jahat dan Dipaksa Hengkang dari Medsos

Kritik Pemerintah Lewat Lagu, Aviwkila Diteror Komentar Jahat dan Dipaksa Hengkang dari Medsos

Entertainment | Selasa, 03 November 2026 | 15:06 WIB

Dua Kali Mangkir, Nusron Wahid Segera Dipanggil KPK Kasus Suap HGB

Dua Kali Mangkir, Nusron Wahid Segera Dipanggil KPK Kasus Suap HGB

News | Selasa, 03 November 2026 | 15:06 WIB

7 Perbedaan Walking Shoes VS Running Shoes, Mana yang Lebih Nyaman untuk Jalan Jauh?

7 Perbedaan Walking Shoes VS Running Shoes, Mana yang Lebih Nyaman untuk Jalan Jauh?

Lifestyle | Selasa, 03 November 2026 | 15:03 WIB

Akses Obat Makin Mudah, Kemenkes Dorong Masyarakat Lebih Cerdas Melakukan Swamedikasi

Akses Obat Makin Mudah, Kemenkes Dorong Masyarakat Lebih Cerdas Melakukan Swamedikasi

News | Selasa, 03 November 2026 | 15:01 WIB

Hargai Diri Sendiri dan Berhentilah Tersakiti: Menempatkan Kebahagiaan di Atas Ekspektasi Orang Lain

Hargai Diri Sendiri dan Berhentilah Tersakiti: Menempatkan Kebahagiaan di Atas Ekspektasi Orang Lain

Your Say | Selasa, 03 November 2026 | 15:00 WIB

Bagaimana Cara Membersihkan Buku Tanpa Merusaknya? Simak Langkah Mudahnya

Bagaimana Cara Membersihkan Buku Tanpa Merusaknya? Simak Langkah Mudahnya

Lifestyle | Selasa, 03 November 2026 | 14:55 WIB

WNI Tentara Bayaran Rusia Dibayar Rp 50 Juta Per Bulan, Ada 58 Orang Terjebak di Perang Ukraina

WNI Tentara Bayaran Rusia Dibayar Rp 50 Juta Per Bulan, Ada 58 Orang Terjebak di Perang Ukraina

News | Selasa, 03 November 2026 | 14:53 WIB

×