Suara.com - Ekonom senior Rizal Ramli berbicara mengenai kekhawatirannya terhadap pembangunan IKN.
Rizal Ramli mengingatkan bahwa ada negara yang gagal mengembangkan ibu kota baru.
Dirinya kembali mengingatkan agar pemerintah tak salah langkah memindahkan IKN ke Kalimantan Timur.
"Kebanyakan terjadi di negara-negara yang merancang IKN jauh dr IKN lama. Harus naik pesawat tiga sampai empat jam," kata Rizal Ramli, seperti dikutip dari wartaekonomi--jaringan Suara.com, Rabu (2/2/2022).
Lebih lanjut, Rizal Ramli menyinggung soal kegagalan Brasil yang memindahkan IKN ke Brasilia.
Menurutnya, lokasi dua IKN lama dan baru itu sangat jauh.
Iapun khawatir apabila nantinya IKN yang dipindah ke Kalimantan Timur hanya akan menjadi tempat buang uang.
"Jadi yang terjadi di Brasilia City jadi tempat pejabat rapat-rapat, seminar, liburan sama keluarga, menghabiskan SPJ kalau di Indonesia," ungkapnya.
Dikutip dari makassar.terkini.id--jaringan Suara.com, Rizal Ramli memprediksi IKN akan menjadi 'New Beijing'.
Rizal Ramli membeberkan bahwa secara ekonomi akan sulit memindahkan apa yang sudah ada di Jakarta.
Menurutnya, pengusaha properti akan lebih banyak meraup untuk jika membangun kota baru di Pulau Jawa.
"Kalau perusahaan real estate besar tidak akan mau main real estate di Kalimantan Timur kecuali dipaksa, karena mereka lebih diuntungkan bikin BSD baru, bikin kota baru di Pulau Jawa," jelasnya.
Rizal Ramli membeberkan bahwa secara ekonomi akan sulit memindahkan apa yang sudah ada di Jakarta.
Lebih lanjut, Rizal Ramli menduga nantinya pelaku usaha yang berani menanam modal yaitu perusahaan asal China.
"Nah yang tertarik untuk itu ya BUMN China, untuk beli tanah di situ (Kalimantan Timur), bangun ibu kota baru, tapi penghuninya siapa itu nanti, rakyat nggak mau pindah ke situ," ujarnya.