Apa Itu Senjata Kimia dan Mungkinkah Rusia Menggunakannya di Ukraina?

Siswanto, BBC

Selasa, 15 Maret 2022 | 15:12 WIB
Apa Itu Senjata Kimia dan Mungkinkah Rusia Menggunakannya di Ukraina?
BBC

Suara.com - Rusia mengadakan pertemuan darurat khusus dengan Dewan Keamanan PBB pada Jumat (11/3) untuk membahas klaimnya bahwa Ukraina berencana mengembangkan senjata biologis. Tuduhan itu telah dibantah oleh Ukraina dan AS dan dikatakan sebagai operasi "bendera palsu" atau kambing hitam, sebuah klaim yang bertujuan untuk membenarkan kemungkinan penggunaan senjata kimia oleh Rusia terhadap Ukraina.

Secara sah, Ukraina memang memiliki laboratorium yang, dikatakan pemerintah, digunakan para ilmuwan untuk melindungi warga dari penyakit seperti Covid-19. Mengingat Ukraina sekarang dalam keadaan perang, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) meminta Ukraina untuk menghancurkan semua patogen berbahaya di laboratoriumnya.

Jadi, apa sebenarnya senjata kimia dan apa bedanya dengan senjata biologis?

Senjata kimia adalah segala jenis amunisi yang membawa racun atau zat kimia yang menyerang sistem tubuh.

Baca juga:

Ada berbagai kategori senjata kimia. Chocking agents atau senyawa kimia, seperti fosgen, menyerang paru-paru dan sistem pernapasan. Akibatnya, korban tenggelam dalam sekresi paru-paru mereka sendiri. Ada juga blister agents atau senyawa kimia, seperti gas mustard, yang membakar kulit dan membutakan mata.

Kategori yang paling mematikan dari semuanya adalah nerve agent atau senyawa kimia yang mengganggu penyampaian pesan dari otak ke otot-otot tubuh. Setetes kecil nerve agents bisa berakibat fatal. Kurang dari 0,5 miligram nerve agent VX, misalnya, sudah cukup untuk membunuh orang dewasa.

Semua senyawa kimia tersebut dapat digunakan dalam peperangan dengan menggunakan peluru artileri, bom, dan misil. Namun, semuanya dilarang keras oleh Konvensi Senjata Kimia 1997, yang ditandatangani oleh sebagian besar negara, termasuk Rusia.

Pengawas global untuk senjata kimia berada di Den Haag, Belanda, dan disebut OPCW - Organisasi Pelarangan Senjata Kimia - yang memantau penggunaan senjata ini secara tidak sah dan mencoba mencegah jumlahnya menjadi semakin banyak.

baca juga

Senjata-senjata kimia tersebut pernah digunakan dalam perang di masa lalu, dalam Perang Dunia Pertama, Perang Iran-Irak pada 1980-an , dan baru-baru ini oleh pemerintah Suriah saat melawan pasukan pemberontak. Rusia mengatakan telah menghancurkan stok senjata kimia terakhirnya pada 2017 tetapi sejak itu setidaknya ada dua serangan kimia yang dituduhkan kepada Moskow.

Melanggar aturan

Yang pertama adalah serangan Salisbury pada Maret 2018, ketika seorang mantan perwira KGB yang membelot, Sergei Skripal, diracun bersama putrinya menggunakan nerve agent Novichok. Rusia membantah bertanggung jawab dan memberikan lebih dari 20 penjelasan berbeda tentang siapa yang berpotensi melakukannya.

Namun, penyelidik menyimpulkan bahwa itu adalah pekerjaan dua perwira dari intelijen militer GRU Rusia dan akibatnya 128 mata-mata dan diplomat Rusia diusir dari beberapa negara. Kemudian, pada Agustus 2020, aktivis oposisi terkemuka Rusia Alexei Navalny juga diracun dengan Novichok dan nyaris lolos dari kematian.

Jadi, apakah Rusia akan menggunakan senjata kimia di Ukraina?

Jika menggunakan senjata seperti gas beracun dalam perangnya di Ukraina, Rusia akan dianggap melanggar aturan dan kemungkinan besar memicu negara-negara Barat untuk mengambil tindakan tegas.

Tidak ada bukti bahwa Rusia menggunakan senjata ini sambil membantu sekutunya mengalahkan pemberontak di Suriah, tetapi Rusia memberikan dukungan militer besar-besaran untuk rezim Bashar al-Assad yang diduga melakukan puluhan serangan kimia terhadap rakyatnya sendiri.

Faktanya, jika dalam perang yang berkepanjangan, di mana militer penyerang mencoba untuk mematahkan keinginan pasukan pertahanan, maka senjata kimia, sayangnya, adalah salah satu cara yang sangat efektif. Itu yang dilakukan pemerintah Suriah di Aleppo.

Sementara itu, senjata biologis berbeda dengan senjata kimia. Ini adalah ungkapan yang digunakan untuk menggambarkan persenjataan patogen berbahaya seperti Ebola.

Masalahnya adalah ada kemungkinan area abu-abu antara upaya untuk melindungi penduduk dari patogen berbahaya, dan diam-diam mengerjakan bagaimana patogen itu bisa digunakan sebagai senjata. Dalam hal ini, Rusia tidak segera menunjukkan bukti kesalahan Ukraina. Namun, Rusia menggelar pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB pada Jumat untuk membahas klaimnya.

Rusia, ketika masih menjadi bagian dari Uni Soviet, mengendalikan program senjata biologis yang sangat besar, yang dijalankan oleh sebuah badan bernama Biopreparat, yang mempekerjakan sekitar 70.000 orang.

Setelah Perang Dingin berakhir, tim ilmuwan masuk untuk 'melucutinya'. Mereka menemukan bahwa Soviet telah memproduksi dan menggunakan antraks, cacar, dan penyakit lainnya secara massal sebagai senjata, setelah mengujinya pada monyet hidup di sebuah pulau di Rusia selatan.

Mereka bahkan memasukkan spora antraks ke dalam hulu ledak rudal jarak jauh antarbenua yang ditujukan ke kota-kota negara Barat.

Terakhir, dalam pembahasan menyeramkan senjata non-konvensional ini, ada "dirty bomb", yaitu bahan peledak normal yang dibalut oleh unsur-unsur radioaktif, yang merupakan turunan lain dari bom nuklir. Bom itu dikenal sebagai RDD, perangkat penyebaran radiologis. Bom itu bisa menjadi bahan peledak konvensional yang membawa isotop radioaktif seperti Cesium 60 atau Strontium 90.

Jika dibandingkan dengan bom konvensional, dirty bomb tidak akan membunuh lebih banyak orang, setidaknya di awal-awal. Namun, bom itu bisa membuat area yang sangat luas, bisa mencapai seluruh wilayah London, wilayah yang terpapar tidak dapat dihuni selama berminggu-minggu sampai benar-benar didekontaminasi.

Dirty bomb hampir seperti senjata psikologis, dirancang untuk menimbulkan kepanikan penduduk dan merusak moral masyarakat. Kami belum pernah melihatnya digunakan dalam perang. Sebagian alasannya karena berbahaya dan sulit ditangani sehingga membuat penggunanya juga menghadapi risiko untuk diri mereka sendiri.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Trik Dapatkan Tiket VIP ZAP Fest Lewat Promo Top Up Saldo BRI

Trik Dapatkan Tiket VIP ZAP Fest Lewat Promo Top Up Saldo BRI

Bri | Selasa, 15 September 2026 | 15:30 WIB

Peserta JKN Capai 284 Juta, Cak Imin Soroti Tantangan Layanan Kesehatan yang Setara

Peserta JKN Capai 284 Juta, Cak Imin Soroti Tantangan Layanan Kesehatan yang Setara

News | Selasa, 15 September 2026 | 15:28 WIB

Seram! Bayar Uang atau Keluarga Dibunuh, Kiper Ini Terpaksa Buat Timnya Kalah 0-6

Seram! Bayar Uang atau Keluarga Dibunuh, Kiper Ini Terpaksa Buat Timnya Kalah 0-6

Bola | Selasa, 15 September 2026 | 15:27 WIB

Amanda Rigby Blasteran Mana? Ternyata Statusnya WNA

Amanda Rigby Blasteran Mana? Ternyata Statusnya WNA

Entertainment | Selasa, 15 September 2026 | 15:22 WIB

Dicopot dari Menkeu, Dirjen Bea Cukai Bantah Ada Konflik Internal dengan Purbaya

Dicopot dari Menkeu, Dirjen Bea Cukai Bantah Ada Konflik Internal dengan Purbaya

Bisnis | Selasa, 15 September 2026 | 15:20 WIB

Manfaatkan Potongan Harga Belanja Harian dari BRI JCB Platinum

Manfaatkan Potongan Harga Belanja Harian dari BRI JCB Platinum

Bri | Selasa, 15 September 2026 | 15:19 WIB

Amerika Serikat Tunda Aturan Baru Pembatasan Visa Pelajar dan Jurnalis Asing

Amerika Serikat Tunda Aturan Baru Pembatasan Visa Pelajar dan Jurnalis Asing

News | Selasa, 15 September 2026 | 15:17 WIB

Danantara Mau Genggam Saham BEI 40%, Keluarkan Dana Rp517,5 Miliar

Danantara Mau Genggam Saham BEI 40%, Keluarkan Dana Rp517,5 Miliar

Bisnis | Selasa, 15 September 2026 | 15:16 WIB

Respons Aduan Kekeringan, Pemprov DKI Kirim 5.000 Liter Air ke Pondok Labu

Respons Aduan Kekeringan, Pemprov DKI Kirim 5.000 Liter Air ke Pondok Labu

News | Selasa, 15 September 2026 | 15:14 WIB

Manfaat Campuran Air Mawar dan Aloe Vera Gel Wardah untuk Sleeping Mask, Kulit Auto Lembap

Manfaat Campuran Air Mawar dan Aloe Vera Gel Wardah untuk Sleeping Mask, Kulit Auto Lembap

Lifestyle | Selasa, 15 September 2026 | 15:09 WIB

Terkini

MBG Tetap Jalan Meski Sekolah di Kaltim Diliburkan karena Asap Karhutla

MBG Tetap Jalan Meski Sekolah di Kaltim Diliburkan karena Asap Karhutla

News | Selasa, 15 September 2026 | 20:22 WIB

Hari Kedelapan Pencarian KM Arupadhatu 1: Tim SAR Sisir 500 Meter dari Krakatau, Hasil Masih Nihil

Hari Kedelapan Pencarian KM Arupadhatu 1: Tim SAR Sisir 500 Meter dari Krakatau, Hasil Masih Nihil

Banten | Selasa, 15 September 2026 | 20:19 WIB

Sebut Rentan Dikriminalisasi, PERKAPI Minta DPR Prioritaskan RUU Profesi Kurator

Sebut Rentan Dikriminalisasi, PERKAPI Minta DPR Prioritaskan RUU Profesi Kurator

News | Selasa, 15 September 2026 | 20:19 WIB

Pramono Dukung Konser Kanye West di Jakarta: Gerakkan Roda Ekonomi dan Wisata

Pramono Dukung Konser Kanye West di Jakarta: Gerakkan Roda Ekonomi dan Wisata

News | Selasa, 15 September 2026 | 20:15 WIB

4 Isu Sosial dalam Novel Klasik Pride and Prejudice,Tak Hanya Kisah Cinta!

4 Isu Sosial dalam Novel Klasik Pride and Prejudice,Tak Hanya Kisah Cinta!

Your Say | Selasa, 15 September 2026 | 20:15 WIB

'Kalau Ganggu Kesehatan Harus Dilarang', Sinyal Tegas Mendagri Tertibkan Sound Horeg

'Kalau Ganggu Kesehatan Harus Dilarang', Sinyal Tegas Mendagri Tertibkan Sound Horeg

News | Selasa, 15 September 2026 | 20:11 WIB

Kebakaran Lahan di Ciumbuleuit Bandung Diduga Dipicu Sampah Ilegal, Farhan Dorong Penyelidikan

Kebakaran Lahan di Ciumbuleuit Bandung Diduga Dipicu Sampah Ilegal, Farhan Dorong Penyelidikan

Jabar | Selasa, 15 September 2026 | 20:11 WIB

Orang Kepercayaan Nusron Wahid Diduga Minta Fee Rp2 Miliar untuk Urus HGB Summarecon

Orang Kepercayaan Nusron Wahid Diduga Minta Fee Rp2 Miliar untuk Urus HGB Summarecon

News | Selasa, 15 September 2026 | 20:07 WIB

KPK Ungkap 8 Tersangka OTT BPN dan Barbuk Rp106,3 Miliar

KPK Ungkap 8 Tersangka OTT BPN dan Barbuk Rp106,3 Miliar

Foto | Selasa, 15 September 2026 | 20:06 WIB

Gedor Wilayah Cicendo, Tim Gabungan Kota Bandung Eksekusi 18 Bangunan Liar demi Penataan Ruang

Gedor Wilayah Cicendo, Tim Gabungan Kota Bandung Eksekusi 18 Bangunan Liar demi Penataan Ruang

Jabar | Selasa, 15 September 2026 | 20:05 WIB

×