Turis Rusia dan Ukraina Terdampar di Thailand Tak Bisa Pulang karena Perang

Siswanto, BBC

Kamis, 24 Maret 2022 | 11:47 WIB
Turis Rusia dan Ukraina Terdampar di Thailand Tak Bisa Pulang karena Perang
BBC

Suara.com - Tidak banyak tempat yang terdampak oleh kolapsnya pariwisata di Asia seperti Phuket, sebuah pulau kecil di Thailand yang pantai indahnya pernah menarik sekitar tujuh juta wisatawan luar negeri per tahun.

Selama lebih dari setahun setelah Covid melanda, Thailand kurang lebih menutup perbatasannya, memberlakukan persyaratan karantina yang ketat pada siapa pun yang datang dari luar negeri. Lebih dari setengah dari hampir 200.000 pekerjaan terkait pariwisata di Phuket lenyap.

Tahun lalu, pembatasan Covid mulai dilonggarkan secara bertahap. Tetapi China yang selama ini menjadi sumber pariwisata luar negeri terbesar Thailand, masih membatasi warganya untuk bepergian.

Menggantikan turis China adalah turis Rusia, yang kini menjadi kelompok wisatawan asing terbesar di Phuket. Sekitar 17.000 turis dari Rusia tiba di sana pada bulan Desember.

Baca juga:

Saat Anda berjalan di sekitar pantai-pantai populer di Phuket seperti Karon, Kata, dan Patong, Anda pasti akan menjumpai bukti dari booming turis Rusia baru-baru ini; tanda-tanda dalam aksara Sirilik, dan restoran-restoran yang menawarkan hidangan Rusia dengan borscht dan pangsit pelmeni pada menunya.

Tetapi sekarang, invasi Ukraina telah membuat sekitar 7.000 warga Rusia terlantar di Thailand, kebanyakan di Phuket, karena banyak maskapai penerbangan membatalkan penerbangan ke Rusia.

Uang menjadi masalah terbesar bagi mereka. Sejak Rusia dikenai berbagai sanksi, mereka tidak dapat menarik uang tunai dari mesin ATM atau menggunakan kartu kredit.

Kebanyakan dari mereka tidak mau berbicara dengan wartawan, tetapi satu pasangan setuju, asalkan kami tidak menyebutkan nama mereka. Mereka khawatir akan konsekuensi di Rusia karena sekadar menyebut peristiwa di Ukraina sebagai perang dapat membuat mereka dituntut pidana.

baca juga

Mereka berkata kepada saya bahwa mereka terbang ke Phuket dari Moskow pada hari invasi dimulai, dan sekarang berusaha untuk tinggal di Thailand sampai uang mereka habis. Mereka berdua merasa ngeri dengan invasi ke Ukraina.

"Kami pergi dari bank ke bank, dari ATM ke ATM. Sembilan kali dari 10 kesempatan kami ditolak, tetapi kami akhirnya berhasil mendapatkan uang tunai.

"Ada beberapa cara lain untuk mendapatkannya, seperti Western Union atau mata uang kripto, tetapi ada saja yang ditutup setiap hari. Satu cara yang berhasil kemarin, bisa tidak berhasil hari ini."

"Setiap hari kami menonton berita"

Bagi sejumlah kecil turis Ukraina yang juga terlantar di Thailand ketika pasukan Rusia mulai mengebom kota-kota mereka, situasinya bahkan lebih buruk.

Saya bertemu Anton dan Alina di sebuah hotel tepi pantai yang digunakan sebagai kantor imigrasi sementara oleh pemerintah Thailand. Mereka membantu memperpanjang visa para turis yang tidak dapat meninggalkan negara itu.

Anton dan Alina termasuk di antara selusin warga Ukraina yang hidupnya telah dijungkirbalikkan oleh perang. Mereka berlibur di Thailand sejak Desember, dan seharusnya terbang kembali ke Kyiv pada pertengahan Maret, tetapi penerbangan mereka dibatalkan, dan keluarga mereka meminta supaya mereka tinggal di luar negeri selama mungkin.

"Kami tidak bisa bersantai di sini, kami tidak bisa enjoy berenang di laut," kata Alina. "Setiap hari kami menonton dan membaca berita. Sayang sekali kami tidak dapat membantu keluarga kami dengan kembali ke sana."

Alina mengatakan keluarganya berada di daerah yang relatif aman di Kyiv, tetapi mereka masih mendengar suara rudal Rusia tidak jauh dari sana. Bagi mereka, itu membawa kembali kenangan ketika harus meninggalkan kota asal mereka, Donetsk, setelah konflik dimulai di sana delapan tahun lalu.

Keluarga Anton telah meninggalkan Kyiv dan pindah ke dekat perbatasan Hongaria, sehingga mereka dapat menyeberang jika situasinya memburuk.

Perempuan muda lain, yang memperkenalkan diri sebagai Yulia, menghampiri saya sambil menangis, dan menunjukkan gambar di ponselnya yang menunjukkan kehancuran di kotanya sendiri, Irpin, di luar Kyiv.

Keluarganya telah pindah ke Kyiv, katanya, tapi dia terlalu sedih untuk bercerita lebih banyak. Semua warga Ukraina yang terdampar ditawari perpanjangan visa 90 hari, tetapi beberapa dari mereka khawatir uang mereka akan habis.

Baca juga:

Pemilik bisnis dan pemerintah setempat berusaha membantu para wisatawan ini dengan berbagai cara.

Kedutaan Besar Ukraina di Thailand mengatakan mereka telah menerima lebih dari 100 tawaran akomodasi gratis dari penduduk Thailand. Pemerintah Thailand sedang berusaha menemukan cara lain bagi warga Rusia untuk memindahkan uang mereka ke sini untuk membiayai akomodasi mereka, termasuk menggunakan aplikasi transfer internasional dan sistem perbankan lokal.

Ketika kami mengunjungi restoran Veranda di Karon saat makan siang, dengan patung beruang plastik besar menyambut kami di pintu, hanya ada dua meja yang terisi.

"Sekitar Tahun Baru kami penuh, setiap hari," kata manajer restoran, Dee. "Tapi pelanggan kami tidak bisa lagi menarik dana untuk membayar makanan mereka."

Pemilik restoran Rusia itu malah menawarkan pelanggan opsi pembayaran dengan transfer melalui kartu yang dikeluarkan oleh bank-bank Rusia seperti Sberbank, Alfa dan Tinkoff.

Pasangan Rusia yang saya temui tinggal di losmen murah milik perusahaan Denmark, Plan-B.

Salah seorang pemilik Plan-B, Toke Terkelsen mengatakan ia sekarang menawarkan diskon kepada pelanggan Ukraina dan Rusia, atau kesempatan untuk pindah ke kamar yang lebih murah. Ia telah mengalokasikan hostel dengan tempat tidur gratis bagi mereka yang kehabisan uang tunai.

Berharap pariwisata bangkit kembali

Di pantai Phuket yang indah Anda bisa mendengar banyak orang berbicara dalam bahasa Rusia. Di sini ada wisatawan dari Kazakhstan, dari kota-kota Siberia seperti Omsk, Irkutsk dan Novosibirsk, semuanya melarikan diri dari musim dingin utara yang dingin.

Tetapi jumlah mereka hanya sebagian kecil dari wisatawan yang biasa datang sebelum pandemi Covid, itu pun semakin berkurang.

Selama beberapa minggu ke depan, pemerintah Thailand dan Kedutaan Besar Rusia mengatakan mereka akan mengeksplorasi cara-cara alternatif untuk membawa pulang warga Rusia yang terdampar, baik melalui penerbangan evakuasi khusus atau menggunakan maskapai penerbangan yang masih terbang ke sana.

Setelah mereka pergi, kebangkitan pariwisata yang sudah lama diharapkan oleh Phuket akan terhenti lagi, menanti lebih banyak turis Eropa, turis India, dan akhirnya, turis China untuk datang kembali beramai-ramai seperti dahulu kala.

Toke Terkelsen yakin itu akan segera terjadi.

"Bahkan dengan apa yang terjadi saat ini di dunia, Masih ada banyak orang yang sudah tinggal di rumah selama dua tahun, dan sudah menabung dan benar-benar ingin berlibur," katanya.

"Jika Thailand sudah buka sebagai pintu gerbang utama untuk Asia, dan sementara negara-negara lain masih tutup, akan ada banyak orang datang ke Thailand."

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Rumor MSCI Downgrade IHSG Panaskan Hubungan RI-Singapura

Rumor MSCI Downgrade IHSG Panaskan Hubungan RI-Singapura

Bisnis | Minggu, 01 November 2026 | 22:20 WIB

Target Harga Saham BBCA di Tengah Koreksi Ekstrem

Target Harga Saham BBCA di Tengah Koreksi Ekstrem

Bisnis | Minggu, 01 November 2026 | 22:11 WIB

Patuhi Danantara, PTBA Resmi Bubarkan Anak Usaha

Patuhi Danantara, PTBA Resmi Bubarkan Anak Usaha

Bisnis | Minggu, 01 November 2026 | 22:05 WIB

Danantara Gandeng 32 Kampus, Hasil Riset Didorong Tak Berhenti di Meja Penelitian

Danantara Gandeng 32 Kampus, Hasil Riset Didorong Tak Berhenti di Meja Penelitian

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:05 WIB

Aparat Bersenjata Geledah Ponpes Putri saat Santri Tidur, Komnas HAM Turun Tangan

Aparat Bersenjata Geledah Ponpes Putri saat Santri Tidur, Komnas HAM Turun Tangan

News | Minggu, 01 November 2026 | 22:00 WIB

Jadi Media Peredaran Narkotika Cair, Kapolri Larang Anggota Polri Pakai Vape

Jadi Media Peredaran Narkotika Cair, Kapolri Larang Anggota Polri Pakai Vape

News | Minggu, 01 November 2026 | 21:41 WIB

Dari Rp188 T ke Rp247 T: Ke Mana Saja Aliran Dana Jumbo Kesehatan Indonesia?

Dari Rp188 T ke Rp247 T: Ke Mana Saja Aliran Dana Jumbo Kesehatan Indonesia?

Bisnis | Minggu, 01 November 2026 | 21:41 WIB

Generasi Sandwich Perlu Atur Keuangan, Jangan Sampai Tabungan Habis Saat Sakit

Generasi Sandwich Perlu Atur Keuangan, Jangan Sampai Tabungan Habis Saat Sakit

Lifestyle | Minggu, 01 November 2026 | 21:30 WIB

Kapolri Larang Anggota Polri Gunakan Vape, Berlaku di Dalam dan Luar Lingkungan Kerja

Kapolri Larang Anggota Polri Gunakan Vape, Berlaku di Dalam dan Luar Lingkungan Kerja

News | Minggu, 01 November 2026 | 21:24 WIB

Bentuk Bumi Semakin Membulat Akibat Perubahan Iklim, Ini Dampaknya Bagi Manusia

Bentuk Bumi Semakin Membulat Akibat Perubahan Iklim, Ini Dampaknya Bagi Manusia

Tekno | Minggu, 01 November 2026 | 21:22 WIB

Terkini

Kapolri Soal Larangan Polisi Nge-Vape: Kena Sanksi Disiplin, Ada Narkoba Dipidana

Kapolri Soal Larangan Polisi Nge-Vape: Kena Sanksi Disiplin, Ada Narkoba Dipidana

News | Senin, 02 November 2026 | 15:37 WIB

Suket SMA Gibran Dibatalkan MA, Demokrat Desak Mundur atau Dimakzulkan!

Suket SMA Gibran Dibatalkan MA, Demokrat Desak Mundur atau Dimakzulkan!

News | Senin, 02 November 2026 | 15:34 WIB

Atasi Limbah Rumah Tangga, Pemprov Jateng Diganjar Rekor MURI Pengumpulan Minyak Jelantah Terbanyak

Atasi Limbah Rumah Tangga, Pemprov Jateng Diganjar Rekor MURI Pengumpulan Minyak Jelantah Terbanyak

Jawa Tengah | Senin, 02 November 2026 | 15:33 WIB

Bijak Memilah Hal Penting dalam Buku Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat

Bijak Memilah Hal Penting dalam Buku Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat

Your Say | Senin, 02 November 2026 | 15:30 WIB

MBG Watch Kritik Sayembara Rp 1 T Sukseskan Makan Bergizi Gratis: Bukan Tupoksi Pemda

MBG Watch Kritik Sayembara Rp 1 T Sukseskan Makan Bergizi Gratis: Bukan Tupoksi Pemda

News | Senin, 02 November 2026 | 15:21 WIB

Urutan Shio Wanita Paling Mandiri dan Pintar Cari Cuan

Urutan Shio Wanita Paling Mandiri dan Pintar Cari Cuan

Lifestyle | Senin, 02 November 2026 | 15:15 WIB

Masyarakat Adat Ciptagelar Punya Tiga Aturan untuk Membagi dan Menjaga Hutan

Masyarakat Adat Ciptagelar Punya Tiga Aturan untuk Membagi dan Menjaga Hutan

Lifestyle | Senin, 02 November 2026 | 15:15 WIB

2 Shade Bedak Wardah Luminous Compact Powder untuk Kulit Sawo Matang

2 Shade Bedak Wardah Luminous Compact Powder untuk Kulit Sawo Matang

Lifestyle | Senin, 02 November 2026 | 15:14 WIB

Dilarang Vape! Kapolri Pastikan Sanksi Disiplin hingga Pidana Bagi Anggota yang Melanggar

Dilarang Vape! Kapolri Pastikan Sanksi Disiplin hingga Pidana Bagi Anggota yang Melanggar

News | Senin, 02 November 2026 | 15:11 WIB

Taruna Ikrar: AI Boleh Jadi Asisten Kesehatan, Tapi Bukan Pengganti Dokter

Taruna Ikrar: AI Boleh Jadi Asisten Kesehatan, Tapi Bukan Pengganti Dokter

Health | Senin, 02 November 2026 | 15:07 WIB

×