Kualitas Udara Jakarta Paling Buruk di Dunia Karena Efek WFO? Ini Penjelasan Ahli

Stefanus Aranditio, Ummi Hadyah Saleh

Selasa, 21 Juni 2022 | 12:07 WIB
Kualitas Udara Jakarta Paling Buruk di Dunia Karena Efek WFO? Ini Penjelasan Ahli
Kabut polusi udara menyelimuti gedung-gedung bertingkat di Jakarta, Rabu (15/6/2022). [Suara.com/Alfian Winanto]

Suara.com - Kualitas udara di DKI Jakarta dalam beberapa hari terakhir tercatat sebagai yang terburuk di dunia berdasarkan situs IQ Air Index.

Kualitas udara yang memburuk diasumsikan lantaran aktivitas kegiatan bekerja sudah kembali normal atau WFO (Work From Office)

Co founder penyedia aplikasi pengukur kualitas udara, Nafas, Piotr Jakubowski membantah bahwa polusi udara yang buruk karena mulai normalnya aktivitas bekerja di kantor atau work from office. Ada banyak faktor yang mempengaruhi kualitas udara yang memburuk.

"Selama beberapa hari yang lalu, ada orang yang menginformasikan bahwa polusi udara yang buruk disebabkan oleh kembalian WFO. Itu statementnya salah. Ada banyak faktor di luar WFO yang pengaruh kepada udara buruk," ujar Piotr yang dikutip Suara.com dari akun twitternya @piotrj , Selasa (21/6/2022).

Piotr menjelaskan bahwa salah satu tipe polusi udara yang paling berbahaya di Indonesia yaitu Particulate Matter 2.5, atau PM2.5. Bahkan kata Piotr ukuran debunya dapat masuk ke paru-paru.

"PM2.5 berbahaya karena ukuran "debunya" kecil banget sampai bisa masuk kepada paru-paru kita. Sayangnya, paru-paru manusia nggak seperti filter, nggak bisa 'dicuci' atau diganti," ucapnya.

Bahkan kata Piotr berdasarkan report Air Quality Life Index (AQLI) tahun 2021, polusi udara menurunkan harapan hidup di Indonesia hampir 7 tahun.

Sejumlah kendaraan terjebak kemacetan di kawasan Kuningan, Jakarta, Selasa (7/12/2021).  ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga
Sejumlah kendaraan terjebak kemacetan di kawasan Kuningan, Jakarta, Selasa (7/12/2021). ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga

Dia pun menjelaskan dampak WFO kepada polisi udara berdasarkan rumus dengan menghitung sumber ditambah atmosfer sumber dikurangi industri, pembakaran sampah, pabrik, transport, listrik dan lainnya sebagai kontrol penuh.

"Untuk membahas impactnya WFO kepada polusi udara, harus kita ngelihat rumusnya dulu. Parahnya Polusi Udara = Sumber + Atmosfer Sumber - industri, pembakaran sampah, pabrik, transport, listrik dan lain-lain (Kontrol Penuh)," tutur Piotr.

baca juga

Sementara yang tak bisa dikontrol penuh yakni atmosfer cuaca, geografi, angin, hujan, dan lain-lain.

Piotr mengungkap ada banyak sumber produsen polusi udara. Yaitu semua yang bisa dibakar dan yang mempunyai asap, memproduksi polusi PM2.5.

"Kenapa full control? Karena semua sumber ini (in theory) dihentikan," papar dia.

Sedangkan kata Piotr atmosfer yaitu manipulator polusi udara. Dimana bumi mempunyai beberapa hal termasuk geografi, kondisi cuaca dan lain-lain yang berdampak kepada seberapa parah polusi udara.

Piotr kemudian menjelaskan terkait Planetary Boundary Layer (PBL) yang merupakan sehelai atmosfer yang dinamis.

Kata dia, tergantung dari kondisi bumi (suhu udara etc) jaraknya bisa beda dari beberapa meter sampai beberapa km di atas bumi.

Hal ini kata Piotr penting karena di siang hari suhu udara tinggi maka PBL Tinggi juga tinggi. Sehingga banyak ruang untuk partikel PM2.5 bergerak dan konsentrasi polusi rendah.

Berbeda di malam hari suhu udara rendah karena PBL Rendah dan tidak ada ruang untuk partikel PM2.5 bergerak, konsentrasi polusi Tinggi (Data dari @nafasidn).

Karena itu kata Piotr, dibandingkan siang hari, polusi udara jauh lebih parah pada malam hari.

"Ini terjadi akibat Planetary Boundary Layer ini, tapi juga karena faktor meteorologi yang kita akan membahas selanjutnya," papar dia.

Lebih lanjut, Piotr juga memaparkan terkait penggantian musim berdampak kepada polusi PM2.5 karena ada perbedaan faktor. Diantaranya faktor hujan, angin, arah angin
suhu udara. Kemudian musim hujan, hujan, angin, polusi dan musim kemarau yakni hujan, angin dan polusi.

"Ternyata, angin bukan hujan lebih berdampak kepada adanya polusi udara atau nggak. Ada Angin - (turunnya) Polusi Rendah. Tidak Ada Angin - (naiknya) Polusi Tinggi," kata Piotr.

Piotr melanjutkan secara lebih detail, impactnya angin kepada polusi udara bisa dilihat dari data Lebaran 2022 di bulan Mei kemarin. Kata dia, ada beberapa hari dimana polusinya tinggi sesudah banyak orang mudik.

"Ini terjadi karena ada kekurangan angin, insight dari @nafasidn," ucap dia.

Piotr menuturkan jika dilihat WFO, dimana WFO artinya semua orang ke kantor naik kendaraan dan fix polusi udaranya tinggi.

Logikanya kata dia dengan WFH terbalik, artinya tak ada mobil dan tak ada polusi. Namun saat PPKM Darurat terjadi kenaikan polusi udara PM2.5.

Ia mengungkapkan data dari Nafas, secara rata-rata di Jabodetabek, terjadi kenaikan polusi udara Particulate Matter 2.5, atau PM2.5 sebanyak 12 persen di waktu PPKM darurat. Kemudian di Kuningan terjadi penambahan polusi PM.2.5 17%, penambahan polusi PM.2.5 Di Bekasi 24% dan penambahan polusi PM.2.5 Di Bogor Barat yaitu %.

"Nope. Dengan data @nafasidn bisa ngelihat bahwa PSBB tidak ada impact signifikan. Tapi kalau angin & hujan balik," ungkap Piotr.

Karena itu kata mantan CMO Go-Jek itu menyebut bahwa kembalinya aktivitas WFO saat ini, bukan alasan polusi udara yang meningkat. Pasalnya ada faktor dari luar atmosfer yang berdampak pada polusi udara

"Jadi moral of the story, WFO bukan alasan adanya polusi udara tinggi. Ada faktor yang diluar tangan kita (atmosfer) yang berdampak signifikan kepada polusi," katanya.

Sebelumnya, kualitas udara di Jakarta berada di peringkat pertama yang terburuk di dunia berdasarkan data di situs IQ Air, Senin (20/6/2022) pagi. Adapun Jakarta berada di angka 196 yakni kategori kualitas udara tidak sehat.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

22 Jalan di Jakarta Kini Diganti Nama-nama Tokoh Betawi, Anies: Perubahan Ini Tak Menyulitkan Warga

22 Jalan di Jakarta Kini Diganti Nama-nama Tokoh Betawi, Anies: Perubahan Ini Tak Menyulitkan Warga

News | Selasa, 21 Juni 2022 | 11:59 WIB

Persija Harus Kehilangan Otavio Dutra Beberapa Bulan ke Depan

Persija Harus Kehilangan Otavio Dutra Beberapa Bulan ke Depan

Bola | Selasa, 21 Juni 2022 | 11:35 WIB

BMKG Buka-bukaan Bongkar Penyebab Buruknya Kualitas Udara di Jakarta

BMKG Buka-bukaan Bongkar Penyebab Buruknya Kualitas Udara di Jakarta

News | Selasa, 21 Juni 2022 | 11:33 WIB

BMKG Ungkap Penyebab Kualitas Udara Jakarta Tidak Sehat

BMKG Ungkap Penyebab Kualitas Udara Jakarta Tidak Sehat

News | Selasa, 21 Juni 2022 | 11:22 WIB

BMKG: Udara Jakarta Tidak Sehat

BMKG: Udara Jakarta Tidak Sehat

News | Selasa, 21 Juni 2022 | 10:44 WIB

Terkini

Kecelakaan Maut Bus Penumpang Tabrak Truk Berat: 10 Orang Tewas dan 24 Luka

Kecelakaan Maut Bus Penumpang Tabrak Truk Berat: 10 Orang Tewas dan 24 Luka

News | Minggu, 01 November 2026 | 23:00 WIB

Pura-pura Ban Motor Bocor, Pria di Bandar Lampung Diduga Bunuh Sepupunya

Pura-pura Ban Motor Bocor, Pria di Bandar Lampung Diduga Bunuh Sepupunya

Lampung | Minggu, 01 November 2026 | 22:48 WIB

Viral Pasien Lansia Terlantar di Teras Puskesmas Bantarujeg, Ini Kronologinya

Viral Pasien Lansia Terlantar di Teras Puskesmas Bantarujeg, Ini Kronologinya

Jabar | Minggu, 01 November 2026 | 22:44 WIB

Truk Molen Tabrak 12 Orang di Halte Bekasi, Enam Tewas dan Kelayakan Kendaraan Disorot

Truk Molen Tabrak 12 Orang di Halte Bekasi, Enam Tewas dan Kelayakan Kendaraan Disorot

Jakarta | Minggu, 01 November 2026 | 22:31 WIB

Rumor MSCI Downgrade IHSG Panaskan Hubungan RI-Singapura

Rumor MSCI Downgrade IHSG Panaskan Hubungan RI-Singapura

Bisnis | Minggu, 01 November 2026 | 22:20 WIB

Target Harga Saham BBCA di Tengah Koreksi Ekstrem

Target Harga Saham BBCA di Tengah Koreksi Ekstrem

Bisnis | Minggu, 01 November 2026 | 22:11 WIB

Kepung Lokasi Balap Liar KM 77 Cipali, Polsek Campaka Amankan 35 Remaja dan 24 Motor

Kepung Lokasi Balap Liar KM 77 Cipali, Polsek Campaka Amankan 35 Remaja dan 24 Motor

Jabar | Minggu, 01 November 2026 | 22:08 WIB

Patuhi Danantara, PTBA Resmi Bubarkan Anak Usaha

Patuhi Danantara, PTBA Resmi Bubarkan Anak Usaha

Bisnis | Minggu, 01 November 2026 | 22:05 WIB

Aparat Bersenjata Geledah Ponpes Putri saat Santri Tidur, Komnas HAM Turun Tangan

Aparat Bersenjata Geledah Ponpes Putri saat Santri Tidur, Komnas HAM Turun Tangan

News | Minggu, 01 November 2026 | 22:00 WIB

Waspada! Ada Dokter Gadungan Rawat 169 Pasien Kanker, Ngaku Tak Bersalah dan Siapkan Vaksin Kanker

Waspada! Ada Dokter Gadungan Rawat 169 Pasien Kanker, Ngaku Tak Bersalah dan Siapkan Vaksin Kanker

News | Minggu, 01 November 2026 | 22:00 WIB

×