Covid-19: Beda Gejala pada Orang yang Belum dan Sudah Divaksinasi

Siswanto, BBC

Senin, 27 Juni 2022 | 14:25 WIB
Covid-19: Beda Gejala pada Orang yang Belum dan Sudah Divaksinasi
BBC

Suara.com - Hidung meler, sakit kepala, bersin-bersin, sakit tenggorokan, dan batuk berkepanjangan. Inilah lima gejala paling umum pada orang-orang yang terkena covid setelah menerima dua dosis vaksin atau lebih.

Pada individu yang belum diimunisasi, gejala penyakit itu adalah, dari yang paling sering sampai paling jarang, sakit kepala, sakit tenggorokan, hidung meler, demam, dan batuk yang persisten.

Penemuan ini didapatkan dari penelitian selama lebih dari dua tahun di Inggris dengan aplikasi yang dibuat oleh perusahaan teknologi Zoe.

Data dari penelitian tersebut dianalisis bersama para peneliti dari King's College London dengan sokongan layanan kesehatan publik Inggris NHS.

Baca juga:

Lebih dari 4,7 juta pengguna yang mendaftar di platform digital itu diminta untuk melaporkan gejala yang mereka rasakan setelah mendapatkan hasil positif covid.

Dengan ini, para pakar menganalisis informasi dan menyusun semacam peringkat gejala-gejala paling umum, yang berubah cukup signifikan selama pandemi.

Penelitian ini -- yang sampai Maret 2022 didanai pemerintah Inggris -- adalah kunci untuk mengidentifikasi beberapa gejala covid yang tidak diduga, misalnya kehilangan indera penciuman dan perasa.

Perubahan kecil namun relevan

Di antara orang-orang yang telah menerima setidaknya dua dosis vaksin, gejala covid paling umum adalah:

baca juga
  • Hidung meler
  • Sakit kepala
  • Bersin-bersin
  • Sakit tenggorokan
  • Batuk terus-menerus

Di antara mereka yang belum menerima vaksin, gejala utamanya adalah:

  • Sakit kepala
  • Sakit tenggorokan
  • Hidung meler
  • Demam
  • Batuk terus-menerus

Perbedaan terbesarnya ialah pada orang yang belum divaksin terdapat gejala demam, sesuatu yang mengindikasikan masalah yang lebih serius.

Mereka juga lebih banyak melaporkan sakit kepala dan sakit tenggorokan dibandingkan orang-orang yang menerima dua dosis vaksin atau lebih.

"Ada berbagai alasan untuk menjelaskan perubahan ini, misalnya fakta bahwa individu yang sudah divaksin mengalami gejala yang tidak begitu parah," kata para peneliti dalam sebuah unggahan di situs web resmi aplikasi Zoe pada 25 April.

"Kita juga perlu memperhitungkan bahwa jauh lebih banyak kasus dilaporkan pada individu usia muda, yang biasanya melaporkan gejala yang berbeda dan tidak begitu parah," imbuh mereka.

Para peneliti mengingatkan bahwa peringkat gejala ini hanya berdasarkan informasi yang dibagikan kepada aplikasi.

Karena itu, ini tidak mempertimbangkan sirkulasi varian spesifik coronavirus.

Juga perlu diingat bahwa gejala covid dapat bervariasi. Daftar lengkap gejala penyakit tersebut, menurut NHS, meliputi:

  • Demam
  • Dingin
  • Batuk terus-menerus
  • Kehilangan atau perubahan indera pencium
  • Kehilangan atau perubahan indera perasa
  • Napas pendek
  • Lelah atau letih
  • Badan nyeri
  • Sakit kepala
  • Sakit tenggorokan
  • Hidung meler
  • Kehilangan selera makan
  • Diare
  • Merasa sakit, mual

Apa yang harus saya lakukan kalau merasakan gejala covid?

Menurut otoritas nasional dan internasional, jika Anda merasakan satu atau lebih gejala khas infeksi coronavirus, langkah pertama yang harus Anda lakukan adalah tetap di rumah dan membatasi interaksi dengan orang lain.

Ini lebih penting lagi kalau Anda berkontak dengan orang-orang yang rentan terhadap komplikasi covid, seperti orang tua atau pasien dengan gangguan sistem kekebalan tubuh.

Dalam konteks ini, langkah penting lainnya ialah melakukan tes untuk memastikan apakah Anda benar-benar terkena covid.

Selain RT-PCR, yang dipandang sebagai metode diagnosis utama dan paling efektif, Anda juga dapat melakukan tes antigen.

Jika hasilnya positif, Anda perlu melakukan isolasi selama 5 hingga 7 hari.

Jika gejala Anda membaik setelah periode tersebut, Anda boleh kembali beraktivitas. Namun, jika memburuk (atau gejala yang lebih serius muncul, seperti sesak napas), Anda perlu segera pergi ke ruang gawat darurat.

Mengapa orang yang sudah divaksinasi masih terkena covid?

Vaksin covid dikembangkan dengan satu tujuan utama: mengurangi risiko komplikasi terburuk penyakit tersebut, yang terkait dengan perawatan di rumah sakit, intubasi, dan kematian.

Teknologi apa pun yang digunakan untuk membuat vaksin, mereka semua punya tujuan awal yang sama: memaparkan sistem imun kita pada virus atau bakteria (atau bagian-bagiannya) untuk melatih sel-sel pertahanan tubuh melawan agen infeksi yang sebenarnya.

Proses imun ini sangat, sangat kompleks dan melibatkan banyak sel dan antibodi. Karena itu, respons imun sangat bervariasi tergantung pada jenis virus, kemampuannya bermutasi, cara pembuatan vaksin, dan kondisi komorbid pasien.

Bagaimanapun, sangat sulit untuk mengembangkan agen imunisasi yang mampu mencegah infeksi itu sendiri, yaitu, memblokir masuknya penyebab penyakit ke dalam sel.

Namun ini satu poin yang sangat penting: bahkan pada kasus ketika vaksin tidak bisa mencegah infeksi, respons imun yang diciptakan oleh vaksin dapat menyebabkan gejala menjadi tidak begitu parah, sehingga mencegah sakit parah dan kematian.

Itu terjadi dengan vaksin influenza dan rotavirus, misalnya orang yang sudah diimunisasi dapat terinfeksi. Namun risiko mengalami komplikasi serius dengan penyakit-penyakit ini jauh berkurang.

Dan fenomena yang sama persis kita lihat dengan Covid-19: meskipun imunisasi tidak memperlambat gelombang kasus baru, mereka efektif mencegah keparahan sebagian besar infeksi.

Buktinya adalah gelombang terbaru, yang terjadi antara akhir 2021 dan awal 2022 dan terkait dengan varian Omikron.

Meskipun jumlah kasus di banyak negara mencapai rekor, tingkat rawat inap dan kematian secara signifikan lebih rendah jika dibandingkan dengan gelombang-gelombang sebelumnya.

Sebuah studi oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) dan Departemen Keamanan Dalam Negeri AS yang diterbitkan pada bulan Maret lalu menghitung cakupan perlindungan ini.

Data itu mengungkapkan bahwa orang dewasa yang telah menerima tiga dosis vaksin covid memiliki risiko 94% lebih rendah untuk memerlukan rawat inap, ventilasi mekanis, atau kematian, dibandingkan dengan mereka yang tidak diimunisasi.

Bukti ketiga dari efek perlindungan ini berasal dari penelitian follow-up yang dilakukan oleh Zoe dan King's College dan yang kami sebutkan pada awal artikel ini.

Beberapa gejala covid yang parah, seperti sesak napas dan demam tinggi, lebih sering ditemukan pada awal pandemi, ketika vaksin belum tersedia.

Setelah beberapa kali gelombang kasus dan, terutama, setelah sebagian besar populasi mendapatkan dosis vaksin, jenis gejala ini mulai turun peringkatnya, dan secara bertahap digantikan oleh laporan-laporan tentang gejala ringan, seperti hidung meler, sakit kepala, dan bersin-bersin.

Dari sudut pandang praktis, virus masih dapat menyerang sel-sel di mulut, hidung, dan tenggorokan pada orang dengan dua atau lebih dosis vaksin, dan menyebabkan gejala khas pilek.

Untungnya, dalam banyak kasus, sistem kekebalan yang aktif mencegah patogen dari mencapai paru-paru dan seluruh tubuh, tempat-tempat yang dapat menyebabkan sesak napas, demam, inflamasi, dan konsekuensi lainnya yang lebih serius.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Mentereng di AS, Mitchell Baker Punya Target Tampil di Premier League, Olimpiade, Piala Dunia

Mentereng di AS, Mitchell Baker Punya Target Tampil di Premier League, Olimpiade, Piala Dunia

Bola | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 23:55 WIB

Inovasi Fashion Ramah Lingkungan: Botol Plastik Bekas Bisa Disulap Jadi Pakaian Olahraga

Inovasi Fashion Ramah Lingkungan: Botol Plastik Bekas Bisa Disulap Jadi Pakaian Olahraga

Lifestyle | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 23:01 WIB

Dewa United Bukan Lawan Biasa, Shin Tae-yong Minta Persija Hati-hati

Dewa United Bukan Lawan Biasa, Shin Tae-yong Minta Persija Hati-hati

Bola | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:54 WIB

Pendapatan Barito Pacific Melonjak 56%, Laba Bersih Tembus US$616 Juta

Pendapatan Barito Pacific Melonjak 56%, Laba Bersih Tembus US$616 Juta

Bisnis | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:09 WIB

Floral, Fruity, atau Woody? Kenali Karakter Aroma Sebelum Memilih Parfum

Floral, Fruity, atau Woody? Kenali Karakter Aroma Sebelum Memilih Parfum

Lifestyle | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:08 WIB

Uang Pengganti Kerry Riza Direvisi MA, Berapa yang Harus Dibayar?

Uang Pengganti Kerry Riza Direvisi MA, Berapa yang Harus Dibayar?

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 09:00 WIB

Cegah Balap Liar! JLNT Antasari Ditutup Tiap Akhir Pekan Mulai 14 November

Cegah Balap Liar! JLNT Antasari Ditutup Tiap Akhir Pekan Mulai 14 November

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 21:59 WIB

Ketegangan Gas dengan Singapura, Indonesia Disebut Buktikan Nyali dan Kedaulatan Energi

Ketegangan Gas dengan Singapura, Indonesia Disebut Buktikan Nyali dan Kedaulatan Energi

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 21:53 WIB

MHU Pangkas Emisi Tambang 41,34%, Lampaui Target Penurunan hingga 2030

MHU Pangkas Emisi Tambang 41,34%, Lampaui Target Penurunan hingga 2030

Bisnis | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 21:43 WIB

JIS Mulai Dilirik Investor Naming Rights, Pramono Ungkap Ada 15 Konser Tahun Depan

JIS Mulai Dilirik Investor Naming Rights, Pramono Ungkap Ada 15 Konser Tahun Depan

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 21:42 WIB

Terkini

Mentereng di AS, Mitchell Baker Punya Target Tampil di Premier League, Olimpiade, Piala Dunia

Mentereng di AS, Mitchell Baker Punya Target Tampil di Premier League, Olimpiade, Piala Dunia

Bola | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 23:55 WIB

Mantan Ketua DPR RI Marzuki Alie Minta Dialog soal Tunggakan PBB IGM Rp2,33 Miliar

Mantan Ketua DPR RI Marzuki Alie Minta Dialog soal Tunggakan PBB IGM Rp2,33 Miliar

Sumsel | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 23:40 WIB

Sumsel United Kalah 0-1 dari Semen Padang, Gol Menit Akhir Buyarkan Asa Laskar Juaro Raih Poin

Sumsel United Kalah 0-1 dari Semen Padang, Gol Menit Akhir Buyarkan Asa Laskar Juaro Raih Poin

Sumsel | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 23:28 WIB

Inovasi Fashion Ramah Lingkungan: Botol Plastik Bekas Bisa Disulap Jadi Pakaian Olahraga

Inovasi Fashion Ramah Lingkungan: Botol Plastik Bekas Bisa Disulap Jadi Pakaian Olahraga

Lifestyle | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 23:01 WIB

Dewa United Bukan Lawan Biasa, Shin Tae-yong Minta Persija Hati-hati

Dewa United Bukan Lawan Biasa, Shin Tae-yong Minta Persija Hati-hati

Bola | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:54 WIB

Kapolresta Bogor Kota Minta Maaf atas Insiden Intimidasi Videografer

Kapolresta Bogor Kota Minta Maaf atas Insiden Intimidasi Videografer

Jabar | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:50 WIB

IVES 2026 Soroti EEC, Pengukuran Dampak Ekonomi Industri Event

IVES 2026 Soroti EEC, Pengukuran Dampak Ekonomi Industri Event

Jakarta | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:47 WIB

Sudah Tunjukkan ID Card Tapi Tetap Diamankan, Jurnalis di Bogor Sempat Diminta Hapus Video

Sudah Tunjukkan ID Card Tapi Tetap Diamankan, Jurnalis di Bogor Sempat Diminta Hapus Video

Bogor | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:43 WIB

Kasus Polisi Diduga Bunuh Ibu Kandung di Siak, Riwayat Skizofrenia Terungkap, Kompolnas Turun Tangan

Kasus Polisi Diduga Bunuh Ibu Kandung di Siak, Riwayat Skizofrenia Terungkap, Kompolnas Turun Tangan

Sumsel | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:31 WIB

Bahlil Curiga LNG Indonesia ke Singapura Dijual Lagi, Ada Apa?

Bahlil Curiga LNG Indonesia ke Singapura Dijual Lagi, Ada Apa?

Video | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:15 WIB

×