Perayaan HUT ke-77 RI di Tengah Jerit Pengungsi Papua

Siswanto | BBC | Suara.com

Kamis, 18 Agustus 2022 | 09:37 WIB
Perayaan HUT ke-77 RI di Tengah Jerit Pengungsi Papua
BBC

Suara.com - Pengungsi dari sejumlah distrik di Kabupaten Maybrat, Papua Barat, mengeluhkan minimnya bantuan, sementara anak-anak dikatakan mulai kelaparan dan sedang menghadapi ancaman putus sekolah.

Keluh kesah ini disuarakan di tengah perayaan HUT RI dan jelang satu tahun pasca ribuan pengungsi meninggalkan rumah-rumah mereka setelah terjadi konflik bersenjata antara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) dan TNI/Polri.

Pihak Organisasi Papua Merdeka masih berkeras untuk melakukan perang terbuka terhadap TNI/Polri. Sementara pemerintah Indonesia sejauh ini, masih mengerahkan aparat untuk memerangi TPNPB-OPM, serta melakukan pendekatan "kesejahteraan“ bagi warga Papua.

Baca Juga:

Lamberti Faan, 36 tahun, mengaku makin sering menghadapi masa sulit untuk memberi makan kedua anaknya yang masih balita di lokasi pengungsian yang berada di Kampung Mowes, Kabupaten Maybrat, Papua Barat.

"Sama sekali tidak ada beras. Dan, anak saya yang paling kecil datang ambil piring, mama mau makan nasi. Tapi saya tidak tahu, saya harus...,” suara Lamberti terjeda diikuti isak tangis.

“Kita harus, di piring-piring kotor itu ada ampas-ampas nasi, dorang ambil untuk itu [makan]… Saya orang tua yang paling tidak berguna sudah,” ungkap Lamberti dengan suara bergetar.

Di lokasi pengungsiannya, tepatnya di Distrik Ayawasi, Lamberti Faan tinggal bersama enam keluarga lainnya yang umumnya masih punya anak kecil.

Mereka merupakan bagian dari ribuan orang yang mengungsi pasca serangan kelompok bersenjata OPM ke Pos persiapan Koramil (Posramil) Kisor Distrik Aifat Selatan, Kabupaten Maybrat, Papua Barat, September tahun lalu. Dalam serangan ini empat anggota TNI tewas.

“Tinggalnya sudah begini, tidak ada pekerjaan untuk bisa menjamin kebutuhan anak-anak sekolah. Makan, belum lagi kalau sakit dan sebagainya,” kata Lamberti.

Minggu-minggu pertama di lokasi pengungsian, Lamberti mengatakan mendapat bantuan dari pemerintah setempat, tapi setelah itu, ia harus mengandalkan bantuan dari saudara atau teman berupa uang atau beras.

“Ada beras tidak, sedikit saja, yang penting saya bisa masak untuk anak kecil,” kata Lamberti saat menirukan ia meminta beras dari saudaranya. “Menunggu bantuan, belas kasihan orang sampai kapan harus begini?” lanjutnya.

Di lokasi pengungsian, Lamberti dan suaminya membuka kebun kecil yang ditanami sayur-sayuran mulai dari kacang panjang, buncis dan bayam. Sayur-sayuran ini digunakan untuk dikonsumsi bersama dengan pengungsi lainnya. Tapi ini tidak cukup, katanya.

Anak-anak mulai bertanya

Di tengah situasi yang makin sulit, kata Lamberti, anak-anaknya mulai bertanya-tanya kapan kembali pulang ke rumah sendiri di Distrik Aifat Timur Tengah.

“Ma, kita pulang kah? Kita punya rumah sudah... Kita mau tinggal di sini sampai kapan, Mama?”

"Saya bingung menjelaskannya. Karena yang kecil ini kan tidak mengerti. [Tapi saya bilang] Di kampung orang tidak ada, jadi kalau orang-orang pulang, nanti kita pulang sama-sama,“ kata Lamberti menirukan penjelasan kepada anaknya.

Lamberti juga merindukan rumah panggung kayunya di Distrik Aifat Timur Tengah. "Pagi-pagi gitu, kopi sama-sama. Cerita dengan anak-anak,” katanya mengenang hal paling menyenangkan di kampungnya.

Pengungsi lain dari Kabupaten Maybrat yang terdampak konflik bersenjata antara OPM dan TNI adalah Adelia—bukan nama sebenarnya, 36 tahun. Ia lebih beruntung dari Lamberti, karena punya rumah kedua di Kota Sorong.

Tapi tetap saja, kata dia, hidup di kampungnya lebih baik. "Sayur di kebun tinggal ambil. Di kota kan semua harus beli,” katanya.

Rumah yang ditinggali Adelia juga menampung keluarga-keluarga lainnya yang mengungsi. Kebutuhan hidup sehari-hari mengandalkan uang pensiunan salah satu keluarga, termasuk dari suami Adelia yang saat ini berstatus sebagai guru.

“Sebenarnya tidak cukup, tapi dicukup-cukupi, karena keadaan toh. Habis kita ke sini dengan mama yang sakit,” kata Adelia.

“Rindu parah mau pulang, mau lihat kampung, lihat rumah. [Tapi] masyarakat juga takut, kalau pulang ke sana takut ada juga, kejadian baru atau bagaimana. Tiba-tiba ada mungkin aparat masuk lagi, ulang, masyarakat sudah trauma yang lari-lari, jadi mendingan tinggal di tempat pengungsi,“ lanjut Adelia.

Perlu jaminan keamanan

Sejauh ini belum diketahui secara pasti jumlah pengungsi menyusul penyerangan Posramil Kisor Distrik Aifat Selatan. Namun, pada awal-awal peristiwa ini terjadi, Koalisi Kemanusiaan Maybrat memperkirakan jumlah pengungsi mencapai lebih dari 2.000 yang berasal dari 18 kampung.

Para pengungsi tersebar ke kampung-kampung tetangga, termasuk di Kabupaten Sorong dan Kota Sorong.

Seiring berjalan waktu, sebagian pengungsi sudah kembali ke rumah masing-masing. Pemkab Maybrat sempat mengeluarkan surat pemberitahuan yang menyatakan, “Stabilitas keamanan di Kabupaten Maybrat telah dikendalikan pihak TNI dan Kepolisian.”

Selain itu, TNI juga telah melakukan penjemputan terhadap ratusan pengungsi untuk kembali ke rumah masing-masing.

“[Distrik] Aifat Selatan itu rata-rata sudah kembali, dari Kisor dan sekitarnya. Aifat Timur Raya itu belum,” kata pimpinan Koalisi Kemanusiaan Maybrat, Bernard Baru.

Menurutnya, para pengungsi saat ini menginginkan adanya pernyataan bersama antara TNI/Polri dan kelompok bersenjata OPM untuk menjamin keamanan pengungsi ketika mereka kembali ke rumah masing-masing.

“Dari pihak gereja mediasi, supaya ini ada hitam di atas putih, tidak ada serangan,” kata Bernard Baru.

Pemuka agama dari Sekretariat, Keadilan dan Perdamaian Keutuhan Cipta Ordo Santo Agustinus juga mengatakan para pengungsi belum bisa kembali ke rumahnya karena kondisi bangunan, kebun dan ternaknya rusak. Kata dia, pemerintah perlu turun tangan untuk mengatasi hal ini, termasuk memberi bantuan pangan dalam periode tertentu.

“Kalau pemerintah bilang kembali, berarti penanganannya harus betul-betul terencana, terukur,” kata Bernard Baru.

Bisa semakin memburuk

Berdasarkan laporan koalisi yang tak bisa dikonfirmasi BBC, setidaknya terdapat tiga anak pengungsi yang meninggal karena gizi buruk dalam beberapa bulan terakhir.

“Kalau seandainya tidak ada cepat penangan bantuan dan sebagainya, ada beberapa kemungkinan lebih besar. Lebih fatal lagi kayak kelaparan, gizi buruk, konflik di Sorong ke kriminal dan sebagainya,” kata Bernard Baru.

Di tengah perayaan HUT RI ke-77

Keluh kesah dari para pengungsi di Kabupaten Maybrat ini disuarakan di tengah perayaan HUT RI ke-77, dan menjelang satu tahun mereka berada di pengungsian.

Dalam pidato kenegaraan, Presiden Joko Widodo tak menyinggung secara rinci mengenai persoalan di Papua, akan tetapi menekankan "Pemenuhan hak sipil dan praktik demokrasi, hak politik perempuan dan kelompok marjinal, harus terus kita jamin.“

Presiden juga menyebutkan, "Keamanan, ketertiban sosial, dan stabilitas politik adalah kunci. Rasa aman dan rasa keadilan harus dijamin oleh negara, khususnya oleh aparat hukum dan lembaga peradilan.“

Namun, bagi pengungsi Lamberti Faan, perayaan ulang tahun kemerdekaan Indonesia ke-77 kali ini, "Tidak ada perhatian khusus negara ini untuk kami, masyarakat sipil.“

"Kami ini manusia juga, kami warga negara Indonesia yang harus diperhatikan,“ kata Lamberti.

'Perang jalan terus‘

Namun, konflik bersenjata di Papua terus berlanjut.

Sejumlah media mewartakan baku tembak jelang HUT RI ke-77 di Intan Jaya, Papua, Selasa (16/08). Menurut laporan kepolisian terjadi kontak senjata antara kelompok bersenjata OPM—yang disebut pemerintah Indonesia sebagai Kelompok Kriminal Bersenjata—dengan aparat keamanan.

Kontak senjata ini diikuti dengan pembakaran bangunan dan rumah penduduk. "Yang terbakar itu satu gedung barak Dinas Pemuda dan Olahraga. Untuk pembakaran honai, kita sedang data," kata Direktur Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah (Polda) Papua, Kombes Faizal Ramadhani sebagaimana dikutip media di Indonesia.

Juru bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-OPM, Sebby Sambom mengatakan pihaknya "susah untuk tawar menawar“. "Kalau gencatan senjata tak mungkin, karena ini kan konflik bersenjata untuk menuntut hak kemerdekaan politik,“ katanya.

"Pemerintah Indonesia harus membuka diri, presiden Jakarta harus buka dialog, karena perang akan jalan terus,“ tambah Sebby.

BBC telah menghubungi pelbagai pihak mulai dari Istana, Gubernur Papua Barat, dan TNI. Namun, sampai berita ini diturunkan, belum ada yang merespons.

Sementara itu, sebelumnya Menkopolhukam Mahfud MD mengatakan pemerintah Indonesia akan melakukan pendekatan “kesejahteraan”.

Pengerahan TNI/Polri tidak dimaksudkan untuk tujuan operasi militer atau pendekatan kekerasan terhadap masyarakat, kecuali terhadap kelompok kriminal bersenjata pro-kemerdekaan Papua.

Baca Juga:

Para pengungsi di Bumi Cendrawasih, bukan hanya dari Kabupaten Maybrat, Papua Barat. Setidaknya ribuan pengungsi dari Intan Jaya, dan Kabupaten Nduga juga masih menatap masa depan yang belum jelas atas konflik bersenjata yang terus berlanjut.

“Kami punya anak-anak harus sekolah, seperti warga negara Indonesia yang lain. Harus mendapat pendidikan yang baik, pelayanan kesehatan, dan ekonomi,“ kata Lamberti.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kontak Tembak di Nabire, TNI-Polri Kuasai Markas Aibon Kogoya dan Sita 561 Butir Amunisi!

Kontak Tembak di Nabire, TNI-Polri Kuasai Markas Aibon Kogoya dan Sita 561 Butir Amunisi!

News | Selasa, 03 Maret 2026 | 12:18 WIB

Terjebak Tiga Hari di Tengah Ancaman OPM, 18 Karyawan Freeport Dievakuasi TNI

Terjebak Tiga Hari di Tengah Ancaman OPM, 18 Karyawan Freeport Dievakuasi TNI

News | Senin, 12 Januari 2026 | 14:25 WIB

OPM Serang TNI di Papua Barat: Praka Amin Gugur, Senjata Dirampas, Kodam Sumpah Kejar Pelaku

OPM Serang TNI di Papua Barat: Praka Amin Gugur, Senjata Dirampas, Kodam Sumpah Kejar Pelaku

News | Minggu, 12 Oktober 2025 | 14:35 WIB

Satgas Damai Cartenz Ungkap Tiga Sumber Senjata dan Amunisi OPM, Salah Satunya dari Aparat!

Satgas Damai Cartenz Ungkap Tiga Sumber Senjata dan Amunisi OPM, Salah Satunya dari Aparat!

News | Rabu, 16 Juli 2025 | 17:26 WIB

OPM Bakar Gereja dan Rumah Bupati Puncak Papua, Netizen Kompak Colek Gibran: Kapan ke Sana?

OPM Bakar Gereja dan Rumah Bupati Puncak Papua, Netizen Kompak Colek Gibran: Kapan ke Sana?

News | Rabu, 09 Juli 2025 | 13:30 WIB

Bukan 6, Korban Guru Tewas Akibat Serangan OPM di Yahukimo 1 Orang

Bukan 6, Korban Guru Tewas Akibat Serangan OPM di Yahukimo 1 Orang

News | Minggu, 23 Maret 2025 | 19:42 WIB

Kecewa Berat, Selandia Baru Sebut Tudingan Suap Pembebasan Pilot Susi Air Sebagai "Aib"

Kecewa Berat, Selandia Baru Sebut Tudingan Suap Pembebasan Pilot Susi Air Sebagai "Aib"

News | Selasa, 24 September 2024 | 12:42 WIB

1,5 Tahun dalam Bayang-Bayang OPM: Cerita Mengharukan Phillip Mark Mehrtens

1,5 Tahun dalam Bayang-Bayang OPM: Cerita Mengharukan Phillip Mark Mehrtens

Video | Selasa, 24 September 2024 | 12:05 WIB

Baku Tembak Dengan TNI Di Kampung Karubate, 3 Anggota OPM Tewas

Baku Tembak Dengan TNI Di Kampung Karubate, 3 Anggota OPM Tewas

News | Rabu, 17 Juli 2024 | 18:13 WIB

Ada Lembaran Jimat Di Markas OPM, Saat Penggerebekan TNI Di Hutan Maybrat

Ada Lembaran Jimat Di Markas OPM, Saat Penggerebekan TNI Di Hutan Maybrat

News | Minggu, 23 Juni 2024 | 19:16 WIB

Terkini

Teheran Berduka! Presiden Iran: Serangan Licik Israel Tewaskan Esmaeil Khatib

Teheran Berduka! Presiden Iran: Serangan Licik Israel Tewaskan Esmaeil Khatib

News | Kamis, 19 Maret 2026 | 01:13 WIB

Pemerintah Siapkan Jalan Tol Fungsional dan One Way Antisipasi Lonjakan Pemudik, Ini Rinciannya

Pemerintah Siapkan Jalan Tol Fungsional dan One Way Antisipasi Lonjakan Pemudik, Ini Rinciannya

News | Rabu, 18 Maret 2026 | 23:51 WIB

Guru Besar Trisakti Nilai Penanganan Kasus Andrie Yunus Bukti Negara Tak Pandang Bulu

Guru Besar Trisakti Nilai Penanganan Kasus Andrie Yunus Bukti Negara Tak Pandang Bulu

News | Rabu, 18 Maret 2026 | 23:19 WIB

Hilal Tak Terlihat, Arab Saudi Tetapkan Idul Fitri 2026 Jatuh pada 20 Maret

Hilal Tak Terlihat, Arab Saudi Tetapkan Idul Fitri 2026 Jatuh pada 20 Maret

News | Rabu, 18 Maret 2026 | 22:44 WIB

Dugaan Operasi Mossad di Dalam Iran! Mata-mata Israel Ancam Seorang Komandan Militer

Dugaan Operasi Mossad di Dalam Iran! Mata-mata Israel Ancam Seorang Komandan Militer

News | Rabu, 18 Maret 2026 | 22:36 WIB

Diserang Rudal Iran? Kapal Induk USS Gerald Ford Kabur dari Medan Tempur, 200 Pelaut Jadi Korban

Diserang Rudal Iran? Kapal Induk USS Gerald Ford Kabur dari Medan Tempur, 200 Pelaut Jadi Korban

News | Rabu, 18 Maret 2026 | 22:30 WIB

FSPI Apresiasi Langkah Cepat TNI Ungkap Pelaku Penyiraman Air Keras Andrie Yunus

FSPI Apresiasi Langkah Cepat TNI Ungkap Pelaku Penyiraman Air Keras Andrie Yunus

News | Rabu, 18 Maret 2026 | 22:30 WIB

Perang Besar di Depan Mata? AS Gelontorkan Rp3000 T Percepat Pembangunan Perisai Anti Rudal

Perang Besar di Depan Mata? AS Gelontorkan Rp3000 T Percepat Pembangunan Perisai Anti Rudal

News | Rabu, 18 Maret 2026 | 22:01 WIB

Dentuman di Rakaat ke-16: Fakta-Fakta Ledakan Misterius yang Mengguncang Masjid Raya Pesona Jember

Dentuman di Rakaat ke-16: Fakta-Fakta Ledakan Misterius yang Mengguncang Masjid Raya Pesona Jember

News | Rabu, 18 Maret 2026 | 21:57 WIB

Kremlin Bantah Rusia Bantu Drone Iran Serang Pasukan Amerika Serikat

Kremlin Bantah Rusia Bantu Drone Iran Serang Pasukan Amerika Serikat

News | Rabu, 18 Maret 2026 | 21:49 WIB