Perang Ukraina: "Saya Disiksa karena Menolak Mengajarkan Bahasa Rusia"

Siswanto, BBC

Selasa, 27 September 2022 | 09:47 WIB
Perang Ukraina: "Saya Disiksa karena Menolak Mengajarkan Bahasa Rusia"
BBC

Suara.com - Selama dua pekan terakhir, militer Ukraina mengklaim berhasil merebut kembali wilayah seluas 6.000 kilometer persegi sekaligus membebaskan penduduk yang sempat dikuasai Rusia selama lebih dari enam bulan.

Kepada BBC, para guru di wilayah-wilayah tersebut menggambarkan adanya upaya sistematis untuk menghapus paksa kurikulum Ukraina, termasuk dengan cara memukul dan memberhentikan tenaga pendidik dan menggantikannya dengan agenda Rusia.

Dalam banyak kasus pendudukan, salah satu prioritas utama bagi pasukan pendudukan adalah mengubah pola pikir generasi muda.

Baca juga:

Ketika mengunjungi kota-kota yang baru dibebaskan di Balakliya dan Vovchansk, kawasan Kharkiv, Ukraina timur, BBC berbicara dengan sejumlah guru setempat dan staf.

Mereka semua menceritakan adanya pola yang sama tentang asimilasi paksa.

Pertama terkait dengan penghancuran: mulai dari buku sekolah, bendera Ukraina, hingga buku karya siswa - papan yang menampilkan penulis terkenal Ukraina atau ikon-ikon kebudayaan. Tak berhenti sampai di situ, guru juga mengalami keterbelengguan.

Pembangkangan

Liliya Sirous adalah seorang kepala sekolah. Oleh pihak Rusia, dia sempat diserahi daftar lebih dari 2.200 judul buku yang harus dimusnahkan. Alih-alih menghancurkannya, dia justru menyembunyikan buku-buku itu. Kini dia berdiri dengan bangga di tengah hamparan buku teks Ukraina.

Meskipun sekolah-sekolah di wilayah yang diduduki Rusia mengalami pergantian kurikulum ke kurikulum baru yang mengandung materi sejarah kesusasteraan dan bahasa Rusia, perpustakaan rahasia Liliya tetap tak berubah.

baca juga

Tetapi sekarang ketika menatap ribuan buku-buku yang ditumpuk rapi dan diikat dengan pita, dia menangis.

"Tetangga saya mengatakan: "Mengapa Anda harus bersusah payah seperti ini? Rusia sudah merebut wilayah ini untuk selamanya."

Namun Liliya mengaku tidak pernah putus asa.

Bekerja sama atau ditangkap

"Pada awal masa sekolah, kami diperintahkan untuk mengajarkan kepada murid-murid bahwa Ukraina adalah wilayah Rusia, yang dikenal dengan nama Malorussia" kata Inna Mandryka, wakil direktur konsorsium lima sekolah di Balakliya.

'Malorussia,' berarti 'Rusia kecil.'

Baca juga:

Inna merupakan salah seorang guru yang menolak bekerja sama.

Tapi setelah diberhentikan dari jabatannya, dia terus bekerja setiap malam di lantai bawah diterangi lilin.

Ketika suara gempuran terus terdengar, dia menyusun silabus untuk pembelajaran daring. Kapan saja jaringan internet pulih, dia mengirimkan silabus itu kepada guru-guru yang tersebar di Ukraina dan Eropa.

Secara keseluruhan, jaringan pendukung Inna berhasil membantu hampir 100 siswa selama enam bulan terakhir. Mereka tersebar di daerah-daerah yang diduduki Rusia.

Kendati demikian, hanya berjarak sekitar 100 kilometer di Desa Ivanivka, seorang kepala sekolah bernama Lidiya Tina, mempunyai pengalaman lain. Tenaga pendidik profesional dengan pengalaman lebih dari 40 tahun itu mengatakan dia ditahan selama 19 hari setelah menolak mendirikan sekolah Rusia.

"Saat saya mencoba melarikan diri dari Kharkiv, saya ditahan. Mobil tiba-tiba menghadang, dan tiga pria bertopeng dengan menenteng senapan serbu keluar dari mobil. Mereka menodongkan senjata ke leher saya dan menyobek ijazah guru saya di depan mata," ungkap Lidiya.

Perempuan berusia 60 tahun itu mengatakan kepalanya ditutup sebelum ditempatkan di ruang isolasi selama lima hari.

"Jiwa saya remuk," kata Lidiya. "Saya pikir, tak seorang pun tahu di mana saya berada."

Ditambahkan Lidiya bahwa dia dipukul dan dipaksa berlutut dan diberi kesan dia akan dieksekusi.

"Mereka mencoba memaksa saya menghafal syair lagu kebangsaan Rusia, tapi saya menolak."

Pihak berwenang Rusia tidak membalas permintaan BBC untuk mengomentari klaim Lidiya.

Tekanan orang tua

Tekanan tidak hanya diarahkan kepada kalangan guru, melainkan juga orang tua murid.

"Orang tua diancam jika mereka tidak mengirimkan kembali anak-anak ke sekolah, mereka akan dibawa ke panti anak yatim," kata direktur konsorsium 19 sekolah di wilayah Balakiya, Svitlana Shvid.

Sekitar 100 kilometer dari Balakiya, di daerah Vovchansk, sejumlah guru mengatakan kepada BBC bahwa penjaga keamanan Rusia ditempatkan di ruang kelas ketika murid sedang belajar.

BBC meminta tanggapan dari pihak berwenang Rusia tentang dugaan ancaman terhadap kalangan orang tua murid, namun mereka tidak memberikan jawaban.

Dibebaskan

Dua minggu sejak kota dan rumah mereka dibebaskan, anak-anak muda akhirnya bisa bepergian ke luar dan bermain bersama teman-teman.

Di sebuah lapangan basket di kota Balakliya, Daria, 14, bermain dengan teman-temannya. Dia meminta ibunya untuk tidak mengirimkannya ke sekolah ketika tentara Rusia tiba di kota itu.

"Saya menghabiskan waktu berbulan-bulan di ruang bawah tanah setelah tentara Rusia menggempur rumah kami dan melempar granat ke halaman belakang."

Sahabatnya, Milena yang juga merasa lega bisa menghidup udara segar, menuturkan apa yang penting baginya.

"Saat ini, kami hanya ingin bertahan hidup," ujarnya. "Saya tidak mempunyai mimpi yang lain."

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

In This Economy, Jadi Tentara Bayaran Rusia Diimingi Gaji Selangit Pulang Tinggal Nama

In This Economy, Jadi Tentara Bayaran Rusia Diimingi Gaji Selangit Pulang Tinggal Nama

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:00 WIB

Kronologi WNI Eks Sopir Taksi Jadi Tentara Bayaran Rusia, Baru 10 Hari Latihan Tewas di Ukraina

Kronologi WNI Eks Sopir Taksi Jadi Tentara Bayaran Rusia, Baru 10 Hari Latihan Tewas di Ukraina

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 20:00 WIB

Nasib Tragis WNI Muhammad Taufiq Eks Sopir Taksi yang Jadi Tentara Bayaran Rusia

Nasib Tragis WNI Muhammad Taufiq Eks Sopir Taksi yang Jadi Tentara Bayaran Rusia

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 19:30 WIB

Eropa di Ambang Konflik Nuklir? Moskow Murka Atas Aksi Provokasi Paris

Eropa di Ambang Konflik Nuklir? Moskow Murka Atas Aksi Provokasi Paris

News | Jum'at, 09 Oktober 2026 | 11:18 WIB

Rendi Apriyanto Jadi Tentara Bayaran Rusia Tergiur Gaji Rp600 Juta, Mau Umrohkan Orangtua

Rendi Apriyanto Jadi Tentara Bayaran Rusia Tergiur Gaji Rp600 Juta, Mau Umrohkan Orangtua

News | Kamis, 01 Oktober 2026 | 10:53 WIB

Orangtua WNI Tentara Bayaran Rusia: Rendi Apriyanto Tewas Tak Bisa Hindari Bom Drone Ukraina

Orangtua WNI Tentara Bayaran Rusia: Rendi Apriyanto Tewas Tak Bisa Hindari Bom Drone Ukraina

News | Rabu, 30 September 2026 | 16:10 WIB

Volodymyr Zelensky Hampir Terbunuh Drone Rusia

Volodymyr Zelensky Hampir Terbunuh Drone Rusia

News | Kamis, 10 September 2026 | 11:09 WIB

WNI Direkrut Jadi Tentara Rusia: Modus, Jalur Rekrutmen hingga Risikonya

WNI Direkrut Jadi Tentara Rusia: Modus, Jalur Rekrutmen hingga Risikonya

News | Selasa, 08 September 2026 | 15:14 WIB

Perang AS-Iran Bikin Minyak Dunia Memanas, Harga Tembus US$95/Barel

Perang AS-Iran Bikin Minyak Dunia Memanas, Harga Tembus US$95/Barel

Bisnis | Jum'at, 04 September 2026 | 08:51 WIB

Pemerintah Telusuri 8 WNI Diduga Direkrut Jadi Tentara Rusia, Korban Penipuan atau Sukarela?

Pemerintah Telusuri 8 WNI Diduga Direkrut Jadi Tentara Rusia, Korban Penipuan atau Sukarela?

News | Rabu, 02 September 2026 | 11:03 WIB

Terkini

Satu Pelaku Curas di Bekasi Ditangkap, Polisi Dalami Keterkaitan dengan 12 Kasus Lain

Satu Pelaku Curas di Bekasi Ditangkap, Polisi Dalami Keterkaitan dengan 12 Kasus Lain

Jabar | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 23:16 WIB

Gandeng 43 Kampus Muhammadiyah, PERADI Profesional Perkuat Pendidikan dan Integritas Advokat

Gandeng 43 Kampus Muhammadiyah, PERADI Profesional Perkuat Pendidikan dan Integritas Advokat

Jogja | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 23:04 WIB

Jalan Ambles Banjarwangi-Singajaya Sepanjang 15 Meter, Polisi Pasang Garis Pengaman

Jalan Ambles Banjarwangi-Singajaya Sepanjang 15 Meter, Polisi Pasang Garis Pengaman

Jabar | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:59 WIB

Kemasan Bekas Jangan Langsung Dibuang, Mulai Biasakan Mengelolanya dengan Benar

Kemasan Bekas Jangan Langsung Dibuang, Mulai Biasakan Mengelolanya dengan Benar

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:25 WIB

Dear Pemain Keturunan Indonesia di Jerman dan Spanyol, Siap-siap Dipanggil PSSI

Dear Pemain Keturunan Indonesia di Jerman dan Spanyol, Siap-siap Dipanggil PSSI

Bola | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:00 WIB

Tafsir Kerugian Negara Bikin Investor Waswas, Direksi BUMN Bisa Jadi Korban

Tafsir Kerugian Negara Bikin Investor Waswas, Direksi BUMN Bisa Jadi Korban

Bisnis | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:59 WIB

Tak Mau Turun Kasta, BEI Pede Indonesia Selamat dari Ancaman MSCI

Tak Mau Turun Kasta, BEI Pede Indonesia Selamat dari Ancaman MSCI

Bisnis | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:35 WIB

Ramai Dikritik Soal Acara Deklarasi Sumpah Pemuda, Raffi Ahmad Buka Suara

Ramai Dikritik Soal Acara Deklarasi Sumpah Pemuda, Raffi Ahmad Buka Suara

Video | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:30 WIB

In This Economy, Jadi Tentara Bayaran Rusia Diimingi Gaji Selangit Pulang Tinggal Nama

In This Economy, Jadi Tentara Bayaran Rusia Diimingi Gaji Selangit Pulang Tinggal Nama

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:00 WIB

Ketika Nonton Film Bareng Jadi Cara Baru Membangun Kedekatan di Dunia Kerja

Ketika Nonton Film Bareng Jadi Cara Baru Membangun Kedekatan di Dunia Kerja

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 20:47 WIB

×