Polisi yang Diselidiki atas Tragedi Itaewon Ditemukan Tewas

Diana Mariska | Suara.com

Jum'at, 11 November 2022 | 18:23 WIB
Polisi yang Diselidiki atas Tragedi Itaewon Ditemukan Tewas
Bunga dan pesan dari pelayat terlihat di monumen peringatan darurat untuk para korban Tragedi Itaewon di luar stasiun kereta bawah tanah di distrik Itaewon, Seoul, Korea Selatan, Kamis (3/11/2022). [Jung Yeon-je / AFP]

Suara.com - Seorang petugas polisi yang tengah diselidiki atas tragedi Itaewon di Seoul ditemukan tidak bernyawa di rumahnya pada Jumat (11/11).

Kantor berita asal Korea Selatan, Yonhap, mengabarkan bahwa petugas intelijen (55) dengan marga Jeong ditemukan tewas oleh seorang anggota keluarga pada pukul 12.45 waktu setempat di rumahnya, di sebelah utara kota Seoul.

Ia merupakan bagian dari Kantor Polisi Yongsan, yang sedang diselidki atas kecurigaan bahwa mereka tidak segera merespons kerumunan massa dalam perayaan Halloween di distrik Itaewon pada 29 Oktober, yang menewaskan 156 orang.

Jeong dicurigai memerintahkan penghapusan laporan intelijen internal yang berisi peringatan mengenai adanya potensi bahaya di tengah kerumunan massa di Itaewon, dalam upaya untuk menutupi lambatnya respons polisi.

Tuntutan yang diajukan terhadap Jeong adalah penyalahgunaan wewenang, penghancuran barang bukti, dan kelalaian profesional yang mengakibatkan kematian

Jeong dilaporkan mengirim pesan seluler yang mengisyaratkan bunuh diri kepada beberapa rekannya pada sehari sebelumnya.

Pihak kepolisian kini masih menyelidiki kondisi kematiannya.

Dalam tragedi Halloween Itaewon, kepolisian menghadapi kritik keras dari publik terkait respons mereka atas kejadian itu. Menurut laporan, lembaga tersebut hanya menerjunkan sebanyak 137 personel meskipun memperkirakan sebanyak 100.000 orang akan berkumpul di daerah itu.

Awal bulan ini, transkrip dari beberapa panggilan darurat yang dibuat beberapa jam sebelum kejadian menunjukkan bahwa masyarakat telah memperingatkan polisi mengenai adanya potensi kerumunan dan meminta upaya intervensi agar segera dilakukan.

Sebanyak 11 laporan pertama masuk sekitar empat jam sebelum tragedi, di mana salah satu pelapor mengatakan dirinya merasa takut “tergencet hingga mati” dan meminta polisi untuk mengendalikan kerumunan.

Sebagai respons, Presiden Yoon Suk Yeol telah menyampaikan permintaan maaf dan berjanji akan mengusut kasus ini hingga tuntas.

“Saya tidak berani membandingkan diri saya dengan para orang tua yang kehilangan putra dan putri mereka, tetapi sebagai presiden yang seharusnya melindungi kehidupan dan keselamatan rakyat, hati saya hancur,” ujarnya pada Senin (7/11).

“Secara khusus, reformasi ekstensif diperlukan dalam pekerjaan kepolisian, yang krusial untuk mengantisipasi bahaya dan mencegah kecelakaan, guna melindungi keselamatan masyarakat,” kata Yoon.

Sebelumnya, Komisaris jenderal Badan Kepolisian Nasional Korsel, Yoon Hee Keun, juga mengakui bahwa para petugas tidak menangani panggilan darurat secara efektif sebelum tragedi itu terjadi.

"Saya merasakan tanggung jawab yang berat sebagai kepala salah satu kantor pemerintah terkait," kata Yoon dalam konferensi pers pada Selasa (1/11). "Polisi akan melakukan yang terbaik untuk mencegah tragedi seperti ini terulang."

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Elite PDIP Langsung Beri Pembelaan Usai Puan Panen Kritik Setelah Datangi Lokasi Tragedi Itaewon

Elite PDIP Langsung Beri Pembelaan Usai Puan Panen Kritik Setelah Datangi Lokasi Tragedi Itaewon

News | Jum'at, 11 November 2022 | 18:09 WIB

Kunjungan Puan Maharani ke Tragedi Itaewon Dinilai Tak Memiliki Sense of Crisis Terhadap Korban Tragedi Kanjuruhan

Kunjungan Puan Maharani ke Tragedi Itaewon Dinilai Tak Memiliki Sense of Crisis Terhadap Korban Tragedi Kanjuruhan

Malang | Jum'at, 11 November 2022 | 17:38 WIB

Kunjungi Itaewon, Puan Maharani Ditanya Kemana Saat Tragedi Kanjuruhan

Kunjungi Itaewon, Puan Maharani Ditanya Kemana Saat Tragedi Kanjuruhan

| Jum'at, 11 November 2022 | 15:24 WIB

'Ibu Belum Mendatangi Kanjuruhan', Polemik Puan dan Megawati Nyekar ke Lokasi Tragedi Itaewon

'Ibu Belum Mendatangi Kanjuruhan', Polemik Puan dan Megawati Nyekar ke Lokasi Tragedi Itaewon

News | Jum'at, 11 November 2022 | 14:58 WIB

Setelah Tragedi Itaewon, Pemerintah Korea Selatan Janjikan Reformasi Besar di Kepolisian dan Sistem Keamanan Nasional

Setelah Tragedi Itaewon, Pemerintah Korea Selatan Janjikan Reformasi Besar di Kepolisian dan Sistem Keamanan Nasional

| Jum'at, 11 November 2022 | 14:35 WIB

Puan Maharani ke Itaewon, The Panturas: Kami Kudu Jadi Anggota DPR?

Puan Maharani ke Itaewon, The Panturas: Kami Kudu Jadi Anggota DPR?

| Jum'at, 11 November 2022 | 14:18 WIB

Terkini

Ada Kasus Pencabulan Anak di Balik Kasus Narkoba Etomidate WNA China

Ada Kasus Pencabulan Anak di Balik Kasus Narkoba Etomidate WNA China

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 21:50 WIB

Pemerintah Bahas Pengelolaan Kepegawaian dan Keuangan Daerah

Pemerintah Bahas Pengelolaan Kepegawaian dan Keuangan Daerah

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 21:38 WIB

Wamendagri Bima: Sinkronisasi Program Pusat dan Daerah Penting dalam Penyusunan RKP

Wamendagri Bima: Sinkronisasi Program Pusat dan Daerah Penting dalam Penyusunan RKP

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 21:31 WIB

Geruduk DPRD DKI, Aktivis Endus 'Bau Busuk' Dugaan Korupsi Proyek RDF Rorotan Rp 1,3 Triliun

Geruduk DPRD DKI, Aktivis Endus 'Bau Busuk' Dugaan Korupsi Proyek RDF Rorotan Rp 1,3 Triliun

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 21:20 WIB

Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara

Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 21:01 WIB

Anak-anak Kena ISPA hingga Pneumonia, Warga Terdampak RDF Rorotan Siapkan Gugatan Class Action

Anak-anak Kena ISPA hingga Pneumonia, Warga Terdampak RDF Rorotan Siapkan Gugatan Class Action

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 21:00 WIB

Kriminolog Soroti Penangkapan 8 Teroris Poso: Sel Radikal Masih Aktif Beregenerasi

Kriminolog Soroti Penangkapan 8 Teroris Poso: Sel Radikal Masih Aktif Beregenerasi

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 20:42 WIB

Endus Bau Amis Korupsi RDF Rorotan, Massa Geruduk Gedung DPRD DKI: Pansus Jangan Mati Suri!

Endus Bau Amis Korupsi RDF Rorotan, Massa Geruduk Gedung DPRD DKI: Pansus Jangan Mati Suri!

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 20:33 WIB

Teruskan Perjuangan Kakak, Menkes Beri Beasiswa Pendidikan Dokter untuk Adik Mendiang Myta Aprilia

Teruskan Perjuangan Kakak, Menkes Beri Beasiswa Pendidikan Dokter untuk Adik Mendiang Myta Aprilia

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 20:30 WIB

UHN dan CISDI Gandeng Harvard Medical School, Bangun Pusat Riset Kesehatan Primer di RI

UHN dan CISDI Gandeng Harvard Medical School, Bangun Pusat Riset Kesehatan Primer di RI

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 20:26 WIB