Nama Direktur Utama Bulog Budi Waseso digadang masuk bursa menteri jika Presiden Joko Widodo jadi melakukan reshuffle kabinet. Budi Waseso digadang bisa masuk menggantikan Syahrul Yasin Limpo sebagai Menteri Pertanian.
Diketahui, masa jabatan Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso atau biasa disapa Buwas hanya tinggal dua bulan lagi. Buwas menyebut bahwa dirinya tidak memiliki rencana setelah masa jabatannya berakhir.
Selain itu, isu dirinya masuk dalam bursa Menteri Pertanian menggantikan Syahrul Yasin Limpo pun mencuat. Saat ditanya akan menjabat sebagai Menteri Pertanian, Buwas tidak ingin memberikan komentar lebih jauh dikarenakan tidak ada pembicaraan soal jabatan baru tersebut.
Lebih lanjut, Budi menjelaskan bahwa saat ini dirinya fokus untuk melaksanakan tugas yang hanya tersisa dua bulan dan tidak ingin berangan-angan ditugaskan untuk jabatan baru.
Lantas, seperti apakah profil dan rekam jejak Budi Waseso yang digadang-gadang gantikan SYL jadi Mentan tersebut?
Rekam Jejak Budi Waseso
Melansir dari berbagai sumber, Budi Waseso menjabat sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) sejak tanggal 8 September 2015, pada era kepemimpinan Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Badrodin Haiti.
Ia dilantik menjadi Kepala BNN menggantikan Komisaris Jenderal Anang Iskandar yang telah menahkodai lembaga anti-narkotika itu sejak tahun 2012.
Budi Waseso yang lebih akrab disapa dengan Buwas tersebut bertukar posisi dengan Anang. Anang menempati posisi yang sebelumnya diisi oleh Budi, yaitu Kepala badan Reserse Kriminal Polri.
Buwas yang merupakan jenderal bintang tiga ini diketahui mengawali karirnya setelah menyelesaikan pendidikan di Akademi Kepolisian pada 1984.
Menantu bekas Deputi Kepala Polisi Republik Indonesia, Jenderal Pamudji tersebut juga diketahui pernah menjabat sebagai Kepala Kepolisian Resor Barito Utara, Kalimantan Tengah, Kepala Kepolisian Resor Kota Palangkaraya 2004, dan Kaden Opsnal II Puspaminal Divisi Profesi dan Pengamanan Polri pada tahun 2007 dengan pangkat Komisaris Besar.
Kemudian, satu tahun berselang, Buwas pindah posisi menjadi Kepala Bidang Profesi dan Pengamanan Kepolisian Daerah Jawa Tengah.
Diketahui, karir Buwas tersebut melambung tinggi, ia pun kemudian ditarik ke Markas Besar Polri pada tahun 2009.
Di Mabes, ia menjabat Kepala Bidang Litpers Pusprovos Divisi Profesi dan Pengamanan Polri, sebelum menjabat sebagai Kepala Pusat Pembinaan Internal Polri dengan pangkat Brigadir Jenderal pada 2010 hingga 20112.
Buwas juga pernah memulangkan Brimob Polda Gorontalo, Norman Kamaru dikarenakan tampil di stasiun televisi tanpa izin terlebih dahulu kepada atasan pada bulan Juli 2011.
Pada saat itu, Norman Kamaru sangat digandrungi masyarakat setelah videonya berjoget dan menirukan lagu India beredar di YouTube.
Pada bulan Juli 2012, Budi Waseso diangkat menjadi Kepala Polda Gorontalo menggantikan Brigadir Jenderal Irawan Dahlan. Setahun dua bulan menjabat Kapolda Gorontalo, Buwas dimutasi ke Mabes Polri.
Pada September 2013, ia naik pangkat menjadi inspektur jenderal dan menjabat sebagai widyaiswara utama.
Pada tanggal 20 Januari 2015, Budi Waseso resmi menjabat sebagai Kepala Bareskrim menggantikan Komisaris Jenderal Suhardi Alius. Pada saat itu, acara serah-terima jabatan berlangsung tertutup bagi media.
Berselang beberapa bulan setelah dilantik menjadi Kepala Bareskrim, ia kemudian dipindahkan menjadi Kepala BNN pada pertengahan 2015 hingga masa pensiunnya.
Buwas juga diketahui pernah melontarkan pernyataan kontroversial dengan menyebut adanya pengkhianat di lingkup internal Polri pada saat KPK menjadikan calon Kepala Polri pada saat itu, Jenderal Budi Gunawan sebagai tersangka korupsi.
Selepas adanya gonjang ganjing tersebut, ia pun pernah menjadi salah satu calon Kapolri untuk menggantikan Budi Gunawan yang batal dilantik oleh Presiden Joko Widodo.
Pada tahun 2018, BUMN menunjuk Buwas sebagai direktur utama Bulog untuk menggantikan Djarot Kusumayakti.
Pada saat itu, Buwas masih menjabat sebagai Kepala BNN. Latar belakangnya sebagai penegak hukum akan berpengaruh pada kebijakan serta strategi yang akan diambil ke depannya.
Kontributor : Syifa Khoerunnisa