Kesenjangan Sosial, Buta Kemanusiaan Masyarakat Urban

Erick Tanjung | Muhammad Yasir | Suara.com

Jum'at, 03 Maret 2023 | 09:46 WIB
Kesenjangan Sosial, Buta Kemanusiaan Masyarakat Urban
Ilustrasi penganiayaan (Presisi.com)

Dugaan Utang Piutang

Terduga pelaku cukup dikenal warga sekitar tempat tinggalnya. Tetangganya, Paijo (70) mengungkap perangai terduga pelaku berinisial P yang juga tinggal di rumah kontrakan tersebut.

Pelaku dikenal sebagai sosok yang baik dan kerap ditemui ibadah di masjid. "Baik, kadang-kadang sholat di sini (masjid sekitar TKP). Makanya warga di sini kaget dengan kejadian ini," ujar Paijo saat ditemui SuaraBekaci.id, Selasa (28/02).

Sementara itu, ketua RT 011 Purwo Darmanto mengatakan bahwa pelaku telah tinggal di rumah kontrakan tersebut sejak 2019, dengan tinggal bersaama keluargnya.

Namun sejak delapan bulan terakhir hubungan keluarga P tidak harmonis dan bercerai dengan istrinya. "Mungkin sekitar delapan bulan yang lalu dia pisah dengan istrinya," ujar Purwo.

P sehari-hari dikenal bekerja sebagai buruh sebuah toko material bangunan. "Dia kerja di perusahaan yang jual beli besi di jalan Sultan Agung, informasi yang saya dapat itu," ucapnya.

Kekinian polisi menyelidiki lebih lanjut pembunuhan sadis ini. Publik dan keluarga korban masih menunggu hasil penyelidikan polisi, utamanya motif pelaku melakukan perbuatan keji tersebut. "Kami masih melakukan penyelidikan, pendalaman, nanti siapa pelakunya akan kami dapatkan. Apa motifnya masih dalam proses penyelidikan," ujar Ditreskrimum Polda Metro Jaya Kombes Hengki Haryadi.

Hengki belum bisa memastikan soal apakah motif perbuatan keji pelaku lantaran masalah utang piutang. "Masih didalami, kami masih mintai keterangan, baik terhadap keluarga korban ataupun keluarga yang lain, termasuk pemilik rumah kontrakan," tutur dia.

Masyarakat Tak Sehat

Berbagai cara dilakukan oleh pelaku pembunuhan untuk menutupi kejahatannya. Meski akhirnya kerap berakhir gagal. Seperti adagium tidak ada kejahatan yang sempurna. Sepanjang tiga tahun terakhir tercatat ada tiga kasus pembunuhan sadis di mana para pelaku menguburkan korbannya dengan cara dicor atau dikubur dalam ubin rumah.

Kasus pertama terjadi pada November 2020 lalu. Korban bernama Dedi dikubur dalam ubin di sebuah kontrakan di Jalan Kopral Daman, Sawangan, Depok, Jawa Barat usai dibunuh adik kandungnya sendiri bernama Juana. Terungkapnya kasus ini berawal dari kecurigaan pemilik kontrakan bernama Sukiswo (60). Ia saat itu mencurigai salah satu ubin dalam kontrakan yang sempat dihuni Dedi berbeda coraknya. 

Kasus kedua, terjadi pada Desember 2022. Berawal dari peristiwa satu keluarga keracunan di Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat, polisi mengungkap serangkaian peristiwa pembunuhan berantai yang dilakukan Wowon Erawan alias Aki (60) dan dua partner incrimenya Solihin alias Duloh (63) serta M. Dede Solehuddin (35). Total korban Aki Wowon Cs sejauh ini tercatat sebanyak sembilan orang. Sebagian besar korbannya dikubur oleh pelaku dalam ubin sekitar rumahnya di Cianjur, Jawa Barat. 

Terbaru kasus pembunuhan dua perempuan bernama Heni Purwaningsih (48) dan Yusi (45) di sebuah kontrakan kawasan Harapan Jaya, Bekasi Utara. Kedua jasad korban ditemukan dalam kondisi dicor dekat pada 28 Februari lalu. Motif kasus ini diduga dilatarbelakangi persoalan utang piutang.

Kriminolog Universitas Indonesia, Adrianus Meliala mengungkap kemungkinan mengapa para pelaku ini memilih cara mengubur korban dalam rumahnya untuk menutupi kejahatannya karena merasa telah menguasai tempat dan waktu atau locus dan tempus delicti. "Mereka bisa lakukan itu karena menguasai dua faktor sekaligus, yakni locus (tidak terburu-buru saat mengerjai korban termasuk mengubur) dan tempus (lokasi tempat kejadian perkara adalah rumah pelaku) di mana pelaku amat tahu situasinya," kata Adrianus kepada Suara.com, Kamis (2/3).

Adrianus tidak mengetahui pasti apakah pelaku terinspirasi oleh pelaku kejahatan lainnya dalam menggunakan cara ini. Namun dia menilai cara tersebut digunakan oleh pelaku karena dasar keyakinan tidak akan terungkap atau diketahui oleh orang lain. "Ada bagusnya jika penyidik atau peneliti kampus melakukan hal itu dengan cara meminta klarifikasi kepada pelaku yang masih hidup. Ada pula kemungkinan mereka tidak belajar dari kasus terdahulu, namun yakin bahwa orang yang dikubur itu berarti tidak akan terlihat atau ditemukan lagi. Jadi semacam ilusi," ungkap Adrianus. 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kapolri Akhirnya Ungkap Alasan Richard Eliezer Masih Bisa Jadi Anggota Polisi

Kapolri Akhirnya Ungkap Alasan Richard Eliezer Masih Bisa Jadi Anggota Polisi

| Kamis, 02 Maret 2023 | 15:08 WIB

Pembunuh Nenek Sidoarjo Mantan Istri Anggota Militer Austria untuk PBB Ditangkap

Pembunuh Nenek Sidoarjo Mantan Istri Anggota Militer Austria untuk PBB Ditangkap

Jatim | Kamis, 02 Maret 2023 | 12:57 WIB

Fakta Kasus Mutilasi Influencer Abby Choi yang Bikin Heboh Dunia

Fakta Kasus Mutilasi Influencer Abby Choi yang Bikin Heboh Dunia

Video | Kamis, 02 Maret 2023 | 11:00 WIB

Terkini

Menuju Pemilu 2029 yang Berbeda, Titi Anggraini Soroti Potensi Keragaman Calon Pemimpin Nasional

Menuju Pemilu 2029 yang Berbeda, Titi Anggraini Soroti Potensi Keragaman Calon Pemimpin Nasional

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 23:41 WIB

33 Tahun Tragedi Marsinah, Aksi Kamisan ke-907 Soroti Militerisasi

33 Tahun Tragedi Marsinah, Aksi Kamisan ke-907 Soroti Militerisasi

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 23:38 WIB

Hantavirus: Antara Risiko Global di MV Hondius dan Kesiagaan di Pintu Masuk Indonesia

Hantavirus: Antara Risiko Global di MV Hondius dan Kesiagaan di Pintu Masuk Indonesia

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 23:33 WIB

Jelaskan Istilah Mitra dengan Homeless Media, Bakom RI Beri Kronologi Pertemuan bersama INMF

Jelaskan Istilah Mitra dengan Homeless Media, Bakom RI Beri Kronologi Pertemuan bersama INMF

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 22:34 WIB

Kaesang Lantik Pengurus DPW PSI Papua Tengah, Nama Jokowi Diteriakkan

Kaesang Lantik Pengurus DPW PSI Papua Tengah, Nama Jokowi Diteriakkan

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 22:00 WIB

Ada Kasus Pencabulan Anak di Balik Kasus Narkoba Etomidate WNA China

Ada Kasus Pencabulan Anak di Balik Kasus Narkoba Etomidate WNA China

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 21:50 WIB

Pemerintah Bahas Pengelolaan Kepegawaian dan Keuangan Daerah

Pemerintah Bahas Pengelolaan Kepegawaian dan Keuangan Daerah

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 21:38 WIB

Wamendagri Bima: Sinkronisasi Program Pusat dan Daerah Penting dalam Penyusunan RKP

Wamendagri Bima: Sinkronisasi Program Pusat dan Daerah Penting dalam Penyusunan RKP

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 21:31 WIB

Geruduk DPRD DKI, Aktivis Endus 'Bau Busuk' Dugaan Korupsi Proyek RDF Rorotan Rp 1,3 Triliun

Geruduk DPRD DKI, Aktivis Endus 'Bau Busuk' Dugaan Korupsi Proyek RDF Rorotan Rp 1,3 Triliun

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 21:20 WIB

Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara

Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 21:01 WIB