Suara.com - Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri kembali mengungkapkan "nyanyian" soal para pegawai pajak yang akhir-akhir ini terlibat banyak masalah.
Nyanyian berbentuk sindiran keras ini disampaikan oleh Megawati saat menghadiri acara Haluan Pembangunan Bali Masa Depan, 100 Tahun Bali Era Baru, di Trans Resort Seminyak, Bali, Jumat (5/5/2023).
Kehadiran Megawati ini pun awalnya mencuri perhatian, hingga dirinya diberikan kesempatan untuk memberikan sepatah dua patah kata.
Selain mengucapkan terima kasih kepada penyelenggara, Megawati pun mulai mengungkapkan sindiran kerasnya terhadap kinerja dan kehidupan para pegawai pajak yang sebelumnya disebutnya sering bermewah-mewahan.
Tak hanya itu, Megawati pun sebelumnya pernah menyindir pegawai pajak saat kasus transaksi jumbo terungkap. Lalu, apa saja sindiran Megawati tersebut? Simak inilah selengkapnya.
Sebut pegawai pajak sering korupsi
Megawati pun awalnya membahas soal masalah perekonomian di Indonesia. Tak pelak, ia pun menyebut soal pegawai pajak yang sering terlibat kasus korupsi.
"Negara ini udah enak banget, sudah merdeka, tapi kok mereka (pegawai pajak) maunya enak aja korupsi. Saya bingung ya, siapa orang pajak yang ketangkap waktu itu? Nah Rafael (Alun)," ungkap LHKPN.
"Saya sampai ketawa, kita setiap hari disuruh daftar LHKPN, buat LHKPN biar tidak ada kecurigaan. Eh si Rafael muncul," tambahnya.
Sebut pegawai Kemenkeu 'keren'
Tak hanya itu, Megawati pun menyebut dirinya sudah mengetahui bahwa pekerjaan para pegawai pajak dan Kemenkeu merupakan lahan "basah". Ia pun tanpa ragu menyebut para pegawai pajak dan Kemenkeu keren-keren.
"Siapa sih yang enggak tau pajak, imigrasi, sama bea cukai? Dari dulu itu kan. Saya banyak belajar waktu jadi wakil presiden. Saya nanya, kalau lahan kering yang mana? Yang ini. Kalau yang basah yang mana ya? Ya itu imigrasi, pajak, bea cukai. Makanya banyak ya, keren-keren. Duitnya dari mana ya?" sindirnya.
Sempat pesimis soal birokrat di Indonesia
Pasca tertangkapnya Rafael Alun, Megawati sendiri pernah mengungkap prihatin dan pesimis soal birokrat atau pejabat di Indonesia.
“Untuk apa Indonesia merdeka kalau rakyatnya sendiri, birokratnya sendiri, sudahlah,” ungkap Megawati dengan prihatin.