Suara.com - Mantan Anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Periode 2008-2012 Wahidah Suaib mengusulkan agar Bawaslu berkolaborasi dengan penggemar musik Korea atau K-Pop untuk memperkuat pengawasan pemilu.
Sebab, Wahidah menyebut partisipasi masyarakat telah berkembang dalam hal pengawasan pemilu. Hal itu bisa dilakukan tidak hanya oleh mahasiswa aktivis dan pegiat pemilu, tetapi juga kelompok-kelompok lain, termasuk penggemar K-Pop.
“Komunitas sepeda berbasis hobi, bisa saja punya komunitas pemilu pemilu,” kata Wahidah kepada wartawan, Selasa (8/8/2023).
“Apalagi K-Popers, K-Popers itu kan punya kekuatan the power of hashtag. K-Popers itu paling jago mentrendingkan misalnya artisnya, mentrendingkan isu tentang artisnya,” tambah dia.
Untuk itu, Wahidah menyebut Bawaslu perlu melihat peluang karena kemampuan penggemar musik Korea mempengaruhi media sosial. Selain itu, lanjut dia, K-Popers juga cenderung memiliki solidaritas yang tinggi.
“Saya rasa enggak perlu jauh-jauh, lihat saja deh waktu advokasi untuk UU Ciptaker, bukankah tren-tren itu dipengaruhi oleh para K-Popers yang sangat intens meng-hashtag-kan isu-isu yang memang disepakati untuk ditrendingkan,” tutur Wahidah.
Untuk itu, Wahidah menekankan perlunya kolaborasi antara Bawaslu dengan kelompok penggemar K-Pop untuk memperkuat partisipasi publik.
“K-Popers kan warga negara juga dan juga punya hak pilih. Kan dia juga bagian strategis untuk kemudian dilibatkan, baik dalam pendidikan politik atau pengawasan pemilu,” ujar Wahidah.
“Simpel saja, tidak perlu memantau pemilu tapi kemudian cukup menjadi misalnya teman kolaborasi Bawaslu dalam sosialisasi,” tandas dia.