Suara.com - Perekonomian Jakarta pada tahun 2024 ini diprediksi bakal mengalami pertumbuhan sebanyak 5,6 persen dibandingkan tahun lalu alias year on year (yoy). Hal ini dikarenakan sejumlah faktor yang terjadi sepanjang tahun.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DKI Jakarta, Arlyana Abubakar mengatakan, ada dua faktor pendorong pertumbuhan ekonomi Jakarta tahun ini, yakni permintaan konsumsi Rumah Tangga (RT) dan investasi.
"Untuk keseluruhan tahun 2024, perekonomian Jakarta diprakirakan tumbuh kuat dalam kisaran 4,80-5,60 persen (yoy)," ujar Arlyana kepada wartawan, Kamis (8/8/2024).
"Dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga (RT) dan investasi diprakirakan akan tetap menjadi penggerak perekonomian Jakarta pada tahun 2024," lanjutnya menambahkan.
Peningkatan konsumsi rumah tangga, kata Arlyana, belakangan meningkat karena maraknya kegiatan Meeting, Incentive, Convention, Exhibition (MICE) hingga penyelanggaraan Pemilu 2024.
Sementara, peningkatan investasi terjadi karena adanya proyek-proyek strategis yang dikerjakan tahun jamak alias multi years.
Lalu, lapangan usaha perdagangan, jasa keuangan, informasi dan komunikasi, serta industri pengolahan juga turut tumbuh meningkat.
Memasuki Triwulan III 2024, Arlyana memperkirakan perekonomian Jakarta bakal tetap kuat. Penyebabnya adalah stabilnya permintaan domestik yang tercermin salah satunya dari Indeks Ekspektasi Konsumen BI untuk 6 bulan yang akan datang.
"Kinerja ekspor juga diperkirakan terus membaik didorong oleh kembali dilakukannya ekspor, utamanya otomotif ke beberapa negara tujuan ekspor, termasuk Jepang yang sebelumnya sempat terhenti," ungkap Arlyana.
Dari sisi lapangan usaha, konstruksi diperkirakan meningkat sejalan dengan meningkatnya investasi dan akselerasi pembangunan proyek strategis.
Kinerja lapangan usaha industri pengolahan juga diperkirakan membaik didorong oleh perbaikan ekspor secara bertahap serta masih kuatnya permintaan domestik.
Lebih lanjut, ia juga memperkirakan inflasi Jakarta pada Triwulan III 2024 masih akan terjaga lantaran didukung berlanjutnya penurunan harga bawang merah yang sejalan dengan berlangsungnya periode panen.
Penurunan harga cabai merah dan daging ayam ras serta stabilnya harga beras juga masih berlangsung karena terjaganya pasokan.
Adapun prospek inflasi keseluruhan tahun 2024 diprakirakan terjaga dalam sasaran 2,5±1 persen (yoy).
Penurunan harga komoditas pangan juga didukung oleh perluasan kerjasama antar daerah (KAD) melalui Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Pangan serta penguatan program Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).