Imbas Limbah PLTU Tak Cuma Bikin Nelayan Makin Tercekik, Beberapa Ikan di Laut jadi Bingung, Kenapa?

Jum'at, 11 Oktober 2024 | 00:45 WIB
Imbas Limbah PLTU Tak Cuma Bikin Nelayan Makin Tercekik, Beberapa Ikan di Laut jadi Bingung, Kenapa?
Ilustrasi--Aktivitas PLTU Indramayu yang berada di Desa Mekarsari, Indramayu, Jawa Barat. (Dok. Trend Asia)

Suara.com - Para pekerja nelayan alami beban berat akibat dampak dari limbah proyek PLTU juga krisis iklim yang terjadi di laut. Penelitian dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), kondisi tersebut membuat nelayan harus melaut lebih jauh agar bisa mendapatkan ikan. 

Untuk mencapai lokasi keberadaan ikan, nelayan pun harus lebih banyak membeli solar karena jarak melaut kian jaun.

Eksekutif Nasional WALHI, Satrio Manggala menyampaikan kalau kondisi seperti itu umum dialami oleh nelayan yang berdekatan dengan proyek PLTU. 

"Biasanya kawasannya yang kemudian wilayah tangkapnya itu, akibat PLTU, umumnya jadi bertambah beban cost untuk melaut, nambah lagi solarnya karena melaut jadi nambah jaraknya," kata Satrio dalam diskusi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) secara virtual, Kamis (10/10/2024). 

Ilustrasi nelayan dan hasil laut Indonesia. (Dok : Istimewa)
Ilustrasi nelayan dan hasil laut Indonesia. (Dok : Istimewa)

Limbah PLTU yang dibuang ke laut membuat sebaran ikan makin jauh dari jangkauan nelayan. Ditambah lagi dengan situasi krisis iklim yang membawa aspek perubahan di dalam siklus alamiah di bumi.

Satrio menjelaskan bahwa telah terjadi konsentrasi peningkatan suhu panas di perairan laut. Akibatnya, banyak ikan yang berpindah-pindah tempat untuk meletakan telur-telurnya.

"Beberapa ikan itu jadi bingung, kehilangan arah dan cara dia bernavigasi, karena perubahan ekstrem suhu air laut. Sehingga nelayan kecenderungannya kok makin sulit, biasanya di sini lokasinya ada ikannya kok enggak ada, jadi harus nyari lagi," bebernya.

Dalam diskusi berbeda, WALHI Jawa Barat juga pernah mengungkap kalau limbah PLTU yang banyak mencemari laut salah satunya akibat kapal tongkang batu bara tidak pernah ditutup. Kapal togkang merupakan transportasi yang dirancang khusus untuk mengangkut batu bara dari satu tempat ke tempat lain.

"Kami memotret bahwa tongkang batu bara itu tidak pernah ditutup dan sering sekali cerita-cerita masyarakat atau nelayan, batubaranya tercecer dan juga jangkar-jangkarnya. Jadi menyebabkan ekosistem laut rusak dan mengganggu jaring-jaring alat tangkap yang dipasang oleh nelayan," ungkap WALHI Jawa Barat Wahyuddin dalam diskusi publik, Senin (29/7/2024). 

Baca Juga: Terlilit Utang Bank Imbas Gadai SK, Cak Imin Bujuk Prabowo Naikkan Biaya Perjalanan Dinas DPRD: Titip Teman-teman Saya

Temuan WALHI juga memotret kebiasaan pekerja PLTU yang sembarangan membuang air panas pembangkitkan boiler ke laut. Sehingga menyebabkan banyak ikan dan ekosistem lainnya di laut jadi mati.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kamu Tipe Wanita Alpha, Sigma, Beta, Delta, Gamma, atau Omega?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Motor Impian Paling Pas dengan Gaya Hidup, Apakah Sudah Sesuai Isi Dompetmu?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Matematika Kelas 9 SMP Materi Transformasi Geometri dan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Matematika Kelas 6 SD Materi Bangun Ruang dan Statistika
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Andai Bisa Ganti Pekerjaan, Apa Profesi Paling Pas Buat Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Tipe Traveler Macam Apa Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Member CORTIS yang Akan Kasih Kamu Cokelat Valentine?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 12 SMA Lengkap dengan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pilih Satu Warna, Ternyata Ini Kepribadianmu Menurut Psikologi
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 16 Soal Bahasa Indonesia untuk Kelas 9 SMP Beserta Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

VIDEO TERKAIT

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI