Suara.com - Ditengah viral video Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky tengah berseteru di hadapan wartawan, Rusia nampaknya terus memanfaatkan momen itu.
Hal itu terlihat usai Kremlin menyatakan bahwa perubahan kebijakan luar negeri Amerika Serikat di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump "sebagian besar" selaras dengan visi Rusia.
"Pemerintahan AS yang baru dengan cepat mengubah arah kebijakan luar negeri mereka. Ini sebagian besar sesuai dengan pandangan kami," ujar juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, dalam wawancara dengan saluran TV pemerintah Rossiya-1.
Peskov menyoroti bahwa baik Rusia maupun AS sama-sama menolak resolusi Majelis Umum PBB mengenai Ukraina pada akhir Februari lalu, sesuatu yang menurutnya "benar-benar tak terbayangkan" sebelumnya.
Pada 24 Februari, Majelis Umum PBB mengadopsi rancangan resolusi yang menyerukan perdamaian komprehensif, adil, dan berkelanjutan di Ukraina, dengan Rusia dan AS kompak memberikan suara menentang.
Terkait prospek pemulihan hubungan Rusia-AS, Peskov mengakui bahwa upaya sedang dilakukan untuk memperbaiki berbagai aspek kerja sama bilateral. Namun, ia menekankan bahwa jalan menuju pemulihan masih panjang, mengingat kerusakan besar yang terjadi selama pemerintahan AS sebelumnya.
"Jika kemauan politik dari kedua pemimpin—Presiden Vladimir Putin dan Presiden Trump—tetap ada, maka proses ini bisa berjalan lebih cepat dan berhasil," tambahnya.
Peskov juga menekankan perlunya segera menentukan topik kerja sama antara Moskow dan Washington, meskipun ia mengingatkan bahwa hasilnya tidak akan terlihat dalam waktu singkat.
Selain itu, ia menyoroti sikap Presiden Prancis Emmanuel Macron yang dalam wawancara dengan media Prancis pada Sabtu lalu mengindikasikan kemungkinan membuka dialog dengan Putin. Namun, menurut Peskov, hingga kini belum ada langkah konkret dari Macron untuk berkomunikasi dengan pemimpin Rusia tersebut.
Zelensky 'Diperingatkan' Sebelum Bertemu Trump

Sebelumnya, beberapa jam sebelum Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky melangkah ke Ruang Oval untuk pertemuannya yang memalukan dengan Presiden Donald Trump, ia menerima peringatan keras dari seorang Senator AS.
"Jangan terpancing," saran Senator Republik Carolina Selatan Lindsey Graham, memperingatkan pemimpin Ukraina agar tidak terlibat dalam perdebatan sengit dengan Trump, menurut New York Times. "Saya katakan, jangan terlibat dalam perdebatan tentang perjanjian keamanan," kata Graham kepada Times dalam sebuah wawancara.
Ketika pertemuan dimulai, Zelensky menyuarakan kekhawatirannya atas upaya perang Ukraina dan ketidakpastian seputar bantuan militer AS. Petisinya untuk keterlibatan AS yang lebih agresif dalam konflik Rusia-Ukraina memicu konfrontasi yang luar biasa.
Trump dan Wakil Presiden JD Vance menuduhnya kurang bersyukur. Yang terjadi selanjutnya adalah pertengkaran publik yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang terjadi di depan wartawan dan berakhir dengan Zelensky meninggalkan Gedung Putih secara tiba-tiba, tanpa mengamankan kesepakatan pembagian mineral yang telah lama diharapkan akan ditandatangani.
Trump telah berulang kali menyarankan agar Ukraina merundingkan perjanjian damai dengan Moskow, sebuah posisi yang telah membuat Zelensky dan sekutu-sekutunya di Eropa khawatir. Ketika pemimpin Ukraina itu tiba di Gedung Putih, Trump menyambutnya dengan komentar tajam tentang pakaiannya yang biasa bergaya militer.