"Terima kasih PLN karena dalam jangka yang begitu cepat PLN mampu melayani dan menyambungkan listriknya. Dengan masuknya listrik, budi daya udang dan ikan di desa kami dapat lebih maksimal hasilnya," kata Ado.
Ado menambahkan bahwa saat ini kebanyakan petambak udang di Kabupaten Mamuju telah beralih ke listrik PLN.
"Saat ini layanan PLN semakin baik, begitu ada tantangan langsung direspons secara cepat. Selain itu, kami juga mendapatkan fasilitas dari PLN berupa empat sertifikat Energi Baru Terbarukan yang tentunya dapat menambah nilai jual kami," kata Ado pula.
Pada kesempatan yang berbeda, petani dari Desa Beru-beru, Kabupaten Mamuju, Sudirman merinci bahwa sebelum menggunakan listrik PLN, tambak udang miliknya menghabiskan sekitar 1.382 liter solar dengan estimasi biaya sekitar Rp9,4 juta lebih per bulan.
Setelah menggunakan listrik PLN, pihaknya hanya membayar listrik sebagai biaya operasional bulanan di kisaran Rp2,8 juta.
"Selain menghemat biaya operasional, hadirnya listrik dapat mengoptimalkan semua peralatan listrik yang ada seperti kincir dan penerangan yang dinyalakan malam hari untuk menjaga kualitas udang," katanya.
Dengan demikian, program Electrifying Agriculture (EA) dari PT PLN (Persero) telah membawa dampak positif bagi UMKM budi daya udang vaname di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat.
Program ini tidak hanya menghemat biaya operasional tetapi juga meningkatkan produktivitas dan pendapatan para pelaku usaha agrikultur.