Ketika Hujan Turun di Bulan Kering: Memahami Fenomena Kemarau Basah yang Terjadi Saat Ini

M. Reza Sulaiman

Rabu, 21 Mei 2025 | 10:39 WIB
Ketika Hujan Turun di Bulan Kering: Memahami Fenomena Kemarau Basah yang Terjadi Saat Ini
Ilustrasi musim hujan, kemarau basah - Sejumlah orang yang berjalan di tengah hujan di kawasan Sleman, Jumat (16/5/2025). [Hiskia/suarajogja]

Suara.com - Menjelang akhir bulan Mei hingga awal Juni, biasanya Indonesia sudah memasuki musim kemarau. Musim kemarau identik dengan hari-hari yang panas dan kering.

Namun, di tengah kekeringan yang biasanya mendominasi, terdapat satu fenomena yang belakangan menjadi sorotan: kemarau basah. Lantas, apa itu kemarau basah, dan bagaimana dampaknya terhadap cuaca dan aktivitas masyarakat?

Laman Live Science menyebut kemarau basah adalah kondisi ketika hujan masih tetap terjadi meski wilayah tersebut secara iklim telah memasuki musim kemarau. Meski frekuensinya menurun dibanding musim hujan, intensitas hujan yang turun pada periode ini tetap tergolong tinggi. Fenomena ini kerap membingungkan masyarakat karena seharusnya musim kemarau berarti minim curah hujan.

Kemarau basah dipengaruhi oleh sejumlah faktor dinamika atmosfer regional dan global. Beberapa penyebab utamanya antara lain suhu muka laut yang lebih hangat dari normal, angin monsun yang masih aktif, serta fenomena iklim seperti La Nina atau Indian Ocean Dipole (IOD) negatif. Semua faktor ini dapat memicu tetap terbentuknya awan hujan di berbagai wilayah, meski secara kalender telah memasuki musim kemarau.

Prediksi Musim Kemarau 2025: Tidak Sepenuhnya Kering

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahwa awal musim kemarau 2025 telah dimulai sejak April dan akan terus meluas secara bertahap di berbagai wilayah Indonesia hingga Juni. Namun, yang menarik, musim kemarau tahun ini diprediksi tidak berlangsung serempak dan cenderung lebih pendek dibanding biasanya.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, dalam keterangan resminya ditulis Selasa (21/5/2025) menyebut bahwa sebanyak 115 Zona Musim (ZOM) telah memasuki musim kemarau pada April 2025. Jumlah tersebut diperkirakan akan meningkat pada Mei dan Juni, mencakup wilayah-wilayah seperti Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Papua.

Meski demikian, berdasarkan prediksi BMKG, sekitar 26% wilayah Indonesia akan mengalami kemarau basah tahun ini. Artinya, meskipun sudah masuk musim kemarau, hujan masih akan turun secara berkala di sejumlah daerah. Wilayah-wilayah yang diperkirakan mengalami kondisi ini mencakup sebagian besar Lampung, Jawa bagian barat hingga tengah, Bali, NTB, NTT, dan beberapa bagian Papua.

Sebagai perbandingan, sebanyak 60% wilayah Indonesia akan mengalami kemarau dengan sifat normal, sementara 14% sisanya diperkirakan mengalami musim kemarau yang lebih kering dari biasanya.

baca juga

Dampak Kemarau Basah terhadap Kehidupan Masyarakat

Fenomena kemarau basah bisa memberikan tantangan sekaligus peluang. Di sektor pertanian, misalnya, curah hujan yang masih terjadi selama musim kemarau dapat mendukung produktivitas pertanian apabila dikelola dengan baik. Namun, hal ini juga bisa memicu masalah seperti potensi serangan hama atau gagal panen jika jadwal tanam tidak disesuaikan.

Untuk itu, BMKG merekomendasikan sejumlah langkah mitigasi, seperti penyesuaian jadwal tanam, pemilihan varietas tanaman tahan kekeringan, serta optimalisasi pengelolaan air. Di sisi lain, wilayah yang mengalami kemarau basah bisa memanfaatkan peluang ini untuk memperluas area tanam dengan tetap memperhatikan kondisi lahan dan iklim lokal.

Pentingnya Mitigasi dan Adaptasi

Puncak musim kemarau 2025 diprediksi terjadi pada Juni hingga Agustus. Namun, dengan adanya kemarau basah di sejumlah daerah, masyarakat dan pemerintah daerah perlu mengambil langkah antisipatif. Pengelolaan air bersih, ketersediaan pangan, dan kesiapan menghadapi potensi bencana harus menjadi prioritas.

BMKG juga menegaskan bahwa suhu muka laut di wilayah Indonesia yang cenderung hangat hingga September 2025 berpotensi memengaruhi cuaca lokal. Oleh karena itu, koordinasi lintas sektor diperlukan, terutama dalam memastikan bahwa sektor pertanian, energi, dan kesehatan tetap berjalan optimal di tengah dinamika iklim yang tidak menentu.

Apa itu kemarau basah? Secara sederhana, ini adalah musim kemarau yang tidak sepenuhnya kering. Fenomena ini mengingatkan kita bahwa iklim semakin tidak dapat diprediksi secara konvensional. Dengan pemahaman yang lebih baik, masyarakat bisa melakukan adaptasi yang tepat, terutama dalam menghadapi tantangan perubahan iklim global.

Musim kemarau 2025 bukan hanya soal kekeringan, tetapi juga peluang untuk belajar mengelola air dan sumber daya dengan lebih bijak. Maka, kesadaran akan fenomena seperti kemarau basah menjadi penting agar kita semua lebih siap menghadapi kondisi cuaca yang semakin dinamis.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Panas Ekstrem Akibat Krisis Iklim Picu Risiko Kehamilan, Adakah Solusi Atasinya?

Panas Ekstrem Akibat Krisis Iklim Picu Risiko Kehamilan, Adakah Solusi Atasinya?

Health | Rabu, 21 Mei 2025 | 08:41 WIB

Di Balik Demo Ojol di Jakarta: Kisah Pelik Buyung Terjerat Kemiskinan hingga Pasrah Diceraikan Istri

Di Balik Demo Ojol di Jakarta: Kisah Pelik Buyung Terjerat Kemiskinan hingga Pasrah Diceraikan Istri

News | Selasa, 20 Mei 2025 | 19:12 WIB

Lahan Gambut dan Mangrove Kalimantan, Jalan Indonesia Menuju Masa Depan Bebas Emisi

Lahan Gambut dan Mangrove Kalimantan, Jalan Indonesia Menuju Masa Depan Bebas Emisi

News | Selasa, 20 Mei 2025 | 18:56 WIB

Terkini

Suanggi: Ilmu Kutukan, Suguhkan Perpaduan Drama Keluarga dan Mitos Mistik!

Suanggi: Ilmu Kutukan, Suguhkan Perpaduan Drama Keluarga dan Mitos Mistik!

Your Say | Jum'at, 11 September 2026 | 08:25 WIB

Gibran Perintahkan Sekolah Aktifkan UKS dan Gandeng Puskesmas Hadapi Dampak Karhutla

Gibran Perintahkan Sekolah Aktifkan UKS dan Gandeng Puskesmas Hadapi Dampak Karhutla

News | Jum'at, 11 September 2026 | 08:19 WIB

Debu Krakatau Mereda, Sekolah di Lampung Normal Lagi Langsung Gelar Salat Istisqa

Debu Krakatau Mereda, Sekolah di Lampung Normal Lagi Langsung Gelar Salat Istisqa

Lampung | Jum'at, 11 September 2026 | 08:15 WIB

Arti Weton Bumi Kapetak Menurut Primbon Jawa: Karakter Tangguh dan Tahan Banting Menuju Sukses

Arti Weton Bumi Kapetak Menurut Primbon Jawa: Karakter Tangguh dan Tahan Banting Menuju Sukses

Lifestyle | Jum'at, 11 September 2026 | 08:09 WIB

6 Cara Membuat Wajan Stainless Steel Baru agar Anti Lengket, Begini Triknya

6 Cara Membuat Wajan Stainless Steel Baru agar Anti Lengket, Begini Triknya

Lifestyle | Jum'at, 11 September 2026 | 08:08 WIB

Perang Minyak Dimulai? Iran Dituduh Dalangi Serangan Houthi di Laut Merah

Perang Minyak Dimulai? Iran Dituduh Dalangi Serangan Houthi di Laut Merah

Bisnis | Jum'at, 11 September 2026 | 08:07 WIB

Bank Jago Catat Kredit Rp26,6 Triliun pada Semester I-2026, Tumbuh 24 Persen

Bank Jago Catat Kredit Rp26,6 Triliun pada Semester I-2026, Tumbuh 24 Persen

Bisnis | Jum'at, 11 September 2026 | 08:04 WIB

KLB Keracunan MBG di Pati: Korban Capai 269 Orang, BGN Ancam Tutup SPPG

KLB Keracunan MBG di Pati: Korban Capai 269 Orang, BGN Ancam Tutup SPPG

Jawa Tengah | Jum'at, 11 September 2026 | 07:59 WIB

Sindikat BBM Ilegal di Jambi Terbongkar: 8 Tersangka Ditangkap, 22,8 Ton Minyak Disita!

Sindikat BBM Ilegal di Jambi Terbongkar: 8 Tersangka Ditangkap, 22,8 Ton Minyak Disita!

News | Jum'at, 11 September 2026 | 07:59 WIB

Pajak SPP-TDLN Berlaku: Jangan Buat Konsumen Jadi Kambing Hitam

Pajak SPP-TDLN Berlaku: Jangan Buat Konsumen Jadi Kambing Hitam

Your Say | Jum'at, 11 September 2026 | 07:50 WIB

×