Jakarta Feminist: Kematian Ibu dan Bayi di Papua Usai Ditolak 4 RS Merupakan Bentuk Femisida

Vania Rossa, Lilis Varwati

Senin, 24 November 2025 | 14:58 WIB
Jakarta Feminist: Kematian Ibu dan Bayi di Papua Usai Ditolak 4 RS Merupakan Bentuk Femisida
ILUSTRASI - Pengungsi Nduga, Papua, akibat konflik bersenjata antar OPM dan TNI, terlunta-lunta di daerah pegunungan dan hutan, tanpa bantuan pemerintah. [dokumentasi]
baca 10 detik
  • Jakarta Feminist mengklasifikasikan kematian Irene Sokoy karena penolakan empat rumah sakit di Papua sebagai femisida.
  • Kematian ibu hamil tersebut disoroti sebagai dampak kegagalan struktural pelayanan publik diskriminatif terhadap perempuan.
  • Irene meninggal setelah berpindah empat rumah sakit di Papua karena dugaan alasan penolakan seperti ruang BPJS penuh.

Suara.com - Jakarta Feminist menilai kematian Irene Sokoy, ibu hamil yang meninggal bersama bayinya setelah diduga ditolak empat rumah sakit di Papua, bukan sekadar kelalaian layanan kesehatan.

Direktur Program Jakarta Feminist, Anindya Restuviani, menegaskan kasus tersebut sudah masuk kategori femisida, atau pembunuhan terhadap perempuan karena identitas gendernya.

"Berita perempuan di Papua yang meninggal karena dia tidak mendapatkan akses untuk melahirkan, itu bisa kita sebut sebagai femisida. Karena itu tidak akan terjadi kepada laki-laki kepada mereka yang tidak punya rahim, ini hanya terjadi kepada perempuan," ujar Anindya dalam acara Launching Buku Saku Peliputan Kasus Femisida di Jakarta, Senin (24/11/2025).

Menurutnya, kematian Irene bukan insiden medis biasa, melainkan cermin dari struktur pelayanan publik yang mendiskriminasi perempuan.

Anindya menilai pengalaman perempuan sebagai individu yang memiliki rahim, hamil, dan melahirkan membuat mereka berhadapan dengan risiko kematian yang sebenarnya dapat dicegah, tetapi justru dilegalkan oleh buruknya sistem.

"Secara sistem perempuan sudah tidak diuntungkan, tidak diberikan akses yang sama karena pengalaman hidupnya, pengalaman dirinya sebagai gender perempuan," tuturnya.

Ia menyoroti fakta bahwa korban berulang kali berpindah antar rumah sakit hingga empat kali, tetapi tidak mendapatkan tindakan medis yang diperlukan meski dalam kondisi gawat darurat.

Penolakan ini, menurutnya, menunjukkan bagaimana akses layanan kesehatan untuk perempuan hamil masih sangat timpang, terutama di wilayah dengan fasilitas terbatas seperti Papua.

"Kalau misalkan dia mendapatkan akses, dia nggak bakal meninggal," imbuhnya

baca juga

Anindya menekankan bahwa kasus ini merupakan femisida tidak langsung, bentuk femisida yang terjadi bukan karena serangan individu. Tetapi akibat dari kerusakan sistemik yang menyebabkan perempuan tidak memperoleh layanan yang seharusnya menyelamatkan nyawa.

"Artinya disini ada kesalahan sistem kesehatan dari akses layanannya," kritik Anindya.

Diketahui, korban sempat mengalami kontraksi di Kampung Hobong, Distrik Sentani, dan dibawa ke RSUD Yowari.

Namun, ia dialihkan ke beberapa rumah sakit lainnya, termasuk RS Dian Harapan, RSUD Abepura, dan RS Bhayangkara, yang disebut-sebut menolak merawat karena ruang BPJS penuh dan alasan administrasi.

Kemenkes telah mengirim tim investigasi ke Papua untuk menelusuri dugaan penolakan pasien dan menyatakan akan memberi sanksi jika terbukti pelanggaran.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Aktivis Feminis Desak Negara Akui Femisida Sebagai Kejahatan Khusus dan Masuk UU

Aktivis Feminis Desak Negara Akui Femisida Sebagai Kejahatan Khusus dan Masuk UU

News | Kamis, 13 November 2025 | 18:10 WIB

Kasus Femisida Melonjak, Komnas Perempuan Sebut Negara Belum Akui sebagai Kejahatan Serius

Kasus Femisida Melonjak, Komnas Perempuan Sebut Negara Belum Akui sebagai Kejahatan Serius

News | Kamis, 13 November 2025 | 16:13 WIB

Jakarta Feminist Soroti Kasus Femisida 2024: Satu Perempuan Dibunuh Setiap Dua Hari di Indonesia!

Jakarta Feminist Soroti Kasus Femisida 2024: Satu Perempuan Dibunuh Setiap Dua Hari di Indonesia!

News | Sabtu, 27 September 2025 | 08:11 WIB

Terkini

Usai Dirawat di RS Polri, Gus Yaqut Dipindahkan Kembali ke Rutan KPK

Usai Dirawat di RS Polri, Gus Yaqut Dipindahkan Kembali ke Rutan KPK

News | Jum'at, 10 Juli 2026 | 13:48 WIB

Indonesia Punya Potensi Energi Surya Terbesar, Mengapa Pemanfaatannya Masih Minim?

Indonesia Punya Potensi Energi Surya Terbesar, Mengapa Pemanfaatannya Masih Minim?

News | Jum'at, 10 Juli 2026 | 13:43 WIB

Enggar Lukita: Rachmat Gobel Terlalu Baik untuk Dunia Politik

Enggar Lukita: Rachmat Gobel Terlalu Baik untuk Dunia Politik

News | Jum'at, 10 Juli 2026 | 13:41 WIB

Jampidsus Febrie Adriansyah Blak-blakan Soal Penggeledahan Polisi di Tengah Usut Korupsi MBG

Jampidsus Febrie Adriansyah Blak-blakan Soal Penggeledahan Polisi di Tengah Usut Korupsi MBG

News | Jum'at, 10 Juli 2026 | 13:39 WIB

Akal-akalan Jampidsus? Ngaku Rumah Sentul yang Digeledah Miliknya Sejak Lama, Kok Nggak Masuk LHKPN!

Akal-akalan Jampidsus? Ngaku Rumah Sentul yang Digeledah Miliknya Sejak Lama, Kok Nggak Masuk LHKPN!

News | Jum'at, 10 Juli 2026 | 13:38 WIB

Bupati Sukoharjo Kena OTT KPK, Uang Miliaran Rupiah Disita

Bupati Sukoharjo Kena OTT KPK, Uang Miliaran Rupiah Disita

News | Jum'at, 10 Juli 2026 | 13:35 WIB

Pramono Anung Ungkap Komunikasi Terakhir dengan Rachmat Gobel Sepekan Sebelum Wafat

Pramono Anung Ungkap Komunikasi Terakhir dengan Rachmat Gobel Sepekan Sebelum Wafat

News | Jum'at, 10 Juli 2026 | 13:32 WIB

Jadi Momok, LSAK Desak Prabowo Cabut Perpres Pelindungan Jaksa oleh TNI

Jadi Momok, LSAK Desak Prabowo Cabut Perpres Pelindungan Jaksa oleh TNI

News | Jum'at, 10 Juli 2026 | 13:28 WIB

Menteri Hukum: Program Pasti Ada Solusi Tak Sekadar Tampung Aduan, Namun Pastikan Penyelesaian

Menteri Hukum: Program Pasti Ada Solusi Tak Sekadar Tampung Aduan, Namun Pastikan Penyelesaian

News | Jum'at, 10 Juli 2026 | 13:21 WIB

Takziah ke Rumah Duka, Jokowi Kenang Sosok Rachmat Gobel: Menteri yang Bekerja Keras

Takziah ke Rumah Duka, Jokowi Kenang Sosok Rachmat Gobel: Menteri yang Bekerja Keras

News | Jum'at, 10 Juli 2026 | 13:19 WIB

×