Kisah Sukses Mitigasi Bencana: Sistem Peringatan Dini di Alpen Selamatkan Ratusan Nyawa

M. Reza Sulaiman

Jum'at, 30 Mei 2025 | 12:17 WIB
Kisah Sukses Mitigasi Bencana: Sistem Peringatan Dini di Alpen Selamatkan Ratusan Nyawa
Ilustrasi bencana longsor di pegunungan Alpen, Swiss. (Photo by Heinz Klier/Pexels)

Suara.com - Kehadiran sistem peringatan dini bencana alam semakin penting di tengah meningkatnya risiko dampak krisis iklim di dunia. Bukti paling nyata terjadi di Swiss baru-baru ini, yang mengalami longsor namun tidak ada korban jiwa.

Desa Blatten di Swiss berhasil menyelamatkan 300 warganya dari bencana longsor berkat sistem peringatan dini yang efektif.

Meski sebagian besar desa hancur ketika gumpalan besar gletser Birch runtuh ke lembah, tidak ada korban jiwa berkat evakuasi yang dilakukan sejak 19 Mei lalu.

Keberhasilan Sistem Peringatan Dini

Para ahli geologi yang memantau kawasan tersebut mendeteksi bahwa gletser Birch -salah satu bongkahan es terbesar di pegunungan Alpen- tampak tidak stabil dan berisiko runtuh. Berdasarkan peringatan ilmiah ini, seluruh warga desa dievakuasi beberapa hari sebelum bencana terjadi pada Rabu sore pukul 15:30 waktu setempat.

"Yang tak terbayangkan telah terjadi, tetapi kami berhasil menyelamatkan nyawa penduduk," kata Walikota Blatten, Matthias Bellwald, dilansir BBC, Jumat (30/5/2025).

Satu orang dilaporkan hilang, namun 300 warga berhasil diselamatkan berkat tindakan preventif ini.

Rekaman video yang memperlihatkan pemandangan Desa Blatten sebelum dan sesudah longsor melanda viral di media sosial X. Desa indah yang terletak di lembah pegunungan Alpen ini kini rata dengan tanah, menyisakan sedikit pemandangan atap rumah yang tertumbun lumpur dan tanah.

Ancaman Nyata Perubahan Iklim di Pegunungan Alpen

Bencana yang menimpa Blatten adalah mimpi buruk bagi penduduk di sekitar Pegunungan Alpen. Perubahan iklim menyebabkan gletser—sungai es yang membeku—mencair semakin cepat, dan salju abadai yang sering disebut sebagai "lem" pengikat pegunungan tinggi, juga ikut mencair.

baca juga

Blatten bukanlah desa pertama yang dievakuasi. Di Swiss bagian timur, penduduk desa Brienz dievakuasi dua tahun lalu karena lereng gunung di atasnya runtuh. Sejak itu, mereka hanya diizinkan kembali untuk periode singkat.

Pada 2017, delapan pendaki tewas dan banyak rumah hancur ketika longsor terbesar dalam lebih dari satu abad melanda dekat desa Bondo.

Laporan terbaru tentang kondisi gletser Swiss menunjukkan bahwa semua gletser bisa hilang dalam satu abad jika suhu global tidak dapat dijaga dalam kenaikan 1,5°C di atas tingkat pra-industri, sebagaimana disepakati hampir 200 negara dalam Kesepakatan Iklim Paris sepuluh tahun lalu.

Banyak ilmuwan iklim menilai target tersebut sudah terlewati, artinya pencairan gletser akan terus mengakselerasi, meningkatkan risiko banjir dan longsor, serta mengancam lebih banyak komunitas seperti Blatten.

Kisah Blatten membuktikan betapa pentingnya sistem peringatan dini yang efektif. Meski desa mereka hancur, 300 nyawa berhasil diselamatkan berkat pemantauan ilmiah dan respons cepat pemerintah.

"Kami kehilangan desa, tetapi tidak kehilangan hati kami. Kami akan saling mendukung dan menghibur satu sama lain. Setelah malam yang panjang, akan datang pagi lagi," kata Bellwald dengan mata berkaca-kaca.

Pemerintah Swiss telah berjanji memberikan dana untuk memastikan penduduk dapat tinggal, jika tidak di desa itu sendiri, setidaknya di wilayah sekitarnya. Namun, pihak berwenang memperingatkan bahwa evakuasi lebih lanjut di daerah dekat Blatten mungkin diperlukan.

Pelajaran dari Swiss untuk Indonesia

Kondisi serupa patut menjadi perhatian Indonesia. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sepanjang 2024 terjadi 2.107 bencana di Indonesia, dengan bencana banjir bandang dan tanah longsor menjadi penyebab kematian terbanyak.

Di awal 2024 saja, sudah terjadi 34 kejadian tanah longsor, menjadikannya bencana alam ketiga yang paling sering terjadi setelah banjir (266 kejadian) dan cuaca ekstrem (95 kejadian).

Jawa Barat dan Jawa Tengah menjadi provinsi dengan kejadian bencana tanah longsor terbanyak nasional selama periode 2014-2023.

Peningkatan curah hujan yang disertai angin kencang dan petir akibat perubahan iklim dapat menyebabkan banjir, tanah longsor, dan angin puting beliung. Secara rata-rata kerugian ekonomi yang dialami karena bencana hidrometeorologi setiap tahunnya sebesar Rp 22,8 triliun.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Mengenang 19 Tahun Bencana Lumpur Lapindo, Penampakan Lokasi Terkini

Mengenang 19 Tahun Bencana Lumpur Lapindo, Penampakan Lokasi Terkini

Foto | Jum'at, 30 Mei 2025 | 07:08 WIB

Merancang Dana Desa Untuk Mitigasi Bencana hingga Perubahan Iklim

Merancang Dana Desa Untuk Mitigasi Bencana hingga Perubahan Iklim

News | Selasa, 27 Mei 2025 | 15:11 WIB

Jalan Poros Samarinda-Balikpapan Amblas, Puluhan Rumah Warga Terdampak

Jalan Poros Samarinda-Balikpapan Amblas, Puluhan Rumah Warga Terdampak

Foto | Senin, 26 Mei 2025 | 04:21 WIB

Terkini

MAXI Yamaha Day Jabar 2026 Pikat Komunitas dengan Budaya dan Alam Kuningan

MAXI Yamaha Day Jabar 2026 Pikat Komunitas dengan Budaya dan Alam Kuningan

Otomotif | Sabtu, 25 Juli 2026 | 23:07 WIB

Gap antara Kampus dan Industri Masih Lebar, Mahasiswa Bisa Rugi Kalau Tak Bersiap

Gap antara Kampus dan Industri Masih Lebar, Mahasiswa Bisa Rugi Kalau Tak Bersiap

Lifestyle | Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:38 WIB

Hanya Gara-gara Colokan Kabel, Bisnis MUA di Tuban Kebakaran Rugi Rp400 Juta

Hanya Gara-gara Colokan Kabel, Bisnis MUA di Tuban Kebakaran Rugi Rp400 Juta

Jatim | Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:30 WIB

Tangis Ayah untuk NH, Dugaan Perundungan yang Berulang, Bocah Kelas 3 SD Meninggal

Tangis Ayah untuk NH, Dugaan Perundungan yang Berulang, Bocah Kelas 3 SD Meninggal

Sumbar | Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:24 WIB

Gunung Anak Krakatau Erupsi Dua Kali: Abu Hitam Pekat Selimuti Langit Selat Sunda

Gunung Anak Krakatau Erupsi Dua Kali: Abu Hitam Pekat Selimuti Langit Selat Sunda

Lampung | Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:19 WIB

Presiden Prabowo Subianto Sindir Wartawan Saat Bahas Tentang Kampanye Besar di Pidatonya

Presiden Prabowo Subianto Sindir Wartawan Saat Bahas Tentang Kampanye Besar di Pidatonya

Video | Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:15 WIB

Hari Anak Nasional, Saatnya Perluas Ruang Belajar dan Kolaborasi untuk Dukung Tumbuh Kembang Anak

Hari Anak Nasional, Saatnya Perluas Ruang Belajar dan Kolaborasi untuk Dukung Tumbuh Kembang Anak

Lifestyle | Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:12 WIB

Honda ADV160 Ternyata Sanggup Tenggak Etanol 85 Persen, Harga Jauh Lebih Murah

Honda ADV160 Ternyata Sanggup Tenggak Etanol 85 Persen, Harga Jauh Lebih Murah

Otomotif | Sabtu, 25 Juli 2026 | 20:50 WIB

Kulit Bersih Tanpa Rasa Kering dan Tertarik, Ini Pentingnya Memilih Cleansing Balm yang Gentle

Kulit Bersih Tanpa Rasa Kering dan Tertarik, Ini Pentingnya Memilih Cleansing Balm yang Gentle

Lifestyle | Sabtu, 25 Juli 2026 | 20:28 WIB

Baru IPO, Emiten RANS Sudah Gonjang-ganjing! Satu Direktur Pilih Mundur

Baru IPO, Emiten RANS Sudah Gonjang-ganjing! Satu Direktur Pilih Mundur

Bisnis | Sabtu, 25 Juli 2026 | 20:19 WIB

×