Krisis Energi dan Kenaikan Harga Listrik Picu Penolakan Pajak Karbon di Swedia

M. Reza Sulaiman

Sabtu, 14 Juni 2025 | 11:06 WIB
Krisis Energi dan Kenaikan Harga Listrik Picu Penolakan Pajak Karbon di Swedia
Ilustrasi tarif listrik. (Pixabay/alexas photo)

Suara.com - Krisis energi yang melanda Eropa tak hanya berdampak pada sektor ekonomi, tetapi juga mulai menggoyahkan komitmen iklim di negara-negara maju. Sebuah studi terbaru di Swedia menunjukkan bahwa lonjakan harga listrik yang drastis telah memicu peningkatan penolakan terhadap pajak bahan bakar, yang merupakan bagian dari kebijakan penanggulangan perubahan iklim.

Penelitian yang dilakukan oleh tim dari Universitas di Swedia itu melibatkan 4.000 rumah tangga yang tinggal di sekitar perbatasan zona penawaran listrik. Hasilnya mengejutkan: dalam kondisi harga listrik yang meningkat dua kali lipat, penolakan terhadap pajak bahan bakar naik hingga 20 persen.

Penelitian ini mengungkap bahwa masyarakat yang terkena dampak langsung dari lonjakan harga listrik cenderung lebih skeptis terhadap kebijakan pajak karbon. Mereka menganggap pajak tersebut mahal dan tidak adil, khususnya bagi kelompok berpenghasilan rendah.

Jens Ewald, kandidat doktor bidang ekonomi sekaligus penulis utama studi ini, menjelaskan bahwa sebagian besar penolakan terhadap pajak karbon sebenarnya didasarkan pada persepsi yang keliru.

"Masyarakat sering kali meremehkan manfaat lingkungan dari pajak karbon dan melebih-lebihkan biaya yang mereka tanggung secara pribadi," ujar Ewald, melansir EurekALert!, Sabtu (14/6/2025).

Menurutnya, persepsi ini tumbuh karena minimnya pemahaman tentang bagaimana kebijakan tersebut bekerja. Ketika biaya energi melonjak, masyarakat merasa terbebani ganda dan menganggap pemerintah tidak adil, padahal tujuan utamanya adalah mendorong transisi menuju energi bersih.

Ketimpangan Sistem Zona Listrik

Swedia menerapkan sistem empat zona penawaran listrik sejak 2011. Hingga 2022, harga listrik di berbagai zona relatif seimbang. Namun, setelah invasi Rusia ke Ukraina yang memicu krisis energi di Eropa, perbedaan harga antarwilayah menjadi sangat mencolok, khususnya antara Swedia bagian utara dan selatan.

Kondisi ini menimbulkan ketimpangan yang besar. Masyarakat di wilayah dengan harga listrik lebih tinggi merasa dirugikan dan memandang sistem ini tidak adil.

baca juga

Sebagai tanggapan, pemerintah Swedia telah meminta operator sistem transmisi nasional, Svenska kraftnät, untuk mengevaluasi kembali apakah sistem zona tersebut masih relevan dan perlu dipertahankan.

Ewald menambahkan bahwa kemarahan masyarakat terhadap ketimpangan harga ini ikut berdampak pada dukungan terhadap kebijakan iklim.

"Ini bukan berarti zona listrik harus dihapus, tapi penting untuk menjelaskan kepada publik mengapa sistem ini dibuat dan bagaimana tujuannya mendukung transisi energi yang adil dan efisien."

Imbas Terhadap Kebijakan Lingkungan

Swedia selama ini dikenal sebagai negara pelopor dalam kebijakan lingkungan. Sejak 1991, negara ini menjadi yang pertama di dunia menerapkan pajak karbon secara nasional. Namun, perkembangan politik dan tekanan ekonomi belakangan ini menunjukkan adanya kemunduran dalam komitmen tersebut.

Dalam pemilu 2022, sejumlah partai politik menjadikan penurunan harga bensin sebagai janji kampanye. Hasilnya, dalam beberapa tahun terakhir Swedia mulai memberikan pengecualian dan pengurangan pajak karbon, yang menurut Ewald merupakan penurunan nyata dalam efektivitas kebijakan iklim negara itu.

“Pengecualian ini adalah sinyal bahwa tekanan politik dan ekonomi bisa melemahkan upaya serius dalam mengurangi emisi. Ini jadi tantangan besar ke depan,” tambahnya.

Pentingnya Strategi Komunikasi Publik

Penelitian ini menyimpulkan bahwa tantangan terbesar dalam kebijakan iklim bukan hanya soal teknis atau keuangan, melainkan juga bagaimana membangun kepercayaan dan pemahaman publik. Ketika masyarakat tidak memahami manfaat jangka panjang dari pajak karbon atau merasa terbebani secara tidak adil, dukungan terhadap kebijakan tersebut bisa melemah.

Ewald menekankan perlunya strategi komunikasi yang lebih efektif agar masyarakat memahami tujuan dari kebijakan iklim dan merasa dilibatkan dalam prosesnya.

"Kebijakan iklim akan lebih berhasil jika masyarakat memahami mengapa kebijakan itu penting, dan bagaimana mereka tidak ditinggalkan dalam proses transisi menuju masa depan yang lebih bersih," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Grab Klaim Kurangi Emisi Karbon 30.000 Ton Lewat Ribuan Armada Motor Listrik

Grab Klaim Kurangi Emisi Karbon 30.000 Ton Lewat Ribuan Armada Motor Listrik

Bisnis | Sabtu, 14 Juni 2025 | 08:11 WIB

5 Rekomendasi Motor Listrik Terbaik untuk Ojol dan Kurir: Irit, Jarak Tempuh Jauh!

5 Rekomendasi Motor Listrik Terbaik untuk Ojol dan Kurir: Irit, Jarak Tempuh Jauh!

Otomotif | Jum'at, 13 Juni 2025 | 19:08 WIB

Indonesia dan Singapura Sepakati Ekspor Listrik Bersih dan Pembangunan Kawasan Industri Hijau

Indonesia dan Singapura Sepakati Ekspor Listrik Bersih dan Pembangunan Kawasan Industri Hijau

News | Jum'at, 13 Juni 2025 | 18:30 WIB

Terkini

7 Bedak Lokal untuk 50 Tahun ke Atas, Bantu Samarkan Kerutan dan Garis Halus

7 Bedak Lokal untuk 50 Tahun ke Atas, Bantu Samarkan Kerutan dan Garis Halus

Lifestyle | Minggu, 01 November 2026 | 11:52 WIB

Anime Our Last Crusade Season 3 Resmi Diumumkan, Tujuh Seiyuu Utama Kembali

Anime Our Last Crusade Season 3 Resmi Diumumkan, Tujuh Seiyuu Utama Kembali

Your Say | Minggu, 01 November 2026 | 11:30 WIB

O!Save Punya Siapa? Ini Pemilik Toko Retail Banjir Diskon yang Jadi Sorotan

O!Save Punya Siapa? Ini Pemilik Toko Retail Banjir Diskon yang Jadi Sorotan

Bisnis | Minggu, 01 November 2026 | 11:24 WIB

Kronologi RANS Carnival Diboikot, Aksi 'Warga Jaga Warga' Selamatkan UMKM

Kronologi RANS Carnival Diboikot, Aksi 'Warga Jaga Warga' Selamatkan UMKM

Bisnis | Minggu, 01 November 2026 | 11:22 WIB

Syarat Mengurus KTP Hilang 2026, Cek Dokumen dan Cara Menggantinya Gratis

Syarat Mengurus KTP Hilang 2026, Cek Dokumen dan Cara Menggantinya Gratis

Lifestyle | Minggu, 01 November 2026 | 11:22 WIB

Bela Dandhy Laksono, Menteri HAM: Seseorang Tak Boleh Dihukum karena Daya Cipta dan Karsanya

Bela Dandhy Laksono, Menteri HAM: Seseorang Tak Boleh Dihukum karena Daya Cipta dan Karsanya

News | Minggu, 01 November 2026 | 11:03 WIB

Kenapa Raffi Ahmad Diboikot? Ini Kronologi Acara Sumpah Pemuda sampai Rans Carnival Sepi

Kenapa Raffi Ahmad Diboikot? Ini Kronologi Acara Sumpah Pemuda sampai Rans Carnival Sepi

News | Minggu, 01 November 2026 | 11:03 WIB

Tren Soft Life dan Isu Mental Health: Bisakah Hidup Tenang Tanpa Harus Kaya?

Tren Soft Life dan Isu Mental Health: Bisakah Hidup Tenang Tanpa Harus Kaya?

Your Say | Minggu, 01 November 2026 | 11:00 WIB

Cara Membersihkan Kacamata yang Baik dan Benar, Boleh Dicuci Pakai Air?

Cara Membersihkan Kacamata yang Baik dan Benar, Boleh Dicuci Pakai Air?

Lifestyle | Minggu, 01 November 2026 | 10:46 WIB

Pemerintah Didesak Perjuangkan Hak Kelola Warga atas Eks Konsesi SRL di Pulau Rangsang

Pemerintah Didesak Perjuangkan Hak Kelola Warga atas Eks Konsesi SRL di Pulau Rangsang

Riau | Minggu, 01 November 2026 | 10:33 WIB

×