Bau Amis Perang Dingin Koalisi Prabowo: Manuver Jokowi ke PSI Tanda Keluarga Serakah

Budi Arista Romadhoni

Selasa, 22 Juli 2025 | 06:52 WIB
Bau Amis Perang Dingin Koalisi Prabowo: Manuver Jokowi ke PSI Tanda Keluarga Serakah
Ketua Dewan Direktur Great Institute, Syahganda Nainggolan di Podcast Keadilan TV. [YouTube]

Suara.com - Panggung politik pasca-Pilpres yang semula adem ayem kini mulai menunjukkan sinyal gejolak. Manuver Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang terang-terangan akan 'membesarkan' Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dibaca sebagai genderang yang bisa memicu keretakan di internal koalisi Prabowo Subianto.

Analis politik sekaligus Ketua Dewan Direktur Great Institute, Syahganda Nainggolan, secara blak-blakan menguliti motif di balik langkah Jokowi tersebut.

Menurutnya, ini bukan sekadar dukungan politik biasa, melainkan cerminan ambisi kekuasaan yang besar dan bahkan berakar dari rasa sakit hati.

Dalam sebuah diskusi di podcast Forum Keadilan TV, Syahganda mengurai benang merah yang menghubungkan manuver Jokowi, sindiran elite Gerindra, dan sikap paradoks Prabowo.

Ambisi 'Keluarga Serakah' dan Motif Sakit Hati Jokowi

Joko Widodo, Presiden Indonesia ke-7, mengatakan PSI akan menjadi besar karena bukan partai keluarga. PSI kini dipimpin anak Jokowi, Kaesang Pangarep. [Antara/Maulana Surya]
Joko Widodo, Presiden Indonesia ke-7, mengatakan PSI akan menjadi besar karena bukan partai keluarga. PSI kini dipimpin anak Jokowi, Kaesang Pangarep. [Antara/Maulana Surya]

Syahganda Nainggolan tak segan melabeli manuver politik Istana sebagai indikasi adanya "keluarga serakah" yang ingin mengamankan cengkeraman kekuasaan pasca-2024.

PSI, yang kini dipimpin putra bungsu Jokowi, Kaesang Pangarep, dipandang sebagai kendaraan untuk melanggengkan dinasti politik.

"Jokowi ingin anaknya jadi wapres, satu jadi gubernur (mantu), dan Kaesang tadinya mau diusung jadi gubernur DKI atau Jawa Tengah," ungkap Syahganda, memetakan ambisi keluarga Jokowi.

Lebih dalam, ia menduga ada motif personal yang melatari dukungan penuh Jokowi untuk PSI. Isu lama yang kembali diungkit menjadi pemicunya.

baca juga

"Jokowi berusaha memperbesar PSI karena sakit hati tidak dibela partai lain terkait isu ijazah palsu," ujarnya.

Namun, Syahganda sangsi PSI bisa menjadi partai besar secara organik. Kekuatannya saat ini dinilai hanya semu, sangat bergantung pada patronase Jokowi. "PSI bisa besar? Karena dia disayang rakyat? Enggak. Karena dia menunggangi Jokowi," tegasnya.

Sinyal Perang Dingin: Sindiran Gerindra dan Sikap Paradoks Prabowo

Momen hangat Presiden Prabowo Subianto dan Jokowi saat menikmati bakmi jowo di Warung Bakmi Citro, Minggu (20/7/2025) malam. [Suara.com/Ronald Seger Prabowo]
Momen hangat Presiden Prabowo Subianto dan Jokowi saat menikmati bakmi jowo di Warung Bakmi Citro, Minggu (20/7/2025) malam. [Suara.com/Ronald Seger Prabowo]

Upaya Jokowi membesarkan PSI ternyata tak disambut dengan karpet merah oleh semua anggota koalisi. Justru, sinyal penolakan halus datang dari internal partai pimpinan Prabowo Subianto, Gerindra.

Syahganda menyoroti komentar pedas Ketua Harian DPP Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad, terkait perubahan logo PSI.

"Sufmi Dasco Ahmad dari Gerindra menyindir perubahan lambang PSI dari bunga mawar ke gajah, ini namanya guyonan yang mendiscorate," kata Syahganda.

Sindiran tersebut, menurutnya, adalah sinyal jelas bahwa Gerindra tidak sepenuhnya nyaman dan bisa menjadi awal "perang dingin" di dalam koalisi.

Anehnya, di tengah sindiran dari orang terdekatnya, Prabowo Subianto justru menunjukkan gestur yang sangat berbeda. Kunjungan atau 'sowan' Prabowo ke Jokowi di Solo dibaca Syahganda sebagai bagian dari etika politik tingkat tinggi.

"Prabowo itu politik etis dia sebagai presiden," jelasnya, menyamakan sikap Prabowo dengan tradisi penghormatan pada pemimpin terdahulu. Paradoks ini menarik: Prabowo menjaga etika di level puncak, namun 'prajuritnya' di bawah sudah mulai melontarkan sindiran tajam.

Ancaman 'Indonesia Gelap' dan Potensi Retaknya Duet Jokowi-Prabowo

Hubungan Prabowo dan Jokowi. (Instagram/prabowo)
Hubungan Prabowo dan Jokowi. (Instagram/prabowo)

Dinamika ini diperkirakan dapat memicu pergeseran loyalitas dan potensi keretakan hubungan Jokowi dan Prabowo di masa depan. Syahganda melihat fenomena orang-orang yang dulu setia pada Jokowi, kini mulai mengambil jarak.

Kondisi ini, lanjutnya, berkelindan dengan fakta "Indonesia Gelap" yang menjadi temuan riset Great Institute. Fenomena ini, menurutnya, muncul secara organik akibat sulitnya lapangan kerja, korupsi yang merajalela, dan lambatnya reformasi birokrasi.

Ia bahkan mengutip pandangan Prabowo sendiri yang menyebut "Indonesia Gelap" digerakkan oleh koruptor. Syahganda sepakat, dengan tambahan analisis bahwa barisan ini bisa jadi ditunggangi oleh para koruptor yang sakit hati asetnya disita negara. Dinamika elite yang mulai memanas ini menjadi cermin dari persoalan yang lebih besar di tingkat akar rumput.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Prabowo Subianto Dipuji Setinggi Langit, Begini Kata Ramadhan Pohan

Prabowo Subianto Dipuji Setinggi Langit, Begini Kata Ramadhan Pohan

News | Senin, 21 Juli 2025 | 22:51 WIB

Pilihan Jokowi ke PSI Jadi 'Pilihan Terakhir' Usai Skenario Lain Gagal?

Pilihan Jokowi ke PSI Jadi 'Pilihan Terakhir' Usai Skenario Lain Gagal?

News | Senin, 21 Juli 2025 | 22:45 WIB

Alasan Prabowo Pilih Diam Saat Gibran Terancam Dimakzulkan, Diungkap Rocky Gerung

Alasan Prabowo Pilih Diam Saat Gibran Terancam Dimakzulkan, Diungkap Rocky Gerung

Video | Selasa, 22 Juli 2025 | 06:00 WIB

Terkini

Satu Pelaku Curas di Bekasi Ditangkap, Polisi Dalami Keterkaitan dengan 12 Kasus Lain

Satu Pelaku Curas di Bekasi Ditangkap, Polisi Dalami Keterkaitan dengan 12 Kasus Lain

Jabar | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 23:16 WIB

Gandeng 43 Kampus Muhammadiyah, PERADI Profesional Perkuat Pendidikan dan Integritas Advokat

Gandeng 43 Kampus Muhammadiyah, PERADI Profesional Perkuat Pendidikan dan Integritas Advokat

Jogja | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 23:04 WIB

Jalan Ambles Banjarwangi-Singajaya Sepanjang 15 Meter, Polisi Pasang Garis Pengaman

Jalan Ambles Banjarwangi-Singajaya Sepanjang 15 Meter, Polisi Pasang Garis Pengaman

Jabar | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:59 WIB

Kemasan Bekas Jangan Langsung Dibuang, Mulai Biasakan Mengelolanya dengan Benar

Kemasan Bekas Jangan Langsung Dibuang, Mulai Biasakan Mengelolanya dengan Benar

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:25 WIB

Dear Pemain Keturunan Indonesia di Jerman dan Spanyol, Siap-siap Dipanggil PSSI

Dear Pemain Keturunan Indonesia di Jerman dan Spanyol, Siap-siap Dipanggil PSSI

Bola | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:00 WIB

Tafsir Kerugian Negara Bikin Investor Waswas, Direksi BUMN Bisa Jadi Korban

Tafsir Kerugian Negara Bikin Investor Waswas, Direksi BUMN Bisa Jadi Korban

Bisnis | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:59 WIB

Tak Mau Turun Kasta, BEI Pede Indonesia Selamat dari Ancaman MSCI

Tak Mau Turun Kasta, BEI Pede Indonesia Selamat dari Ancaman MSCI

Bisnis | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:35 WIB

Ramai Dikritik Soal Acara Deklarasi Sumpah Pemuda, Raffi Ahmad Buka Suara

Ramai Dikritik Soal Acara Deklarasi Sumpah Pemuda, Raffi Ahmad Buka Suara

Video | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:30 WIB

In This Economy, Jadi Tentara Bayaran Rusia Diimingi Gaji Selangit Pulang Tinggal Nama

In This Economy, Jadi Tentara Bayaran Rusia Diimingi Gaji Selangit Pulang Tinggal Nama

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:00 WIB

Ketika Nonton Film Bareng Jadi Cara Baru Membangun Kedekatan di Dunia Kerja

Ketika Nonton Film Bareng Jadi Cara Baru Membangun Kedekatan di Dunia Kerja

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 20:47 WIB

×