Operasi Senyap Pasca Tom Lembong Dan Hasto Dibebaskan? Eks Intel Ini Bongkar Rahasianya

Eviera Paramita Sandi | Suara.com

Sabtu, 09 Agustus 2025 | 07:00 WIB
Operasi Senyap Pasca Tom Lembong Dan Hasto Dibebaskan? Eks Intel Ini Bongkar Rahasianya
Prabowo, Tom Lembong, Hasto, dan Jokowi. [IKolase]

Suara.com - Di tengah transisi kekuasaan yang masih hangat, riak-riak politik di bawah permukaan mulai menunjukkan gelombang yang mengkhawatirkan.

Seorang mantan perwira intelijen negara, Kolonel (Purn) Sri Radjasa Chandra, melemparkan sebuah klaim eksplosif ke ruang publik: adanya dugaan operasi senyap dari barisan pendukung Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, yang disebutnya dapat mengancam stabilitas pemerintahan baru di bawah Presiden Prabowo Subianto.

Chandra membongkar adanya informasi mengenai pertemuan-pertemuan rahasia yang ia sebut sebagai operasi berbahaya.

“Beberapa operasi garis dalam yang mereka lakukan sekarang bahkan lebih berkembang kepada persoalan – persoalan yang nanti dapat menggoyahkan kedaulatan. Ini ngeri,” ujar Chandra, dikutip dari YouTube Forum Keadilan TV, Jumat (8/8/25).

Dengan keyakinan penuh pada sumbernya, ia menunjuk satu titik panas yang spesifik.

“Karena saya dapat informasi yang sangat bisa dipercaya, bahwa pendukung Jokowi di Riau mengadakan rapat gelap,” imbuhnya.

Menurut Chandra, agenda pertemuan itu jauh melampaui sekadar konsolidasi politik biasa.

Isu yang diangkat adalah sesuatu yang tabu dan mengancam keutuhan negara.

“Mereka membahas wacana gerakan Riau Merdeka. Gila,” ucapnya tegas. Untuk menguatkan klaimnya, ia menambahkan, “Saya bisa dipercaya, karena dulu dia (yang memberi informasi) juga kaki tangan saya di lapangan.”

Ancaman Efek Domino dan Target Psikologis

Bagi Chandra, yang terbiasa membaca peta ancaman, manuver ini bukanlah sekadar gertakan lokal.

Ia melihatnya sebagai sebuah strategi terukur yang sasarannya adalah kewibawaan presiden yang baru.

“Ini sasarannya kan untuk mengganggu gusar nih kewibawaan presiden ya, kalau sampai ini muncul kembali,” ujarnya.

Lebih jauh, ia memprediksi bahwa Riau hanyalah pemicu.

Jika berhasil, api serupa bisa disulut di wilayah lain yang memiliki catatan sejarah kerawanan.

“Ini bukan terjadi begitu saja, dan mungkin nanti juga akan distimulir didaerah lain, mungkin Bali, Ambon,” jelasnya.

Chandra meluruskan bahwa ini bukanlah gerakan murni dari relawan, melainkan sebuah operasi yang lebih terencana, di mana para loyalis Jokowi mendekati tokoh-tokoh lama yang pernah menyuarakan kemerdekaan Riau.

“Saya tidak bisa mengatakan ini relawan, tapi ini adalah pendukung Jokowi yang mencoba mendekati mereka- mereka yang dulu sempat menggagas gerakan Riau Merdeka, terjadilah rapat untuk mewacanakan Kembali,” terangnya.

“Ini sangat tertutup sekali, mangkanya hanya sedikit orang yang mengetahui ini.”

Pemicunya, menurut Chandra, adalah langkah politik Prabowo yang memberikan Abolisi dan Amnesti kepada Tom Lembong serta Hasto Kristiyanto.

“Rapatnya sekitar 2 minggu yang lalu,” sebutnya.

“Pokoknya ini pasca Abolisi dan Amnesti, barulah mulai muncul itu.”

Chandra menganalisis bahwa metode ini sejalan dengan pola pergerakan mesin politik Jokowi yang ia sebut pragmatis.

“Jokowi itu menggerakkan mesin politiknya kekuatan massanya pada pragmatisme. Itulah mengapa Jokowi mudah, karena dengan mudahnya siram uang, jalan dan selalu begitu,” urainya.

Ia melihat ini sebagai bagian dari skenario yang lebih besar untuk memancing reaksi Prabowo.

“Kemudian munculah perorangan maki – maki Prabowo, muncul ini One Piece, nanti muncul lagi separatis. Dan semua ini terkait pada posisi kondisi psikologis Prabowo yang mudah terbakar,” sambungnya.

Puncak dari rencana ini, menurut informasi yang ia terima, adalah sebuah deklarasi terbuka.

“Nanti dia akan mencari waktu, Menyusun kekuatan massa dulu. Mereka akan melakukan deklarasi Riau Merdeka. Ini sangat berani, ini Tindakan separatis,” ujarnya.

“Ini sudah ada, tapi kita masih menyelidiki kapan itu akan terjadi,” katanya.

Manuver Prabowo: Menjauhi Jokowi atau Merangkul Lawan?

Di sisi lain, langkah Prabowo memberikan amnesti dan abolisi kepada Hasto dan Tom Lembong, figur yang jelas-jelas berseberangan dengan Jokowi justru dibaca berbeda oleh analis politik.

Muncul narasi bahwa Prabowo mulai membangun jalannya sendiri dan mengambil jarak dari pengaruh pendahulunya.

Namun, analis politik M. Qodari menepis pandangan tersebut.

Menurutnya, tindakan Prabowo bukanlah sinyal perpisahan, melainkan langkah seorang negarawan.

Qodari menyebut, bagi seorang presiden, menjaga hubungan baik dengan semua kekuatan politik adalah sebuah keharusan.

Dalam pembacaan ini, merangkul lawan politik bukanlah tanda menjauhi kawan lama, melainkan sebuah strategi untuk membangun fondasi politik yang kokoh demi stabilitas nasional sebuah langkah yang mungkin justru menjadi antitesis dari skenario destabilisasi yang diungkap oleh Chandra.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Efek Abolisi Tom Lembong: Kenapa 9 Terdakwa Lain Kasus Impor Gula Tetap Disidang?

Efek Abolisi Tom Lembong: Kenapa 9 Terdakwa Lain Kasus Impor Gula Tetap Disidang?

News | Jum'at, 08 Agustus 2025 | 19:15 WIB

Pakar Ungkap Kalkulasi Cerdas Prabowo: 'Selamatkan' Tom Lembong Demi Jaga Kepercayaan Investor

Pakar Ungkap Kalkulasi Cerdas Prabowo: 'Selamatkan' Tom Lembong Demi Jaga Kepercayaan Investor

News | Jum'at, 08 Agustus 2025 | 18:39 WIB

Surya Paloh Bela Prabowo Mati-Matian: Sinyal NasDem Masuk Kabinet?

Surya Paloh Bela Prabowo Mati-Matian: Sinyal NasDem Masuk Kabinet?

News | Jum'at, 08 Agustus 2025 | 18:21 WIB

Terkini

Iran Ajak Negara Arab Bersatu Bentuk Pakta Pertahanan Berbasis Al Quran

Iran Ajak Negara Arab Bersatu Bentuk Pakta Pertahanan Berbasis Al Quran

News | Rabu, 25 Maret 2026 | 13:02 WIB

Noel Mau Ikutan Yaqut untuk Ajukan Pengalihan Penahanan, KPK: Kewenangan Hakim

Noel Mau Ikutan Yaqut untuk Ajukan Pengalihan Penahanan, KPK: Kewenangan Hakim

News | Rabu, 25 Maret 2026 | 12:56 WIB

Pramono Anung Tegaskan Kebijakan WFA bagi ASN DKI Berlaku hingga 27 Maret

Pramono Anung Tegaskan Kebijakan WFA bagi ASN DKI Berlaku hingga 27 Maret

News | Rabu, 25 Maret 2026 | 12:55 WIB

Awal Retaknya Hubungan Trump - Netanyahu, Skenario Rahasia Mossad yang Gagal

Awal Retaknya Hubungan Trump - Netanyahu, Skenario Rahasia Mossad yang Gagal

News | Rabu, 25 Maret 2026 | 12:47 WIB

Nasib Selat Hormuz dan Pasokan Minyak Dunia Bergantung Pada Respon Iran Terhadap Proposal AS

Nasib Selat Hormuz dan Pasokan Minyak Dunia Bergantung Pada Respon Iran Terhadap Proposal AS

News | Rabu, 25 Maret 2026 | 12:43 WIB

ASN Jakarta Malas Kerja Usai WFA Siap-siap Disanksi, Pramono Anung: Tak Ada Keringanan!

ASN Jakarta Malas Kerja Usai WFA Siap-siap Disanksi, Pramono Anung: Tak Ada Keringanan!

News | Rabu, 25 Maret 2026 | 12:39 WIB

Puncak Arus Balik dari Jogja Pertama Terlewati, Gelombang Kedua Diprediksi Akhir Pekan

Puncak Arus Balik dari Jogja Pertama Terlewati, Gelombang Kedua Diprediksi Akhir Pekan

News | Rabu, 25 Maret 2026 | 12:13 WIB

Syarat Mutlak Iran Bagi Kapal Internasional di Selat Hormuz Agar Bisa Melintas Dengan Selamat

Syarat Mutlak Iran Bagi Kapal Internasional di Selat Hormuz Agar Bisa Melintas Dengan Selamat

News | Rabu, 25 Maret 2026 | 12:05 WIB

Pramono Minta Penertiban Parkir Liar Diperkeras, Soroti Monas hingga Belakang Grand Indonesia

Pramono Minta Penertiban Parkir Liar Diperkeras, Soroti Monas hingga Belakang Grand Indonesia

News | Rabu, 25 Maret 2026 | 11:57 WIB

Eks Ketua PN Depok Ajukan Praperadilan, KPK Langsung Minta Penundaan Sidang Perdana

Eks Ketua PN Depok Ajukan Praperadilan, KPK Langsung Minta Penundaan Sidang Perdana

News | Rabu, 25 Maret 2026 | 11:49 WIB