Ironi Senayan: Demo Berdarah di Luar, Pejabat Santai di Dalam - TikTok Ungkap Fakta Pahit!

Kamis, 28 Agustus 2025 | 19:34 WIB
Ironi Senayan: Demo Berdarah di Luar, Pejabat Santai di Dalam - TikTok Ungkap Fakta Pahit!
Kolase suasana demo DPR RI di luar dan di dalam gedung parlemen. (Instagram)
Kesimpulan
  • Demo 28 Agustus 2025 pecah di jalanan ibu kota
  • Aspirasi masyarakat seakan tak didengar anggota dewan karena jarak
  • Parahnya jarak ini justru dibuat makin parah dengan reaksi blunder anggota dewan

Suara.com - Pemandangan demonstrasi di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI di Senayan, Jakarta, seolah sudah menjadi rutinitas.

Bahkan demo Kamis (28/8/2025) pagi hingga malam ini ikut menambah keriuhan Ibu Kota di tengah gejolak ekonomi tak menentu di Indonesia.

Ribuan massa dari berbagai elemen masyarakat kerap berunjuk rasa, menyuarakan aspirasi, kritik, hingga tuntutan perubahan.

Namun, sebuah video TikTok viral baru-baru ini membuka mata publik tentang sebuah kenyataan pahit: sekeras apa pun orasi dan tuntutan yang disampaikan, suara rakyat itu nyaris mustahil mencapai telinga para wakilnya di dalam gedung.

Video yang diunggah akun @duniapunyacerita_ memperlihatkan suasana di dalam kompleks parlemen.

Dari sudut pandang perekam, terlihat jelas betapa jauhnya lokasi gerbang depan tempat demonstran berkumpul dengan bangunan utama Gedung DPR.

Jarak yang membentang ini bukan sekadar pemisah fisik, melainkan juga simbol jurang komunikasi antara rakyat dan para pembuat kebijakan.

"Kalo orasinya pake sound horeg kira kira kedengeran ga ya?" tulis keterangan video tersebut, menyiratkan keraguan yang mendalam akan efektivitas suara rakyat.

Ironisnya, di saat massa di luar gedung berjuang mati-matian menyampaikan aspirasi, menghadapi panas terik matahari atau bentrokan dengan aparat, kondisi di dalam gedung Senayan justru kontras.

Baca Juga: Apa Syarat Pendidikan Anggota DPR RI? Nafa Urbach Belum Lulus S1 Jadi Sorotan

Anggota dewan dan staf dapat beraktivitas seperti biasa: rapat, bersantap siang di kantin mewah, atau sekadar berbincang santai di lobi.

Penjagaan ketat, dengan barisan aparat dan pagar tinggi, memastikan bahwa kenyamanan di dalam tidak terusik oleh gejolak di luar.

Sebuah komentar di video TikTok tersebut secara gamblang menyatakan, "yang kasian rakyat dan polisi saling serang berdarah-darah, eh pejabatnya santuyyyy," yang menunjukkan sentimen publik terhadap situasi ini.

Jarak Fisik, Jarak Hati: Aspirasi yang Terbungkam

Mungkin ada alasan keamanan di balik tata letak kompleks parlemen yang begitu luas dan berjarak dari jalan raya.

Namun, bagi masyarakat, kondisi ini sering dimaknai sebagai upaya disengaja untuk mengisolasi anggota dewan dari realitas di luar.

"Tau kan kenapa pintu gerbang sama gedung dibikin jauh, ya gini alasannya," celetuk salah satu netizen.

Seberapa pun canggihnya sistem pengeras suara yang dibawa demonstran, tembok tebal dan jarak ratusan meter itu akan meredam suara tuntutan menjadi sekadar sayup-sayup yang tak teridentifikasi.

Ini menimbulkan pertanyaan fundamental: jika aspirasi tak terdengar, bagaimana kebijakan dapat mencerminkan kehendak rakyat?

Realitas ini semakin menyesakkan ketika dikaitkan dengan serangkaian blunder yang dilakukan oleh sebagian anggota dewan belakangan ini.

Publik masih ingat betul berbagai pernyataan kontroversial yang justru menyulut amarah masyarakat.

Blunder kata-kata dari tokoh publik yang kini duduk di kursi parlemen, seperti yang pernah dilontarkan oleh Uya Kuya atau Eko Patrio, kerap memicu gelombang protes.

Pernyataan yang dianggap tidak sensitif, jauh dari empati, atau terkesan meremehkan masalah rakyat, dengan cepat menyebar luas dan memancing reaksi keras.

Contoh lain adalah reaksi anggota dewan seperti Ahmad Sahroni terhadap isu-isu krusial.

Alih-alih memberikan solusi atau menunjukkan empati, beberapa pernyataannya justru dianggap menyulut emosi warga dan menimbulkan kritikan pedas karena dinilai tidak memberikan kontribusi jelas untuk masyarakat.

Kejadian-kejadian ini memperparah persepsi publik bahwa ada 'jarak' bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara mental dan emosional antara wakil rakyat dan mereka yang diwakili.

Ketika suara di luar gerbang dibungkam oleh jarak dan keamanan, dan suara di dalam gedung justru diwarnai blunder yang menyakiti hati, kepercayaan publik terhadap lembaga legislatif semakin terkikis.

Fenomena video TikTok ini menjadi pengingat tajam bahwa di tengah hiruk pikuk politik dan kemudahan informasi, gap antara penguasa dan rakyat kecil masih menjadi tantangan besar demokrasi Indonesia.

Pertanyaannya, kapan suara "sound horeg" rakyat akan benar-benar bergema dan mengubah suasana di dalam Gedung Senayan?

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI

Ingin dapat update berita terbaru langsung di browser Anda?