Badai Api Mengguncang Bumi: Tantangan Baru Ilmuwan di Era Pemanasan Global

Bimo Aria Fundrika

Senin, 06 Oktober 2025 | 11:35 WIB
Badai Api Mengguncang Bumi: Tantangan Baru Ilmuwan di Era Pemanasan Global
Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan.
baca 10 detik
    • Kebakaran hutan ekstrem dapat menciptakan badai langka bernama pyrocumulonimbus.
    • Badai ini menyebarkan api dan kilat tanpa hujan yang memperluas kebakaran.
    • Ilmuwan kini dapat memodelkan badai api untuk meningkatkan peringatan dini dan kesiapsiagaan.

Suara.com - Ilmuwan di seluruh dunia dibuat pusing oleh satu fenomena cuaca langka yaitu badai yang lahir dari kebakaran hutan. Kebakaran besar yang panasnya ekstrim ternyata juga bisa membangkitkan sistem cuacanya sendiri. Setiap tahunnya para peneliti memperkirakan ada puluhan hingga ratusan badai semacam ini selalu terjadi, dan tren perubahan iklim membuat jumlahnya diprediksi semakin banyak di masa depan.

Fenomena ini telah menjadi bagian dari “musim kebakaran global” dengan dampak berlapis yaitu kualitas udara menurun, cuaca semakin sulit ditebak, dan krisis iklim makin parah.

Lebih jauh, badai api ini justru mempersulit pemadam kebakaran di lapangan karena membuat kobaran api semakin liar dan tak terkendali.

Saat vegetasi terbakar, udara di dekat permukaan tanah memanas dan naik ke atas. Ruang kosong yang ditinggalkan segera diisi udara dingin, menciptakan pola angin baru.

Jika kondisinya tepat, gumpalan asap panas ini mendingin dan berubah menjadi awan raksasa yang dikenal dengan nama pyrocumulonimbus (pyroCB).

Helikopter water bombing VN8416 milik BNPB melintas dengan latar pohon yang meranggas saat memadamkan api kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lahan gambut Desa Gambut Jaya, Muaro Jambi, Jambi, Rabu (30/7/2025). [ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/foc]
Helikopter water bombing VN8416 milik BNPB melintas dengan latar pohon yang meranggas saat memadamkan api kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lahan gambut Desa Gambut Jaya, Muaro Jambi, Jambi, Rabu (30/7/2025). [ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/foc]

Ilmuwan NASA menjuluki awan ini “naga awan yang menyemburkan api” karena kekuatannya luar biasa. Jika energi yang dilepaskan cukup besar, pyroCB bisa memicu badai petir yang menghasilkan arus udara ke bawah, menyebarkan api ke arah tak terduga, bahkan melahirkan kilat berbahaya yang dapat menyalakan kebakaran baru.

Lebih mengkhawatirkan lagi, badai ini sering berupa badai kering dimana kilat menyambar tanpa diikuti hujan.

Akibatnya, bukannya memadamkan api, justru muncul titik-titik kebakaran baru yang makin meluas.

Contoh nyata fenomena badai api bukan sekadar teori. Pada tahun 2020, Kebakaran Creek di California menghasilkan pyroCB yang sangat besar.

baca juga

Awan ini menurunkan kilat dan angin kencang, membuat api kian menyebar dan membahayakan petugas pemadam di lapangan.
Kasus serupa terjadi di Pedrógão Grande, Portugal, pada 2017. Asap hitam tebal menjulang hingga 13 kilometer ke atmosfer, sebelum runtuh kembali dan menyalakan “bom api” yang menyebarkan percikan ke segala arah. Peristiwa itu menewaskan 66 orang, melukai 250 lainnya, serta membakar lebih dari 24.000 hektar lahan dan 500 rumah hanya dalam lima hari.

Namun kini para peneliti berhasil merekonstruksi secara detail bagaimana awan pyroCB terbentuk. Dalam studi yang dipimpin oleh Ziming Ke dari Desert Research Institute, model komputer berhasil meniru waktu, ketinggian, dan kekuatan awan badai dari Kebakaran Creek 2020. Lebih jauh, model ini juga berhasil mereplikasi badai petir dari Kebakaran Dixie tahun 2021 meski terjadi dalam kondisi berbeda.

Menurut Ziming, ini adalah “terobosan pertama dalam pemodelan sistem Bumi” yang bisa meningkatkan kesiapsiagaan nasional.

Dengan kemampuan baru ini, ilmuwan bisa memperkirakan kapan dan dimana badai api berpotensi muncul, sehingga langkah pencegahan maupun penanggulangan bisa lebih efektif.

Dampaknya bagi iklim global PyroCB ini bukan hanya berbahaya di lokasi kebakaran. Awan ini menyuntikkan asap dan uap air ke atmosfer bagian atas dengan skala yang setara letusan gunung berapi kecil. Partikel polusi yang dihasilkan bisa bertahan selama berbulan-bulan, mengubah cara atmosfer menyerap dan memantulkan cahaya matahari.

Jika terbawa angin hingga ke kutub, partikel ini bahkan dapat mempercepat pencairan es dan salju. Artinya, badai api tidak hanya menjadi ancaman lokal, tetapi juga memperburuk pemanasan global secara keseluruhan.

Dengan semakin panjang dan intensifnya musim kebakaran hutan di seluruh dunia, kemampuan untuk memprediksi fenomena ini bisa menjadi kunci dalam melindungi kehidupan, lingkungan, dan sistem iklim planet kita.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

"Segel Tambang, Bukan Wisata Alam": Warga Puncak Sampaikan Protes ke Menteri LH

"Segel Tambang, Bukan Wisata Alam": Warga Puncak Sampaikan Protes ke Menteri LH

News | Sabtu, 04 Oktober 2025 | 13:57 WIB

Dari Posyandu Hingga Maggot: Kisah Inspiratif Gerakan Masyarakat Ciptakan Lingkungan Sehat

Dari Posyandu Hingga Maggot: Kisah Inspiratif Gerakan Masyarakat Ciptakan Lingkungan Sehat

Lifestyle | Jum'at, 03 Oktober 2025 | 15:26 WIB

Saat Pemuda Adat Tampil di Panggung Dunia Membela Hutan dan Budaya: Mengapa Ini Penting?

Saat Pemuda Adat Tampil di Panggung Dunia Membela Hutan dan Budaya: Mengapa Ini Penting?

Your Say | Jum'at, 03 Oktober 2025 | 11:20 WIB

Terkini

Polda Metro Sita Golok dan 19 Anak Panah di Demo 27 Agustus, 45 Orang Jadi Tersangka

Polda Metro Sita Golok dan 19 Anak Panah di Demo 27 Agustus, 45 Orang Jadi Tersangka

News | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 19:27 WIB

Indonesia Sustainability 360 Forum 2026: Kolaborasi Lintas Sektor Dorong Transformasi Ekonomi Hijau

Indonesia Sustainability 360 Forum 2026: Kolaborasi Lintas Sektor Dorong Transformasi Ekonomi Hijau

News | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 19:26 WIB

Anggaran BGN Tembus Rp 240 Triliun di 2027: Operasional Cuma 3%, Buat MBG 97%

Anggaran BGN Tembus Rp 240 Triliun di 2027: Operasional Cuma 3%, Buat MBG 97%

Bisnis | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 19:24 WIB

Hujan Buatan Diklaim Tekan Polusi Jakarta hingga 57 Persen

Hujan Buatan Diklaim Tekan Polusi Jakarta hingga 57 Persen

News | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 19:23 WIB

Hasto PDIP Kaget Isu Percepatan Muncul di Depan Jokowi: Itu Inkonstitusional

Hasto PDIP Kaget Isu Percepatan Muncul di Depan Jokowi: Itu Inkonstitusional

News | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 19:20 WIB

9 Warga Singapura Korban Banjir Bandang Nepal Hilang, Keluarga Menangis Sulit Update Informasi

9 Warga Singapura Korban Banjir Bandang Nepal Hilang, Keluarga Menangis Sulit Update Informasi

News | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 19:17 WIB

Gus Yusuf Ajak Peserta Muktamar NU Bantu Korban Gempa NTT

Gus Yusuf Ajak Peserta Muktamar NU Bantu Korban Gempa NTT

Jawa Tengah | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 19:15 WIB

Auto Pede Pakai Tank Top! 5 Underarm Cream yang Merawat dan Mencerahkan

Auto Pede Pakai Tank Top! 5 Underarm Cream yang Merawat dan Mencerahkan

Your Say | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 19:15 WIB

Ada Perusahaan Baja Puluhan Tahun Tak Bayar Pajak, Purbaya Ungkap Pegawai DJP dan Siap Pecatin!

Ada Perusahaan Baja Puluhan Tahun Tak Bayar Pajak, Purbaya Ungkap Pegawai DJP dan Siap Pecatin!

Bisnis | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 19:14 WIB

Keluarga Tolak Autopsi Bambang yang Tewas Dikeroyok Saat Pejompongan Ricuh

Keluarga Tolak Autopsi Bambang yang Tewas Dikeroyok Saat Pejompongan Ricuh

News | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 19:12 WIB

×