Neraka Itu di Kediaman Sendiri, Mengapa Rumah Jadi Tempat Paling Berbahaya Bagi Anak di Jakarta?

Bangun Santoso, Faqih Fathurrahman

Kamis, 04 Desember 2025 | 17:50 WIB
Neraka Itu di Kediaman Sendiri, Mengapa Rumah Jadi Tempat Paling Berbahaya Bagi Anak di Jakarta?
Ilustrasi korban kekerasan terhadap anak. (Suara.com/Aldie)
  • DKI Jakarta mencatat 1.096 kasus kekerasan anak hingga November 2025, dengan 56% terjadi di lingkungan rumah.
  • Pelaku utama kekerasan sering kali adalah orang terdekat korban, termasuk ayah kandung atau ayah tiri di Jakarta.
  • Pemicu kekerasan meliputi kurangnya edukasi pengasuhan, stres ekonomi, dan dampak negatif judi daring (judol).

Suara.com - Rumah seharusnya menjadi surga teraman bagi seorang anak. Namun, sebuah fakta kelam yang diungkap Pemerintah Provinsi DKI Jakarta justru menunjukkan sebaliknya. Ruang yang seharusnya penuh kehangatan itu kini menjadi lokasi paling dominan terjadinya kekerasan terhadap anak di Ibu Kota.

Data ini bukan sekadar angka, melainkan alarm darurat bagi ribuan keluarga di Jakarta. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, membeberkan statistik yang sangat memprihatinkan.

Hingga menjelang akhir tahun 2025, laporan yang masuk sudah menembus angka seribu, dengan rumah menjadi episentrum kekerasan.

"Hingga akhir November 2025, Pusat Pelayanan Perempuan dan Anak DKI Jakarta menerima aduan sejumlah kurang lebih 1.096 kasus kekerasan terhadap anak, sebanyak 56 persen terjadi di rumah," ujar Pramono di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat, Selasa (2/12/2025).

Yang membuat situasi ini semakin tragis adalah identitas pelakunya. Kekerasan itu tidak datang dari orang asing, melainkan dari lingkaran terdekat yang seharusnya melindungi.

Pramono menunjuk figur ayah sebagai salah satu pelaku utama dalam lingkaran setan ini.

"Biasanya yang melakukan, termasuk di dalamnya adalah ayah kandung atau ayah tiri," katanya.

Fenomena ini jelas menunjukkan ada sesuatu yang salah secara fundamental dalam unit terkecil masyarakat. Lantas, apa yang sebenarnya memicu orang tua, terutama seorang ayah, tega melakukan kekerasan terhadap darah dagingnya sendiri di balik tembok rumah?

Pola Asuh hingga Judi Online

Ilustrasi kekerasan anak dan perempuan. [Ist]
Ilustrasi kekerasan anak dan perempuan. [Ist]

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu melihat lebih dalam dari sekadar data kasus.

Psikolog dari Universitas Paramadina, Muhammad Iqbal, menjelaskan bahwa fenomena ini adalah puncak gunung es dari berbagai masalah kompleks yang saling berkelindan.

Akar utamanya, menurut Iqbal, adalah minimnya edukasi dan kapabilitas orang tua dalam mengasuh anak.

Banyak orang tua terjun ke dalam peran barunya tanpa bekal yang cukup, belajar secara otodidak, dan tak jarang mengulang pola asuh keliru dari generasi sebelumnya.

"Pengasuhan ini tidak ada sekolahnya makanya perlu peran serta dari pemerintah daerah memberikan anggaran untuk pelatihan pengasuhan anak,” tandas Iqbal saat dihubungi Suara.com, Kamis (4/12/2025).

Faktor kedua yang tak kalah dominan adalah tekanan hidup yang menghimpit. Kesulitan ekonomi, beban pekerjaan, hingga jeratan utang menciptakan stres kronis.

Dalam kondisi tertekan, orang tua kehilangan kontrol emosi dan anak-anak yang tak berdaya seringkali menjadi pelampiasan termudah.

Masalah ini diperparah oleh merebaknya penyakit masyarakat modern seperti penyalahgunaan narkotika, alkohol, dan terutama judi online yang kian meresahkan.

“Kekerasan terhadap anak juga dipengaruhi oleh stress, tekanan hidup termasuk juga penyalahgunaan alkohol, narkoba dan juga judol yang membuat orang tua akhirnya menghadapi tekanan hidup dan akhirnya anak jadi pelampiasan,” jelas Iqbal.

Perlu Intervensi Negara

Wajah Suram Kekerasan Anak di Ibu Kota. (tim grafis Suara.com)
Wajah Suram Kekerasan Anak di Ibu Kota. (tim grafis Suara.com)

Melihat situasi darurat ini, Gubernur Pramono Anung menegaskan bahwa negara tidak bisa tinggal diam. Intervensi serius dan terstruktur menjadi sebuah keharusan mutlak untuk memutus mata rantai kekerasan ini.

"Maka ini tentunya menjadi perhatian kita semua, untuk bagaimana negara atau pemerintah hadir untuk hal-hal tersebut," katanya.

Salah satu solusi konkret yang diusulkan Muhammad Iqbal adalah intervensi sejak dini, bahkan sebelum sebuah keluarga terbentuk.

Ia mendorong pemerintah untuk mewajibkan dan memfasilitasi pelatihan pranikah yang komprehensif.

“Pemerintah daerah memfasilitasi pelatihan pra nikah, baik itu tentang kesehatan reproduksi, tentang tanggung jawab suami dan istri, tentang pengetahuan agama, termasuk juga tentang pengasuhan,” beber Iqbal.

Sejalan dengan itu, Pemprov DKI Jakarta menyatakan komitmennya untuk mendukung program penguatan peran ayah dalam keluarga melalui "Gerakan Ayah Teladan Indonesia".

Program itu sejalan dengan pandangan bahwa figur ayah memegang peran sentral dalam membentuk karakter anak. Ketika sang ayah gagal menjadi teladan yang baik, dampaknya bisa sangat merusak.

"Dalam sebuah keluarga, ketika seorang ayah menjadi peran sentral, selalu menjadi role model. Ketika ayahnya baik, role model-nya baik. Ketika ayahnya tidak baik, pasti role model-nya juga tidak baik. Itu sudah terjadi," ujar Gubernur Pramono.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Banyak Perempuan Terjebak Hubungan Toxic, KPPPA: 1 dari 2 Orang Pernah Alami Kekerasan Psikologis

Banyak Perempuan Terjebak Hubungan Toxic, KPPPA: 1 dari 2 Orang Pernah Alami Kekerasan Psikologis

News | Kamis, 04 Desember 2025 | 16:15 WIB

Ulsan HD Minta Maaf, Benarkan Shin Tae-yong Lakukan Kekerasan?

Ulsan HD Minta Maaf, Benarkan Shin Tae-yong Lakukan Kekerasan?

Bola | Selasa, 02 Desember 2025 | 15:58 WIB

Lebih dari 1000 Anak di Jakarta Jadi Korban Kekerasan, Pramono Anung: 56 Persen Terjadi di Rumah

Lebih dari 1000 Anak di Jakarta Jadi Korban Kekerasan, Pramono Anung: 56 Persen Terjadi di Rumah

News | Selasa, 02 Desember 2025 | 11:44 WIB

Kronologis Isu Shin Tae-yong Lakukan Kekerasan Brutal ke Pemain Ulsan HD

Kronologis Isu Shin Tae-yong Lakukan Kekerasan Brutal ke Pemain Ulsan HD

Bola | Selasa, 02 Desember 2025 | 06:56 WIB

5 Rekomendasi Novel yang Menyinggung Isu Kekerasan terhadap Perempuan

5 Rekomendasi Novel yang Menyinggung Isu Kekerasan terhadap Perempuan

Your Say | Senin, 01 Desember 2025 | 12:50 WIB

Driver Taksi Rudapaksa Penumpang, DPR: Negara Tak Boleh Biarkan Perempuan Hidup Dalam Rasa Tak Aman

Driver Taksi Rudapaksa Penumpang, DPR: Negara Tak Boleh Biarkan Perempuan Hidup Dalam Rasa Tak Aman

News | Sabtu, 29 November 2025 | 11:36 WIB

Kekerasan Terus Meningkat, Ini Cara Pemerintah Lindungi Anak dan Perempuan

Kekerasan Terus Meningkat, Ini Cara Pemerintah Lindungi Anak dan Perempuan

Lifestyle | Rabu, 26 November 2025 | 18:10 WIB

Terkini

BGN Diguncang Korupsi: Cukupkah Pergantian Pimpinan Selamatkan Program MBG?

BGN Diguncang Korupsi: Cukupkah Pergantian Pimpinan Selamatkan Program MBG?

News | Minggu, 07 Juni 2026 | 08:55 WIB

Bulog Pastikan Beras Bantuan di Bangkalan Diganti Sebelum Disalurkan, Komitmen Jaga Kualitas Bantuan

Bulog Pastikan Beras Bantuan di Bangkalan Diganti Sebelum Disalurkan, Komitmen Jaga Kualitas Bantuan

News | Minggu, 07 Juni 2026 | 07:27 WIB

Bulog Gelontorkan Beras SPHP & Percepat Penyaluran Bantuan Pangan untuk Jaga Stabilitas Harga Beras

Bulog Gelontorkan Beras SPHP & Percepat Penyaluran Bantuan Pangan untuk Jaga Stabilitas Harga Beras

News | Minggu, 07 Juni 2026 | 07:24 WIB

KPK Ungkap Alasan Tak Menerbitkan Surat Panggilan untuk Silmy Karim

KPK Ungkap Alasan Tak Menerbitkan Surat Panggilan untuk Silmy Karim

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 21:30 WIB

Pemprov DKI Buka 2.843 Lowongan Padat Karya, Syaratnya Cukup KTP Jakarta

Pemprov DKI Buka 2.843 Lowongan Padat Karya, Syaratnya Cukup KTP Jakarta

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 20:56 WIB

Gus Ipul Kunjungi Al Falah Ploso, Minta Doa Kiai Huda untuk Munas-Konbes 2026

Gus Ipul Kunjungi Al Falah Ploso, Minta Doa Kiai Huda untuk Munas-Konbes 2026

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 20:12 WIB

Sepertiga Kelurahan di Jakarta Belum Punya Pos Pemadam Kebakaran

Sepertiga Kelurahan di Jakarta Belum Punya Pos Pemadam Kebakaran

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 19:37 WIB

Prasasti: Stabilitas Rupiah dan Inflasi Jadi Ujian Pemerintah

Prasasti: Stabilitas Rupiah dan Inflasi Jadi Ujian Pemerintah

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 18:38 WIB

Ekstradisi Paulus Tannos ke Indonesia Tunggu Sidang Lanjutan di Singapura pada Agustus 2026

Ekstradisi Paulus Tannos ke Indonesia Tunggu Sidang Lanjutan di Singapura pada Agustus 2026

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 17:40 WIB

ICW soal Kasus Silmy Karim: Pemerasan Masih Marak, Pemerintah Gagal Benahi Sistem Perizinan.

ICW soal Kasus Silmy Karim: Pemerasan Masih Marak, Pemerintah Gagal Benahi Sistem Perizinan.

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 17:18 WIB