Kebahagiaan Rakyat Jangan Berhenti Jadi Simbol, Harus Diiringi Kesejahteraan Nyata

Dwi Bowo Raharjo, Lilis Varwati

Rabu, 07 Januari 2026 | 16:18 WIB
Kebahagiaan Rakyat Jangan Berhenti Jadi Simbol, Harus Diiringi Kesejahteraan Nyata
Ilustrasi masyarakat indonesia tetap merasa bahagia di tengah kehidupan yang sederhana. (Suara.com/Syahda)
baca 10 detik
  • Presiden Prabowo tersentuh hasil survei Global Flourishing Study menempatkan Indonesia bahagia meskipun kesejahteraan belum ideal.
  • Pengamat menilai kebahagiaan rakyat harus mendorong kebijakan nyata perbaikan ekonomi, bukan membenarkan ketimpangan sosial.
  • Sosiolog melihat kebahagiaan kolektif dapat menormalisasi kemiskinan, melepaskan tanggung jawab struktural elit politik dan negara.

Suara.com - Nada bicara Presiden Prabowo Subianto mendadak melambat. Ekspresinya mengeras, penuh keseriusan. Di hadapan ribuan hadirin, ia sempat terdiam sejenak, seolah sedang menata gejolak emosi yang tertahan di dada.

Momen emosional itu terekam saat Presiden menyinggung potret kontradiktif bangsa ini: Indonesia dinobatkan sebagai salah satu negara paling bahagia di dunia, meski kemiskinan masih menjadi bayang-bayang nyata.

Prabowo merujuk pada hasil Global Flourishing Study (GFS) hasil kolaborasi Harvard University, Baylor University, dan Gallup. Studi itu menempatkan Indonesia di jajaran teratas indeks kebahagiaan global. Sebuah pencapaian yang membuat sang Presiden terenyuh sekaligus masygul.

Ia secara terbuka mengakui bahwa dapur mayoritas rakyat Indonesia belum sepenuhnya mengepul dengan layak. Pekerjaan rumah pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan masih menumpuk. Namun, ketangguhan mental rakyatnya membuat Prabowo tak bisa menyembunyikan rasa haru.

"Saya paham bahwa sebagian besar rakyat kita sesungguhnya masih mengalami kehidupan yang sangat sederhana. Tetapi kalau ditanya, masih mengatakan bahwa dia bahagia," ujar Prabowo dalam pidatonya di Perayaan Natal Nasional di GBK, Senayan, Jakarta, Senin (5/1/2026).

Bagi Prabowo, kemampuan rakyat untuk tetap optimis dan saling menjaga di tengah keterbatasan adalah modal sosial yang luar biasa. Namun, di mata para pakar, rasa haru Presiden ini adalah alarm besar yang harus disikapi dengan kebijakan konkret, bukan sekadar romantisme emosional.

Jangan Biarkan Kebahagiaan Menjadi Tameng Ketimpangan

Pengamat politik Universitas Jenderal Soedirman, Ahmad Sabiq, mengingatkan bahwa air mata atau rasa haru negara tidak akan mengubah nasib rakyat jika tidak diikuti langkah nyata. Menurutnya, daya tahan sosial masyarakat yang kuat jangan sampai membuat pemerintah terlena atau berpuas diri.

Sabiq melihat ada risiko besar jika kebahagiaan ini justru dirayakan secara berlebihan di tengah himpitan ekonomi. Ia khawatir negara terjebak dalam rasa aman semu, yang kemudian melemahkan urgensi pengentasan kemiskinan.

baca juga
Infografis Global Flourishing Study (GFS) hasil kolaborasi Harvard University, Baylor University, dan Gallup. Studi menempatkan Indonesia di jajaran teratas indeks kebahagiaan global. Sebuah pencapaian yang membuat sang Presiden terenyuh sekaligus masygul. (Suara.com/Syahda)
Infografis Global Flourishing Study (GFS) hasil kolaborasi Harvard University, Baylor University, dan Gallup. Studi menempatkan Indonesia di jajaran teratas indeks kebahagiaan global. Sebuah pencapaian yang membuat sang Presiden terenyuh sekaligus masygul. (Suara.com/Syahda)

“Kebahagiaan rakyat seharusnya diterjemahkan dalam kebijakan nyata yang langsung menyentuh kehidupan mereka, seperti membuka lebih banyak lapangan kerja yang layak, memperluas bantuan sosial, menurunkan biaya hidup, serta meningkatkan kualitas layanan pendidikan dan kesehatan,” kata Sabiq.

Sabiq menegaskan, rasa syukur dan nilai budaya lokal memang bisa membuat seseorang merasa bahagia meski hidup susah. Namun, itu bukan alasan untuk membiarkan ketidakadilan ekonomi terus berlangsung.

“Kalau ini disalahartikan, kebahagiaan justru bisa digunakan untuk membenarkan ketimpangan dan memperlambat upaya perbaikan kesejahteraan,” tegasnya.

Baginya, tugas mendesak pemerintah adalah memastikan kebahagiaan rakyat tidak lagi berdiri di atas "perut yang kosong".

Bahaya 'Depolitisasi Penderitaan'

Senada dengan Sabiq, Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM) AB Widyanta membedah fenomena ini dari sudut pandang yang lebih tajam. Ia melihat kebahagiaan di Indonesia bukanlah kebahagiaan materialistik, melainkan kebahagiaan kolektif yang lahir dari rasa senasib sepenanggungan.

“Kebahagiaan itu bukan kebahagiaan individualistik yang hanya mengukur materi. Ketika mereka equal, sama-sama dengan yang lainnya, muncul rasa keamanan sosial,” urai Widyanta.

Namun, Widyanta memberikan peringatan keras. Sikap nrimo atau menerima keadaan yang dimiliki masyarakat sering kali berujung pada apa yang disebutnya sebagai "Depolitisasi Penderitaan". Ini adalah kondisi di mana ketidakadilan struktural dianggap sebagai takdir atau nasib, bukan hasil dari kegagalan sistem.

“Ketika penderitaan dianggap sebagai takdir, di situlah terjadi depolitisasi penderitaan,” ujarnya.

Warga beraktivitas di permukiman padat penduduk RW 12 Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta, Selasa (12/11/2024). [Suara.com/Alfian Winanto]
Warga beraktivitas di permukiman padat penduduk RW 12 Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta, Selasa (12/11/2024). [Suara.com/Alfian Winanto]

Widyanta mengkritik tajam bagaimana para elite politik sering kali memanen keuntungan dari watak baik dan ketangguhan mental rakyat ini.

Ia menyayangkan jika rasa haru elite justru berujung pada klaim prestasi, padahal yang terjadi adalah masyarakat sedang "bertahan hidup" sendiri di tengah sistem yang timpang.

"Petinggi bangsa ini bahkan merasa terharu lalu menjadi klaim bahwa itu adalah prestasi dia. Padahal para elit ini justru yang menjadi parasit bagi kehidupan orang-orang yang punya keadaban moralitas ekonomi yang bahkan hebat itu tetapi elit-elitnya betul-betul pecundang," kritiknya dengan pedas.

Pada akhirnya, kebahagiaan rakyat Indonesia adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, ia adalah bukti kekuatan karakter bangsa. Di sisi lain, ia bisa menjadi celah bagi kekuasaan untuk lari dari tanggung jawab.

Kini, publik menunggu: apakah rasa haru Presiden Prabowo akan berubah menjadi kebijakan yang mengisi piring-piring rakyat, atau hanya akan menguap sebagai drama di atas panggung pidato.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Benarkah Rakyat Indonesia Bahagia Meski Belum Sejahtera? Begini Pandangan Sosiolog UGM

Benarkah Rakyat Indonesia Bahagia Meski Belum Sejahtera? Begini Pandangan Sosiolog UGM

News | Rabu, 07 Januari 2026 | 11:15 WIB

Prabowo Agenda Panen Raya di Karawang, Zulhas dan Bobby Naik Motor

Prabowo Agenda Panen Raya di Karawang, Zulhas dan Bobby Naik Motor

News | Rabu, 07 Januari 2026 | 10:07 WIB

Istana Prihatin Atas Teror Terhadap Influencer, Minta Polisi Lakukan Investigasi

Istana Prihatin Atas Teror Terhadap Influencer, Minta Polisi Lakukan Investigasi

News | Rabu, 07 Januari 2026 | 07:17 WIB

Percepat Pemulihan Sumatra, Prabowo Bentuk Satgas Khusus Dipimpin Tito Karnavian

Percepat Pemulihan Sumatra, Prabowo Bentuk Satgas Khusus Dipimpin Tito Karnavian

News | Rabu, 07 Januari 2026 | 07:08 WIB

Terkini

LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta

LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta

News | Minggu, 12 Juli 2026 | 14:25 WIB

Hari Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Resmi Ditetapkan, Apa Maknanya?

Hari Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Resmi Ditetapkan, Apa Maknanya?

News | Minggu, 12 Juli 2026 | 13:31 WIB

BNI Dorong UMKM Batik Bertransaksi Digital melalui Promo di Puspa Nuswantara 2026

BNI Dorong UMKM Batik Bertransaksi Digital melalui Promo di Puspa Nuswantara 2026

News | Minggu, 12 Juli 2026 | 13:15 WIB

Cak Imin Tegaskan PBNU Butuh Pemimpin Baru: Yang Lama Nggak Ada Perubahan

Cak Imin Tegaskan PBNU Butuh Pemimpin Baru: Yang Lama Nggak Ada Perubahan

News | Minggu, 12 Juli 2026 | 12:43 WIB

Rekam Jejak Rudi Margono Plt Jampidsus Baru, Eks Jaksa KPK Pernah Bongkar Kasus Jiwasraya-Asabri

Rekam Jejak Rudi Margono Plt Jampidsus Baru, Eks Jaksa KPK Pernah Bongkar Kasus Jiwasraya-Asabri

News | Minggu, 12 Juli 2026 | 11:44 WIB

Regulasi Cuti dan WFA ASN Pada Hari Pertama Sekolah

Regulasi Cuti dan WFA ASN Pada Hari Pertama Sekolah

News | Minggu, 12 Juli 2026 | 11:41 WIB

Lantik Pengurus Aceh, Bahlil Tegaskan Golkar Dukung Prabowo Sampai Selesai

Lantik Pengurus Aceh, Bahlil Tegaskan Golkar Dukung Prabowo Sampai Selesai

News | Minggu, 12 Juli 2026 | 10:48 WIB

Profil Tan Kian, Bos Pacific Place yang Terseret Kasus Korupsi PLN hingga Asabri

Profil Tan Kian, Bos Pacific Place yang Terseret Kasus Korupsi PLN hingga Asabri

News | Minggu, 12 Juli 2026 | 10:39 WIB

Norwegia Tersingkir dari Piala Dunia, Cak Imin Pindah Haluan Dukung Argentina

Norwegia Tersingkir dari Piala Dunia, Cak Imin Pindah Haluan Dukung Argentina

News | Minggu, 12 Juli 2026 | 10:22 WIB

Kematian Misterius Kauana Bilhar Influencer Brasil, Jatuh dari Lantai 27 di Dubai

Kematian Misterius Kauana Bilhar Influencer Brasil, Jatuh dari Lantai 27 di Dubai

News | Minggu, 12 Juli 2026 | 09:50 WIB

×