- Ketua INSTRAN, Bambang Susantono, mendorong pemerintah menyusun desain transportasi tangguh saat terjadi bencana.
- Saat ini, pemerintah pusat dan daerah dinilai belum memiliki rencana induk (masterplan) penanganan transportasi bencana.
- Penting membuat aturan baku mengenai penggunaan opsi transportasi udara, termasuk drone besar, untuk situasi darurat.
Suara.com - Ketua Dewan Pembina Institut Studi Transportasi (INSTRAN), Bambang Susantono, mengingatkan pemerintah untuk mulai memikirkan strategi atau desain transportasi saat terjadi bencana di wilayah tertentu di Indonesia.
Menurut Bambang, kesiapsiagaan transportasi saat bencana menjadi penting. Adapun saat ini, menurutnya belum dilakukan pemerintah baik pusat dan daerah.
"Kita melihat memang kita belum punya masterplan bagaimana melakukan pergerakan atau bagaimana kita melakukan angkutan pada saat terjadinya bencana," kata Bambang dalam diskusi Catatan Transportasi Awal Tahun 2026 “Menjaga Keberlanjutan Layanan Angkutan Umum di Tengah Efisiensi Anggaran di Skyline Building, Jakarta, Kamis (8/1/2026).
"Transport resilient istilahnya ya, bagaimana ketangguhan atau ketahanan transport itu bisa kita ciptakan, bagaimana ada contingency plan, A, B, C gitu ya, kalau terjadi sesuatu, itu rasanya saya belum lihat kota-kota ataupun pemerintah provinsi punya itu," sambungnya.
Menurut Bambang, transportasi di tengah bencana memang sudah harus mulai dibahas lebih serius, semisal memungkinkan memilih sejumlah opsi penggunaan angkutan udara sebagaimana yang dilakukan negara-negara maju.
"Nggak cuman helikopter tapi juga mungkin semacam drone besar untuk mencapai daerah-daerah yang memang aksesibilitasnya nggak bisa dijangkau,"
Masalahnya, kata Bambang, saat kni belum ada aturan tentang menerbangkan drone secara lebih efisien dan aman.

"Itu belum semuanya dituangkan di dalam peraturan yang baku gitu ya. Ada peraturan awal tapi saya melihat itu kayaknya belum cukup, ya," kata Bambang.
"Jadi PR buat teman-teman di Kementerian Perhubungan saya kira secepatnyalah bikin aturan sehingga nanti kalau ada apa-apa dan sekarang rasanya kita hidup di tengah bencana ya," lanjutnya.
Baca Juga: Tiket Domestik Mahal, Relawan Nakes ke Lokasi Bencana di Sumatra Lewat Malaysia
Melalui pembahasan yang serius dan disusul dengan penerapan yang benar, diharapkan ke depan Indonesia memiliki ketahanan transportasi yang bisa diandalkan ketika terjadi bencana.
"Apakah itu lewat darat, apakah itu lewat sungai, apakah itu lewat udara. Udara banyak sekali opsinya ya, tidak cuma helikopter dan yang lain, tapi juga mungkin kita harus mulai berpikir tentang menggunakan drone yang punya kapasitas tertentu, ya," ujarnya.