Catatan Kritis Gerakan Nurani Bangsa: Demokrasi Terancam, Negara Abai Lingkungan

Erick Tanjung, Faqih Fathurrahman

Selasa, 13 Januari 2026 | 20:48 WIB
Catatan Kritis Gerakan Nurani Bangsa: Demokrasi Terancam, Negara Abai Lingkungan
Sejumlah tokoh lintas iman dan profesi yang tergabung dalam Gerakan Nurani Bangsa menyampaikan keprihatinan mendalam atas kondisi demokrasi dan lingkungan hidup di Indonesia. [Ist]
  • Gerakan Nurani Bangsa soroti kemunduran demokrasi dan ancaman kebebasan sipil.
  • Eksploitasi alam disebut sebabkan bencana ekologis dan jatuhnya banyak korban jiwa.
  • Pemerintah didesak jaga demokrasi, lindungi HAM, dan tegakkan supremasi sipil.

Suara.com - Sejumlah tokoh lintas iman dan profesi yang tergabung dalam Gerakan Nurani Bangsa menyampaikan keprihatinan mendalam atas kondisi demokrasi dan lingkungan hidup di Indonesia. Dalam sebuah pernyataan bersama, mereka menyoroti berbagai tantangan serius yang dinilai telah menjauhkan bangsa dari cita-cita konstitusi.

Gerakan Nurani Bangsa, yang diwakili oleh Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, mengapresiasi upaya pemerintah dalam pemenuhan hak dasar warga di bidang pendidikan dan kesehatan. Namun, mereka juga memberikan catatan kritis.

“Banyak hal yang masih belum dirasakan masyarakat. Kesejahteraan bersama masih jauh dari cita-cita karena ketimpangan pendapatan dan kemiskinan masih menganga,” kata Sinta dalam keterangannya, Selasa (13/1/2026).

Demokrasi Cacat dan Ancaman Kebebasan Sipil

Gerakan ini menyoroti kualitas demokrasi Indonesia yang dinilai terus melemah. Merujuk pada laporan Economist Intelligence Unit (EIU) tahun 2025, Indonesia masih dikategorikan sebagai "demokrasi cacat" dengan skor 6,30 dari 10.

Ancaman terhadap kebebasan berpendapat dan berekspresi juga disebut meningkat sepanjang 2025.

“Pasca Prahara Agustus, ribuan orang termasuk aktivis demokrasi ditangkap dan ditahan. Serangkaian teror juga mengarah pada akademisi dan influencer yang bersuara lantang tentang penanganan bencana Sumatra,” ungkap Sinta.

Bentuk teror tersebut beragam, mulai dari pengiriman bangkai binatang, perusakan mobil, doxing, hingga pelemparan bom molotov. Kebebasan pers sebagai pilar demokrasi juga dinilai tergerus, di mana jurnalis yang kritis kerap mendapat intimidasi dan propertinya dirampas oleh aparat.

Lemahnya Tata Kelola Pemerintahan dan Bencana Ekologis

Tata kelola pemerintahan juga tak luput dari kritik. Prinsip transparansi dan akuntabilitas dinilai terus terhambat oleh korupsi, konflik kepentingan, serta lemahnya fungsi pengawasan DPR.

"Partai politik lebih banyak menyuarakan kepentingan elite dibanding kepentingan publik, sebagai contoh diskursus pemilihan kepala daerah kembali oleh DPRD," lanjut pernyataan tersebut.

Persoalan lingkungan hidup menjadi sorotan paling tajam. Eksploitasi alam yang tidak bertanggung jawab dan penegakan hukum yang lemah telah memicu bencana ekologis di berbagai wilayah.

“Akibat eksploitasi alam, Indonesia mengalami bencana Ekologis di banyak wilayah seperti Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Jawa,” ungkapnya.

Berdasarkan data BNPB per 11 Januari 2026, bencana di tiga provinsi Sumatra telah menyebabkan 1.180 korban meninggal, 145 orang hilang, dan 238 ribu lainnya mengungsi.

Delapan Pesan untuk Bangsa

Menyikapi kondisi tersebut, Gerakan Nurani Bangsa menyampaikan delapan pesan kepada seluruh penyelenggara negara dan elemen bangsa, di antaranya:

1.  Menjaga pelaksanaan demokrasi dan hak rakyat untuk memilih pemimpinnya secara langsung.
2.  Merawat prinsip supremasi sipil, di mana TNI-Polri fokus pada tugas utamanya.
3.  Mendasarkan seluruh agenda negara pada kemaslahatan rakyat, bukan kepentingan segelintir orang.
4.  Menjalankan program yang mampu memperbaiki kualitas pemenuhan hak dasar warga.
5.  Memastikan kelestarian alam dan menindak tegas semua pihak yang merusak lingkungan.
6.  Melindungi kebebasan berpendapat, berekspresi, dan kebebasan pers.
7.  Membangun Papua dan Aceh yang damai, adil, dan setara.
8.  Menjadikan ajaran agama dan nilai-nilai Pancasila sebagai landasan bertindak.

Pertemuan ini dihadiri oleh sejumlah tokoh besar, seperti Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, M. Quraish Shihab, KH. Mustofa Bisri, Kardinal Suharyo, Bhante Sri Pannyavaro, Pdt. Gomar Gultom, dan Franz Magnis-Suseno.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Fahri Hamzah: Pilkada Lewat DPRD Diskusi Efisiensi, Jangan Terlalu Curigai Prabowo

Fahri Hamzah: Pilkada Lewat DPRD Diskusi Efisiensi, Jangan Terlalu Curigai Prabowo

News | Selasa, 13 Januari 2026 | 17:11 WIB

Analisis Film Dirty Vote II O3: Antara Pasal KUHP dan Krisis Demokrasi

Analisis Film Dirty Vote II O3: Antara Pasal KUHP dan Krisis Demokrasi

Your Say | Senin, 12 Januari 2026 | 18:30 WIB

Kritik Tanpa Filter: Menakar Getirnya Realitas di Balik Tawa Mens Rea

Kritik Tanpa Filter: Menakar Getirnya Realitas di Balik Tawa Mens Rea

Your Say | Senin, 12 Januari 2026 | 11:27 WIB

Terkini

Prabowo Akhiri Kunjungan Kenegaraan di Prancis, Bertolak Kembali ke Jakarta

Prabowo Akhiri Kunjungan Kenegaraan di Prancis, Bertolak Kembali ke Jakarta

News | Jum'at, 29 Mei 2026 | 23:50 WIB

Mangkir dari Pemeriksaan Gas 'Whip Pink', Influencer ZNM dan Dua Saksi Lain Dijemput Paksa Polisi

Mangkir dari Pemeriksaan Gas 'Whip Pink', Influencer ZNM dan Dua Saksi Lain Dijemput Paksa Polisi

News | Jum'at, 29 Mei 2026 | 23:46 WIB

Dulu Diminta Balik ke Barak, Ray Rangkuti Kritik TNI Kini 'Kepung' Ranah Sipil

Dulu Diminta Balik ke Barak, Ray Rangkuti Kritik TNI Kini 'Kepung' Ranah Sipil

News | Jum'at, 29 Mei 2026 | 23:10 WIB

Modus Pungli dan Titipan dalam SPMB 2026, dari Uang Bangku hingga Rekayasa Domisili

Modus Pungli dan Titipan dalam SPMB 2026, dari Uang Bangku hingga Rekayasa Domisili

News | Jum'at, 29 Mei 2026 | 22:46 WIB

Tragedi Jip Wisata Bromo: Rem Blong di Tikungan Letter S Wonokitri, Dua Orang Tewas

Tragedi Jip Wisata Bromo: Rem Blong di Tikungan Letter S Wonokitri, Dua Orang Tewas

News | Jum'at, 29 Mei 2026 | 22:38 WIB

Bahaya Gas N2O Whip Pink: Konsumen Alami Lumpuh Temporer hingga Kerusakan Saraf Tepi

Bahaya Gas N2O Whip Pink: Konsumen Alami Lumpuh Temporer hingga Kerusakan Saraf Tepi

News | Jum'at, 29 Mei 2026 | 22:33 WIB

Polisi Ungkap Kronologi dan Penyebab Sementara Ledakan PT MCCI Cilegon

Polisi Ungkap Kronologi dan Penyebab Sementara Ledakan PT MCCI Cilegon

News | Jum'at, 29 Mei 2026 | 22:26 WIB

Polemik Kurban Uang Negara: Dasar Hukum, Pandangan MUI, dan Alasan Pemerintah

Polemik Kurban Uang Negara: Dasar Hukum, Pandangan MUI, dan Alasan Pemerintah

News | Jum'at, 29 Mei 2026 | 21:32 WIB

Geger Eks Pegawai Sudin LH Jakpus Tewas Usai Diduga Lompat dari Jembatan Cawang

Geger Eks Pegawai Sudin LH Jakpus Tewas Usai Diduga Lompat dari Jembatan Cawang

News | Jum'at, 29 Mei 2026 | 20:33 WIB

Gen Z Lebih Berani dan Tak Kenal Takut Dibanding Generasi Orde Baru

Gen Z Lebih Berani dan Tak Kenal Takut Dibanding Generasi Orde Baru

News | Jum'at, 29 Mei 2026 | 20:13 WIB