47 Hari Pascabanjir, Aceh Tamiang Masih Terjebak Krisis Kesehatan dan Air Bersih

Vania Rossa | Suara.com

Rabu, 14 Januari 2026 | 07:58 WIB
47 Hari Pascabanjir, Aceh Tamiang Masih Terjebak Krisis Kesehatan dan Air Bersih
Pengungsi di Gampong Sukajadi, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang. [Suara.com/Iskandar]
  • Pasca-banjir tujuh minggu di Aceh Tamiang dan Aceh Timur, warga hadapi krisis kesehatan serta minimnya akses air bersih.
  • WALHI mengungkap melalui diskusi bahwa lumpur kering picu ISPA, sementara air keruh menyebabkan penyakit kulit dan sulit dimasak.
  • Bencana disebut ekologis akibat izin industri serampangan di hulu sungai, menuntut negara segera melakukan audit ekologis.

Suara.com - Hampir tujuh minggu berlalu sejak banjir bandang menerjang sejumlah wilayah di Sumatera. Namun bagi warga Kabupaten Aceh Tamiang dan Aceh Timur, surutnya air bukanlah tanda pemulihan. Justru sebaliknya, fase pascabencana membuka babak baru penderitaan yang panjang dan belum berujung.

Ketika sorotan media mulai meredup dan bantuan darurat berkurang, masyarakat di wilayah terdampak masih bergulat dengan krisis kesehatan serta keterbatasan infrastruktur dasar. Lumpur tebal yang tersisa di permukiman, akses air bersih yang minim, hingga meningkatnya risiko penyakit menjadi kenyataan sehari-hari yang belum tertangani secara memadai.

Kondisi tersebut terungkap dalam diskusi publik bertajuk “Kabar dari Sumatera: 47 Hari Pasca Bencana” yang digelar Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Nasional melalui siaran langsung Instagram, Selasa (13/1/2026).

Dalam diskusi itu terungkap bahwa surutnya banjir tidak serta-merta memulihkan kelayakan hidup warga. Lumpur ekstrem setinggi hingga dua meter yang terbawa banjir kini mengering dan memunculkan persoalan kesehatan serius. Pada musim kemarau, debu dari lumpur kering memicu peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Sementara saat hujan turun, lumpur yang kembali tergenang menjadi sumber penyakit kulit.

Selain ancaman kesehatan, warga menghadapi kesulitan besar membersihkan sisa lumpur dari rumah mereka. Hingga kini, kondisi di Aceh Tamiang dinilai masih jauh dari pulih. Sejumlah kebutuhan dasar belum terpenuhi secara layak, terutama akses terhadap air bersih.

Banyak warga terpaksa menggunakan air yang bercampur lumpur untuk kebutuhan memasak. Meski telah diendapkan, air tersebut tetap berbau menyengat dan tidak layak konsumsi.

“Sehingga mereka untuk masak saja itu kadang menggunakan air yang tercampur dengan lumpur walaupun air itu sudah diendapkan, cuma baunya sangat tidak mengenakkan,” tegas Abdul Hadi Lubis, Tim Desk Disaster WALHI Riau.

Menurut Abdul, situasi pada pekan pertama pascabencana diperparah oleh lambatnya respons pemerintah. Di tengah keterbatasan tersebut, warga justru mengandalkan solidaritas antarwarga untuk bertahan.

“Jadi kami menilai bencana ini adalah bencana ekologis dengan respon yang tidak logis dari pemerintah. Bahkan salah satu warga mengatakan bahwa kejadian ini lebih parah dibandingkan dengan tsunami yang terjadi di tahun 2004,” ujarnya.

Ia menambahkan, lambannya respons negara membuat proses pemulihan semakin sulit diprediksi.

“Karena warga sangat sulit untuk memulihkan keadaan dan menurut kami ketika negara tidak cepat untuk merespon ini, ya kita tidak tahu butuh berapa lama daerah Aceh Tamiang ini akan pulih.”

Bukan Sekadar Faktor Alam

WALHI menegaskan, banjir bandang di Aceh Tamiang tidak dapat dipandang sebagai peristiwa alam semata. Berdasarkan asesmen di 36 desa, kerusakan wilayah hulu disebut menjadi faktor utama yang memperparah dampak banjir.

Pemberian izin industri yang serampangan di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Tamiang dan DAS Jambo Aye, ditambah maraknya aktivitas penebangan liar, telah merusak daya dukung lingkungan. Kondisi tersebut membuat wilayah tidak lagi mampu menahan curah hujan ekstrem.

“Bencana ini terjadi bukan karena takdir atau apa, karena ini merupakan kesalahan sistem dalam proses pengurusan alam yang tidak memperhatikan daya dukung dan daya tampung,” tegas Abdul Hadi.

Menurutnya, banjir ekstrem yang terjadi merupakan akumulasi dari pengabaian krisis ekologis selama bertahun-tahun, terutama dalam tata kelola sumber daya alam dan pemberian izin tanpa pertimbangan kapasitas ekosistem.

Menagih Mandat Konstitusi

Kondisi Aceh Tamiang kini menjadi potret rapuhnya perlindungan negara terhadap warga di tengah krisis iklim. WALHI mendesak pemerintah segera melakukan audit ekologis menyeluruh serta mencabut izin perusahaan yang terbukti merusak wilayah hulu sungai. Pemulihan ruang hidup dan ekonomi rakyat dinilai harus menjadi prioritas utama.

“Kejadian saat ini membuktikan bahwa negara gagal dalam menjalankan mandat konstitusinya dalam melindungi rakyat dan ruang hidupnya. Yang seharusnya negara berpihak pada kehidupan, bukan justru memproduksi kerusakan-kerusakan berikutnya,” kata Abdul Hadi.

Menutup diskusi, Manager Penanganan dan Pencegahan Bencana Eknas WALHI, Melva Harahap, mengingatkan kembali amanat Pasal 33 UUD 1945 bahwa kekayaan alam harus dikelola negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

“Pasal 33 itu bunyinya air, bumi, udara, tanah air sampai atmosfer sana itu dimiliki oleh negara, dikelola oleh negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Jadi kita harus kawal negara ini, jangan sampai pasal itu berubah bunyi: rakyat silakan terimalah banjir, terimalah kebakaran hutan,” pungkas Melva.

Ia menutup dengan kutipan Mahatma Gandhi, menegaskan bahwa bencana ini bukan peristiwa tunggal.

“Bumi ini cukup untuk banyak orang, tapi tidak pernah cukup untuk satu orang yang serakah. Bencana kali ini jelas bencana ekologis.”

Reporter: Dinda Pramesti K

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Aceh Tamiang Dapat 18 Rumah Rehabilitasi, Warga Bisa Tinggal Tenang

Aceh Tamiang Dapat 18 Rumah Rehabilitasi, Warga Bisa Tinggal Tenang

News | Selasa, 13 Januari 2026 | 21:34 WIB

Percepatan Pemulihan Layanan Adminduk: Dukcapil Salurkan Sarpras ke Aceh Tamiang Sampai Kota Langsa

Percepatan Pemulihan Layanan Adminduk: Dukcapil Salurkan Sarpras ke Aceh Tamiang Sampai Kota Langsa

News | Selasa, 13 Januari 2026 | 16:57 WIB

BNI Dukung Danantara Serahkan 600 Hunian Layak Pascabencana di Aceh Tamiang

BNI Dukung Danantara Serahkan 600 Hunian Layak Pascabencana di Aceh Tamiang

News | Senin, 12 Januari 2026 | 14:51 WIB

Terkini

Ada WNI! 28 Kru Kapal Pesiar Tersangka Jaringan Kejahatan Seksual Anak Ditangkap, Disney Terlibat

Ada WNI! 28 Kru Kapal Pesiar Tersangka Jaringan Kejahatan Seksual Anak Ditangkap, Disney Terlibat

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 12:46 WIB

Penggeledahan Kasus Bea Cukai Berlanjut, KPK Amankan Kontainer Berisi Sparepart Kendaraan

Penggeledahan Kasus Bea Cukai Berlanjut, KPK Amankan Kontainer Berisi Sparepart Kendaraan

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 12:38 WIB

Dari Berau hingga Mahakam Ulu, Desa-Desa Ini Jadi Bukti Model Pembangunan Hijau Berkelanjutan

Dari Berau hingga Mahakam Ulu, Desa-Desa Ini Jadi Bukti Model Pembangunan Hijau Berkelanjutan

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 12:30 WIB

Ambisi B50 Dinilai Berisiko bagi Ekonomi, Pangan, dan Lingkungan: Adakah Alternatifnya?

Ambisi B50 Dinilai Berisiko bagi Ekonomi, Pangan, dan Lingkungan: Adakah Alternatifnya?

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 12:30 WIB

Nadiem Makarim Ungkap Perasaan Haru Jadi Tahanan Rumah: Bayi Saya Nangis

Nadiem Makarim Ungkap Perasaan Haru Jadi Tahanan Rumah: Bayi Saya Nangis

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 12:28 WIB

Gus Ipul Sebut Penyalahgunaan Bansos untuk Judol Turun Drastis: Diberikan pada yang Membutuhkan

Gus Ipul Sebut Penyalahgunaan Bansos untuk Judol Turun Drastis: Diberikan pada yang Membutuhkan

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 12:20 WIB

Bela Siswa SMAN 1 Pontianak, Anggota DPR Minta Juri LCC 4 Pilar Dievaluasi Total

Bela Siswa SMAN 1 Pontianak, Anggota DPR Minta Juri LCC 4 Pilar Dievaluasi Total

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 12:07 WIB

Permenhut Perdagangan Karbon Dikritik, Pemerintah Diminta Fokus Hentikan Deforestasi

Permenhut Perdagangan Karbon Dikritik, Pemerintah Diminta Fokus Hentikan Deforestasi

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 12:02 WIB

Eksekutor Andrie Yunus Ngaku Tak Tahu Dampak Siraman Air Keras

Eksekutor Andrie Yunus Ngaku Tak Tahu Dampak Siraman Air Keras

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 12:01 WIB

Warga Palestina Dipaksa Bongkar Makam Keluarga, PBB Kecam Tindakan Israel di Tepi Barat

Warga Palestina Dipaksa Bongkar Makam Keluarga, PBB Kecam Tindakan Israel di Tepi Barat

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 11:50 WIB