Banjir dan Longsor Berulang, Auriga Ungkap Deforestasi 'Legal' Jadi Biang Kerok

Vania Rossa

Rabu, 28 Januari 2026 | 15:02 WIB
Banjir dan Longsor Berulang, Auriga Ungkap Deforestasi 'Legal' Jadi Biang Kerok
Direktur Penegakan Hukum Auriga Nusantara, Roni Saputra. [Suara.com/Faqih]
baca 10 detik
  • Kerusakan lingkungan akibat hilangnya tutupan hutan menjadi faktor utama meningkatnya intensitas bencana alam di Indonesia.
  • Auriga Nusantara menemukan deforestasi legal melalui pemberian izin pemerintah kepada korporasi untuk pembukaan lahan perkebunan.
  • Perubahan fungsi hutan alami menjadi perkebunan menurunkan kemampuan tanah menahan air, memicu banjir dan tanah longsor daerah.

Suara.com - Rentetan bencana alam, mulai dari banjir bandang hingga tanah longsor yang melanda berbagai wilayah Indonesia belakangan ini, dinilai bukan semata-mata dipicu oleh cuaca ekstrem.

Direktur Penegakan Hukum Auriga Nusantara, Roni Saputra, menegaskan bahwa kerusakan lingkungan masif akibat hilangnya tutupan hutan menjadi faktor utama di balik meningkatnya intensitas bencana tersebut.

Auriga Temukan Pola Deforestasi Legal

Roni memaparkan hasil riset Auriga Nusantara yang menemukan adanya pola penggundulan hutan yang terstruktur. Ia menyebut fenomena ini sebagai deforestasi legal.

Menurutnya, deforestasi di Indonesia terjadi melalui dua jalur, yakni ilegal dan legal. Namun, dampak terluas justru berasal dari jalur legal melalui pemberian izin oleh pemerintah kepada korporasi.

“Yang dilakukan secara legal itu ya dengan pemberian izin oleh pemerintah. Karena ketika pemerintah memberikan hak pengelolaan kepada swasta, korporasi, nah nanti mereka bisa melakukan pembukaan lahan. Mereka bisa menebang pohon, mengganti pohon dengan sawit,” ujar Roni dalam kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP, Rabu (28/1/2026).

Hutan Hilang, Fungsi Ekologis Ikut Lenya

Roni menyoroti minimnya upaya pemulihan lingkungan setelah izin pengelolaan diberikan. Banyak kawasan yang dulunya merupakan hutan alam kini beralih fungsi menjadi Hutan Tanaman Industri (HTI) atau perkebunan sawit.

Perubahan ini, kata dia, merusak kemampuan alami tanah dalam menyerap dan menahan air.

baca juga

Menjawab anggapan bahwa perkebunan sawit tetap membuat lahan terlihat hijau, Roni menegaskan bahwa secara ekologis kondisi tersebut menyesatkan.

“Nggak bisa dikatakan tetap hijau. Kalau dilihat hijau, betul, tapi kan fungsinya tidak sama,” jelasnya.

Dampak Nyata: Banjir Bandang dan Longsor

Akibat hilangnya kemampuan alam menahan laju air, material seperti tanah dan gelondongan kayu dari kawasan hutan yang telah dikonversi akhirnya terbawa arus deras saat hujan lebat dan menerjang permukiman warga.

Fenomena ini tercatat terjadi di berbagai daerah, mulai dari Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kalimantan, Papua, Maluku, hingga Jawa Barat.

Status Hutan Terus Diturunkan

Lebih lanjut, Roni mengkritisi kebijakan pemerintah yang dinilai kerap menurunkan status kawasan hutan demi kepentingan ekonomi.

Ia mencontohkan bagaimana kawasan hutan lindung perlahan menyusut setelah statusnya diubah menjadi hutan produksi, lalu kembali diturunkan menjadi Areal Penggunaan Lain (APL) yang dapat dimanfaatkan untuk perkebunan.

“Hutan lindung ini kan selalu berkurang, karena itu tadi setelah pohonnya ditebang ya sudah ini masih bisa digunakan untuk hutan produksi. Nah, turunlah satu jadi hutan produksi terbatas, hutan produksi konversi, dan lain-lain. Kalau sudah tidak ada ya sudah, ini bisa nanti untuk perkebunan,” tegas Roni.

Dorongan untuk Seimbangkan Investasi dan Lingkungan

Roni berharap pemerintah mulai menyeimbangkan ambisi investasi dengan perlindungan lingkungan yang lebih ketat. Tanpa perubahan kebijakan, masyarakat akan terus menjadi korban dari bencana ekologis yang berulang.

Menurutnya, bencana yang terjadi saat ini bukan lagi sekadar peristiwa alam, melainkan konsekuensi dari keputusan tata kelola lingkungan yang abai terhadap daya dukung ekosistem.

Reporter: Tsabita Aulia

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pastikan Korban Banjir Purbalingga Tidak Kekurangan Pangan, Kemensos Dirikan Dapur Umum

Pastikan Korban Banjir Purbalingga Tidak Kekurangan Pangan, Kemensos Dirikan Dapur Umum

News | Rabu, 28 Januari 2026 | 12:55 WIB

Pascabanjir Cengkareng, Sudin LH Jakbar Angkut 187 Ton Sampah dalam 8 Jam

Pascabanjir Cengkareng, Sudin LH Jakbar Angkut 187 Ton Sampah dalam 8 Jam

News | Selasa, 27 Januari 2026 | 19:47 WIB

Hari Keempat Pencarian korban longsor Cisarua

Hari Keempat Pencarian korban longsor Cisarua

Foto | Selasa, 27 Januari 2026 | 19:33 WIB

Terkini

Bisnis Waralaba RI Tembus Rp143 Triliun, Tumbuh 10-15% per Tahun

Bisnis Waralaba RI Tembus Rp143 Triliun, Tumbuh 10-15% per Tahun

Bisnis | Rabu, 16 September 2026 | 16:06 WIB

Tas Multifungsi Jadi Andalan, Siluet Clean dengan Material Leather Kian Diminati

Tas Multifungsi Jadi Andalan, Siluet Clean dengan Material Leather Kian Diminati

Lifestyle | Rabu, 16 September 2026 | 16:05 WIB

Menjemput Rezeki dari Balik Layar Gadget hingga Ujung Canting, Kisah Difabel Bertahan Hidup di Jogja

Menjemput Rezeki dari Balik Layar Gadget hingga Ujung Canting, Kisah Difabel Bertahan Hidup di Jogja

Jogja | Rabu, 16 September 2026 | 16:04 WIB

Tidak Semua Harus Dibagikan, Ini Alasan Pentingnya Membangun Batas Privasi di Dunia Maya

Tidak Semua Harus Dibagikan, Ini Alasan Pentingnya Membangun Batas Privasi di Dunia Maya

Your Say | Rabu, 16 September 2026 | 16:04 WIB

5 Bedak Padat yang Tahan Lama dan Glowing Sesuai Klaim dan Review Pengguna

5 Bedak Padat yang Tahan Lama dan Glowing Sesuai Klaim dan Review Pengguna

Lifestyle | Rabu, 16 September 2026 | 16:03 WIB

Perusahaan Diminta Tak Cuma Andalkan Awareness untuk Hadapi Serangan Siber

Perusahaan Diminta Tak Cuma Andalkan Awareness untuk Hadapi Serangan Siber

Bisnis | Rabu, 16 September 2026 | 16:02 WIB

Puji Pramono Anung, Prabowo: Gubernur Hebat Meski Bukan dari Partai Saya

Puji Pramono Anung, Prabowo: Gubernur Hebat Meski Bukan dari Partai Saya

News | Rabu, 16 September 2026 | 16:00 WIB

Land Maggie OFarrell: Ketika Tanah Menyimpan Luka dan Sejarah

Land Maggie OFarrell: Ketika Tanah Menyimpan Luka dan Sejarah

Your Say | Rabu, 16 September 2026 | 16:00 WIB

SKD Sekolah Kedinasan 2026, Pemerintah Resmi Tetapkan Nilai Ambang Batas

SKD Sekolah Kedinasan 2026, Pemerintah Resmi Tetapkan Nilai Ambang Batas

News | Rabu, 16 September 2026 | 15:59 WIB

Prabowo Perintahkan Investigasi Total Penyebab Kecalakaan KM Virgo Transport 8

Prabowo Perintahkan Investigasi Total Penyebab Kecalakaan KM Virgo Transport 8

News | Rabu, 16 September 2026 | 15:58 WIB

×