Di Balik Duka Longsor Bandung Barat, Adakah Dosa Pembangunan yang Diabaikan Pemerintah?

Erick Tanjung, Novian Ardiansyah

Rabu, 28 Januari 2026 | 16:30 WIB
Di Balik Duka Longsor Bandung Barat, Adakah Dosa Pembangunan yang Diabaikan Pemerintah?
Ilustrasi tanah longsor di Cisarua, Bandung Barat yang menelan banyak korban jiwa. [Suara.com/Syahda]
baca 10 detik
  • Longsor dahsyat di Cisarua menimbun puluhan hektar lahan dan ratusan korban.
  • Prajurit TNI yang sedang berlatih menjadi korban dalam tragedi ini.
  • Walhi sebut degradasi lahan KBU menjadi pemicu utama selain hujan lebat.

Suara.com - Operasi pencarian dan pertolongan di Desa Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, terus berjalan tanpa henti. Sembilan ekskavator dan 800 personel gabungan berjibaku dengan lumpur pada hari keempat pencarian, Selasa (27/1/2026), berusaha menemukan korban yang masih tertimbun.

HINGGA kini, tim Disaster Victim Identification (DVI) telah berhasil mengidentifikasi 20 jenazah, sementara 18 kantong jenazah lainnya masih dalam proses identifikasi. Di sisi lain, 685 jiwa terpaksa mengungsi di dua titik posko darurat, meninggalkan rumah mereka yang kini terkubur tanah.

Di balik duka ini, satu pertanyaan besar menggema; apa yang sebenarnya memicu longsor sedahsyat ini?

"Ini terjadi lagi bencana di Cisarua, Pak. Cisarua ini mengejutkan kita seperti petir di siang bolong juga ini Pak," ucap Ketua Komisi V DPR RI, Lasarus, dalam rapat kerja bersama Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, di Senayan beberapa waktu lalu.

Pernyataan itu menggambarkan betapa mendadaknya bencana yang menimbun lebih dari 30 hektar lahan ini. Lasarus bahkan memperkirakan jumlah korban bisa melebihi 100 orang, termasuk para prajurit TNI yang tengah berlatih di lokasi saat kejadian.

Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL), Laksamana Muhammad Ali, mengonfirmasi bahwa 23 prajuritnya yang sedang menjalani latihan pra-tugas untuk pengamanan perbatasan RI-PNG turut menjadi korban. Hingga kini, baru empat jenazah yang berhasil ditemukan.

Menurut Ali, longsor dipicu oleh hujan lebat yang mengguyur Cisarua selama hampir dua malam berturut-turut. Proses evakuasi pun terkendala medan yang sulit dan cuaca yang tak menentu. Untuk mempermudah operasi, BMKG bahkan melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah Jawa Barat.

Infografis tanah longsor di Cisarua, Bandung Barat, Jawa Barat yang menelan banyak korban jiwa. [Suara.com/Syahda]
Infografis tanah longsor di Cisarua, Bandung Barat, Jawa Barat yang menelan banyak korban jiwa. [Suara.com/Syahda]

Peringatan yang Telah Diberikan

Sebenarnya, peringatan akan potensi bencana telah diberikan jauh-jauh hari. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, telah menetapkan status siaga darurat bencana untuk 27 kabupaten dan kota sejak Oktober 2025, berdasarkan prediksi curah hujan tinggi dari BMKG. Status ini berlaku hingga April 2026, mencakup wilayah Bandung Barat. Namun, peringatan itu tak mampu mencegah tragedi 'petir di siang bolong' di Cisarua.

baca juga

Namun, benarkah longsor ini murni karena faktor alam? Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Barat punya pandangan lain.

Menurut Abi dari Tim Desk Disaster Walhi Jabar, hujan lebat hanyalah pemicu. Akar masalahnya jauh lebih dalam: degradasi lahan dan perubahan bentang alam di Kawasan Bandung Utara atau KBU.

Walhi mencatat, sekitar 38 ribu hektar lahan di KBU tidak lagi sesuai peruntukannya.

"Yang seharusnya dijadikan sebagai kawasan resapan air dan kawasan konservasi, akan tetapi kawasan ini malah dijadikan sebagai tempat wisata, pembangunan properti dan lahan-lahan pertanian monokultur yang akhirnya memicu run-off dan terjadi longsor," kata Abi kepada Suara.com, Selasa (27/1/2026).

Petugas SAR gabungan melakukan proses pencarian korban longsor di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Sabtu (24/1/2026) [Suara.com/ANTARA]
Petugas SAR gabungan melakukan proses pencarian korban longsor di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Sabtu (24/1/2026) [Suara.com/Antara]

Ancaman Bencana yang Masih Mengintai

Lebih mengkhawatirkan lagi, Abi menegaskan bahwa ancaman bencana serupa masih akan terus mengintai Cisarua dan wilayah KBU lainnya selama belum ada perubahan fundamental dalam tata kelola kawasan.

"Untuk ancaman longsor dan banjir bandang di KBU ini bisa dikatakan adalah sebuah keniscayaan yang pasti akan terjadi ya, mengingat dari pemerintah daerah sendiri belum ada keseriusan yang benar-benar menyeluruh dalam membahas mengenai Kawasan Bandung Utara ini," kata Abi.

Menanggapi tragedi ini, Walhi Jabar menuntut Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk segera melakukan audit lingkungan dan moratorium terhadap seluruh izin di KBU.

"Dan Walhi juga menuntut untuk segera adanya penindakan terhadap kegiatan-kegiatan ilegal yang terjadi di Bandung Utara yang mengancam terhadap keselamatan warga masyarakat," tegas Abi.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Banjir dan Longsor Berulang, Auriga Ungkap Deforestasi 'Legal' Jadi Biang Kerok

Banjir dan Longsor Berulang, Auriga Ungkap Deforestasi 'Legal' Jadi Biang Kerok

News | Rabu, 28 Januari 2026 | 15:02 WIB

Hari Keempat Pencarian korban longsor Cisarua

Hari Keempat Pencarian korban longsor Cisarua

Foto | Selasa, 27 Januari 2026 | 19:33 WIB

Dua Bulan Bencana Sumatra: 1.204 Korban Meninggal, Ratusan Orang Hilang

Dua Bulan Bencana Sumatra: 1.204 Korban Meninggal, Ratusan Orang Hilang

News | Selasa, 27 Januari 2026 | 19:16 WIB

Terkini

OTT Kasus HGB Summarecon Naik Penyidikan, Identitas Tersangka Segera Diumumkan!

OTT Kasus HGB Summarecon Naik Penyidikan, Identitas Tersangka Segera Diumumkan!

News | Selasa, 15 September 2026 | 16:26 WIB

3 Rekomendasi Smartwatch untuk Lansia dengan Fitur Deteksi Jatuh dan Tombol SOS

3 Rekomendasi Smartwatch untuk Lansia dengan Fitur Deteksi Jatuh dan Tombol SOS

Tekno | Selasa, 15 September 2026 | 16:23 WIB

LRT City Tak Kunjung Diserahterimakan, Refund Jadi Salah Satu Opsi

LRT City Tak Kunjung Diserahterimakan, Refund Jadi Salah Satu Opsi

Bisnis | Selasa, 15 September 2026 | 16:21 WIB

Pernah Dirumorkan Bakal Dinaturalisasi, Begini Nasib Terbaru Pemain Keturunan Indonesia Finn Dicke

Pernah Dirumorkan Bakal Dinaturalisasi, Begini Nasib Terbaru Pemain Keturunan Indonesia Finn Dicke

Bola | Selasa, 15 September 2026 | 16:21 WIB

The House with Nobody in It: Rumah Kosong yang Ternyata Tidak Sepi

The House with Nobody in It: Rumah Kosong yang Ternyata Tidak Sepi

Your Say | Selasa, 15 September 2026 | 16:20 WIB

Sekolah di Pelalawan Pulangkan Siswa Akibat Kabut Asap Memburuk

Sekolah di Pelalawan Pulangkan Siswa Akibat Kabut Asap Memburuk

Riau | Selasa, 15 September 2026 | 16:19 WIB

Motul Indonesia Perkuat Jaringan Layanan Lewat Pembukaan Bengkel B-Quik

Motul Indonesia Perkuat Jaringan Layanan Lewat Pembukaan Bengkel B-Quik

Otomotif | Selasa, 15 September 2026 | 16:19 WIB

Kulit Remaja Bebas Jerawat Tanpa Kuras Dompet! 4 Acne Serum Rp30 Ribuan

Kulit Remaja Bebas Jerawat Tanpa Kuras Dompet! 4 Acne Serum Rp30 Ribuan

Your Say | Selasa, 15 September 2026 | 16:18 WIB

Ulasan The Detective Is Already Dead Vol 1-4: Dialog Menggigit, Eksekusi Plot Bikin Menjerit

Ulasan The Detective Is Already Dead Vol 1-4: Dialog Menggigit, Eksekusi Plot Bikin Menjerit

Your Say | Selasa, 15 September 2026 | 16:18 WIB

Perhutanan Sosial Dinilai Minim Evaluasi, Aktivis Soroti Pemberian Izin

Perhutanan Sosial Dinilai Minim Evaluasi, Aktivis Soroti Pemberian Izin

News | Selasa, 15 September 2026 | 16:17 WIB

×