- Penasihat hukum PT OTM menyatakan Pertamina untung US$ 524 juta selama 10 tahun dari sewa terminal BBM.
- Keuntungan tersebut berasal dari penghematan biaya distribusi dan pembelian BBM dibandingkan opsi lain.
- Klaim untung Pertamina ini bertentangan dengan dakwaan jaksa mengenai kerugian negara sebesar Rp 2,9 triliun.
Suara.com - Penyewaan terminal bahan bakar minyak (BBM) milik PT Orbit Terminal Merak (OTM) disebut justru memberikan keuntungan besar bagi PT Pertamina (Persero).
Selama periode 10 tahun, Pertamina diklaim meraih keuntungan hingga US$ 524 juta atau setara lebih dari Rp 17 triliun dari kerja sama tersebut.
Pernyataan itu disampaikan penasihat hukum Muhamad Kerry Adrianto Riza selaku beneficial owner PT OTM, Patra M. Zen, usai persidangan perkara dugaan korupsi tata kelola minyak dan produk kilang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Jumat (6/2/2026).
Patra menegaskan, klaim jaksa yang menyebut penyewaan terminal BBM PT OTM merugikan negara hingga Rp 2,9 triliun tidak sejalan dengan fakta dan temuan para ahli yang telah dihadirkan di persidangan.
Menurut Patra, keterangan sejumlah ahli, mulai dari ahli keuangan negara, ahli hukum keuangan, hingga ahli akuntansi forensik, menunjukkan bahwa penyewaan terminal BBM OTM selama 10 tahun memberikan keuntungan signifikan bagi Pertamina.
“Kita sudah mendengarkan keterangan para ahli. Kesimpulannya, dengan menyewa terminal BBM PT OTM, Pertamina memperoleh keuntungan tidak kurang dari US$ 524 juta selama 10 tahun,” kata Patra.
Jika dikonversikan ke dalam rupiah, nilai tersebut setara lebih dari Rp 17 triliun.
Patra membeberkan, keuntungan tersebut berasal dari penghematan biaya pembelian dan distribusi BBM. Selama periode 2014 hingga April 2025, total volume BBM yang masuk ke terminal OTM mencapai sekitar 309 juta barel.
Tanpa terminal OTM, Pertamina harus membeli BBM dari Singapura dengan harga lebih mahal sekitar US$ 2 hingga US$ 3 per barel dibandingkan BBM dari kawasan Timur Tengah. Selisih harga tersebut kemudian dikalikan dengan total volume BBM yang diimpor.
Baca Juga: Jakarta Pertamina Enduro Sikat Electric PLN 3-0, Servis Mematikan Jadi Kunci Kemenangan
Selain itu, Pertamina juga diuntungkan dari efisiensi biaya pengangkutan. Dengan adanya terminal OTM, kapal berkapasitas besar yang mampu mengangkut hingga 600.000 barel BBM dapat langsung bersandar, sehingga biaya logistik menjadi lebih efisien.
“Setelah dikurangi biaya sewa terminal OTM, total penghematan mencapai US$ 211 juta. Secara keseluruhan, keuntungan yang dinikmati Pertamina mencapai US$ 524 juta selama 10 tahun,” jelas Patra.
Patra menambahkan, jika perhitungan diperluas dengan mengacu pada kajian Surveyor Indonesia serta kesaksian Alfian Nasution, mantan Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga periode 2021–2023, maka nilai efisiensi yang dinikmati Pertamina semakin besar.
Berdasarkan kajian tersebut, efisiensi operasional dari penyewaan terminal OTM pada periode 2021–2025 mencapai sekitar Rp 8,7 triliun.
“Jika digabungkan dengan keuntungan sebelumnya, total manfaat ekonomi yang diterima Pertamina dari penyewaan OTM bisa lebih dari Rp 17 triliun,” tegas Patra.
Dengan hitungan tersebut, Patra mempertanyakan dasar klaim jaksa yang menyebut adanya kerugian negara sebesar Rp 2,9 triliun. Menurutnya, sekalipun keuntungan itu dikurangi biaya sewa terminal selama 10 tahun, hasilnya tetap menunjukkan posisi Pertamina yang sangat diuntungkan.