Singgung Tanggung Jawab Lembaga, Peneliti BRIN Minta Polri Setop Pakai Istilah Oknum

Dwi Bowo Raharjo, Novian Ardiansyah

Kamis, 26 Februari 2026 | 16:32 WIB
Singgung Tanggung Jawab Lembaga, Peneliti BRIN Minta Polri Setop Pakai Istilah Oknum
Remaja 14 tahun meninggal dunia setelah dihantam hHelm olehi oknum Brimob di Tual, Maluku. [Instagram]
baca 10 detik
  • Peneliti BRIN Sarah Siregar meminta Polri berhenti menggunakan istilah "oknum" karena institusi harus bertanggung jawab penuh.
  • Diskusi "Tragedi Tual" menyoroti kemajuan reformasi Polri yang stagnan dan indikatornya terus tercoreng selama dua dekade.
  • Para pembicara menekankan bahwa kekerasan aparat mencerminkan lemahnya pengawasan institusi dan kebutuhan perbaikan pendidikan kepolisian.

Suara.com - Peneliti utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Sarah Siregar, meminta Polri menyetop penggunaan istilah 'oknum' untuk merujuk personel yang kerap bermasalah dan melakukan pelanggaran.

Pandangan Sarah disampaikan saat menjadi pembicara dalam diskusi bertajuk “Tragedi Tual: Alarm Reformasi Polri”

Sarah mengatakan agenda reformasi Polri sudah terdengar hampir lebih dari 20 tahun, tetapi kemajuannya kini hampir tidak signifikan.

"Karena indikator-indikator yang terus tercoreng," kata Sarah dalam keterangan tertulis diskusi bertajuk “Tragedi Tual: Alarm Reformasi Polri”, Kamis (26/2/2026).

Selain itu, Sarah menyoroti sekaligus polisi yang kerap menggunakan istilah 'oknum'. Menurut Sarah seharusnya kepolisian tidak lagi menggunakan kata ‘oknum’.

"Polisi seharusnya berhenti menggunakan kata ‘oknum’. Polisi adalah representasi negara dan harus bertanggung jawab secara kelembagaan," kata Sarah.

Sementara itu terkait peristiwa di Tual, Direktur Amnesty Internasional Indonesia Usman Hamid mengatakan peristiwa kekerasan oleh anggota Brimob terhadap seorang anak bukan sekadar masalah individu, melainkan cermin dari institusi kepolisian.

Lemahnya pengawasan dan akuntabilitas kepolisian menyebabkan tidak tumbuhnya budaya menghormati hukum dan hak asasi manusia.

“Benar, kasus Tual itu perilaku individu. Tapi itu tak berarti tidak ada masalah dengan institusi. Sebab kasus itu terus berulang. Artinya masalah individu itu juga cermin masalah institusi dan pengawasan yang lemah,” kata Usman.

baca juga

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Syafiq Alielha yang turut hadir dalam diskusi, menjelaskan zaman pemerintahan Gus Dur, ada banyak demonstrasi besar yang menuntut Gus Dur mundur. Kendati begitu, ia berujar pada era tersebut tidak ada yang demonstrasi yang dibubarkan dan ditangkap.

"Itu artinya karakter pemolisian tergantung apakah pemerintah anti kritik atau tidak, kata Syafiq.

Senada dengan Syafiq, Aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Hans Geovanni, menyatakan bahwa Polri tidak boleh menjadi alat politik untuk mempidankan warga yang kritis.

Hans menyampaikan Polri harus tegas dalam memberikan sanksi baik sanksi etik maupun pidana kepada anggota Polri yang melakukan tindak pidana.

Direktur Eksekutif Public Virtue Research Institute Muhammad Naziful Haq menilai berulangnya brutalitas aparat menyiratkan adanya masalah mendasar cara berpikir polisi.

"Profesi polisi adalah profesi paling sulit karena ia harus terbuka pada fakta empiris, cakap dalam berlogika, dan sensitif dalam beretika. Ketika kepolisian terjerat konflik kepentingan elit politik, tiga hal itu berpeluang besar akan dikesampingkan. Dan terjadilah misconduct, brutalitas, dan indikator penegakan hukum yang membolak-balik nalar," tutur Naziful.

Sementara itu peneliti Centre for Sttategic and International Studies (CSIS) Nicky Fachriza mengungkap satu hal yang tidak begitu megah, namun fundamental dalam reformasi Polri adalah masalah pendidikan.

"Pendidikan polisi mungkin tidak semegah masalah posturnya, tetapi perbaikan pendidikan polisi bisa mengarahkan polisi supaya lebih humanis," ujarnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Skandal Bripka AI, Oknum Polisi Tangerang Jadi Tersangka Usai Gadai Mobil Rental Rp25 Juta

Skandal Bripka AI, Oknum Polisi Tangerang Jadi Tersangka Usai Gadai Mobil Rental Rp25 Juta

News | Selasa, 24 Februari 2026 | 14:38 WIB

Menteri PPPA Minta Hukum Transparan Bagi Oknum Brimob Penganiaya Anak di Tual

Menteri PPPA Minta Hukum Transparan Bagi Oknum Brimob Penganiaya Anak di Tual

News | Senin, 23 Februari 2026 | 15:21 WIB

DPR Desak Proses Pidana Oknum Brimob dalam Kasus Tewasnya Pelajar di Maluku Tenggara

DPR Desak Proses Pidana Oknum Brimob dalam Kasus Tewasnya Pelajar di Maluku Tenggara

News | Senin, 23 Februari 2026 | 06:15 WIB

Wamen HAM Mugiyanto: Oknum Brimob Aniaya Anak Hingga Tewas Pelanggaran HAM

Wamen HAM Mugiyanto: Oknum Brimob Aniaya Anak Hingga Tewas Pelanggaran HAM

News | Minggu, 22 Februari 2026 | 12:10 WIB

Kemenkeu Dukung Proyek Kapal Riset BRIN lewat Skema KPBU

Kemenkeu Dukung Proyek Kapal Riset BRIN lewat Skema KPBU

Bisnis | Jum'at, 20 Februari 2026 | 15:11 WIB

Terkini

Berapa Lama Masa Berlaku SKCK?

Berapa Lama Masa Berlaku SKCK?

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 11:15 WIB

Cara Memeriksa Izin Aplikasi Android agar Privasi Lebih Terjaga, Cegah Datamu Dijual ke Pengiklan!

Cara Memeriksa Izin Aplikasi Android agar Privasi Lebih Terjaga, Cegah Datamu Dijual ke Pengiklan!

Tekno | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 11:07 WIB

5 HP Tecno Kamera 108 MP Paling Murah, RAM Besar untuk Multitasking

5 HP Tecno Kamera 108 MP Paling Murah, RAM Besar untuk Multitasking

Tekno | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 11:07 WIB

Konser di Borobudur, Andrea Bocelli Bawa Perdamaian & Misi Donasi 100.000 Sepatu Bagi Anak Palestina

Konser di Borobudur, Andrea Bocelli Bawa Perdamaian & Misi Donasi 100.000 Sepatu Bagi Anak Palestina

Entertainment | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 10:56 WIB

PDIP Bicara Peluang Hak Angket Usai Putusan MA Soal Gibran: Pembicaraan Lintas Parpol Makin Masif

PDIP Bicara Peluang Hak Angket Usai Putusan MA Soal Gibran: Pembicaraan Lintas Parpol Makin Masif

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 10:51 WIB

Kisah Cinta, Kutu Buku, dan Petualangan Surealis: Review Jagat Rajawali Karya Eko Darmoko

Kisah Cinta, Kutu Buku, dan Petualangan Surealis: Review Jagat Rajawali Karya Eko Darmoko

Your Say | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 10:46 WIB

Pembalut Wanita Kena PPN, Irma Chaniago Semprot Menkeu: Tidak Cerdas dan Tak Pro Gender

Pembalut Wanita Kena PPN, Irma Chaniago Semprot Menkeu: Tidak Cerdas dan Tak Pro Gender

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 10:45 WIB

Hasto Soal Putusan MA Ijazah Gibran: Tak Ada Kebohongan Abadi dalam Politik

Hasto Soal Putusan MA Ijazah Gibran: Tak Ada Kebohongan Abadi dalam Politik

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 10:44 WIB

Perbedaan Fungsi Retinol, Niacinamide, dan Vitamin C, Mana yang Dibutuhkan Kulitmu?

Perbedaan Fungsi Retinol, Niacinamide, dan Vitamin C, Mana yang Dibutuhkan Kulitmu?

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 10:40 WIB

Solusi Cerdas di Balik Limbah MBG: Polinela Sulap Sisa Makanan Jadi Duit Lewat Magot

Solusi Cerdas di Balik Limbah MBG: Polinela Sulap Sisa Makanan Jadi Duit Lewat Magot

Lampung | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 10:17 WIB

×