- Presiden Trump menyatakan intensitas serangan militer AS terhadap Iran akan dipertahankan selama empat hingga lima minggu ke depan.
- Trump menguraikan opsi pengalihan kekuasaan Iran, menyerupai strategi perubahan rezim yang diterapkan di Venezuela sebelumnya.
- Meskipun percaya diri, Trump mengakui potensi korban jiwa tambahan dari militer Amerika selama operasi sedang berlangsung.
Meskipun Trump menunjukkan kepercayaan diri, muncul kekhawatiran dari pihak Pentagon bahwa konflik ini dapat menguras cadangan amunisi strategis.
Para ahli strategi militer menilai cadangan tersebut sangat krusial untuk dipertahankan guna menghadapi skenario konflik lain, seperti potensi ketegangan di Taiwan atau invasi Rusia di Eropa.
Mengenai masa depan kepemimpinan di Teheran, Trump mengklaim telah mengantongi "tiga pilihan yang sangat baik" mengenai sosok yang dapat memimpin Iran, namun ia menolak menyebutkan nama-nama tersebut.
Di sisi lain, pejabat keamanan nasional tertinggi Iran, Ali Larijani, menyatakan bahwa sebuah komite sementara akan menjalankan negara hingga pengganti pemimpin tertinggi terpilih.
Larijani sendiri sebelumnya merupakan tokoh yang mengawasi negosiasi nuklir dengan AS namun sempat terkena sanksi pemerintahan Trump pada Januari lalu.
Visi Trump mengenai transisi kekuasaan ini muncul setelah kematian Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan udara pada hari Sabtu. Trump berharap pasukan militer elite Iran, termasuk Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), bersedia meletakkan senjata.
“Mereka benar-benar akan menyerah kepada rakyat, jika Anda memikirkannya,” kata Trump.
Trump berulang kali merujuk pada keberhasilan penangkapan Nicolás Maduro di Venezuela oleh tim Delta Force sebagai acuan.
“Apa yang kita lakukan di Venezuela, menurut saya, adalah skenario yang sempurna,” kata Trump.
Baca Juga: Ali Khamenei Tewas dalam Serangan AS, Kesederhanaan Rumah Sang Pemimpin Jadi Sorotan Terakhir
Strategi ini menyiratkan bahwa model yang berhasil di Venezuela dapat diterapkan di Iran, meskipun para penasihat Trump telah memperingatkan adanya perbedaan budaya dan sejarah yang besar.
Di Venezuela, pemerintah yang ada tetap dipertahankan setelah setuju menerima instruksi dari Washington.
“Semua orang mempertahankan pekerjaannya kecuali dua orang,” kata Trump saat menjelaskan hasil di Venezuela.
Mengenai siapa yang akan menjadi penguasa tertinggi Iran berikutnya, Trump tetap bersikap ambigu. Ia sempat menyatakan memiliki tiga pilihan, namun kemudian menyebut bahwa keputusan ada di tangan rakyat Iran untuk menggulingkan pemerintahan mereka sendiri.
“Itu terserah mereka apakah mereka akan melakukannya atau tidak,” kata Trump.
“They telah membicarakannya selama bertahun-tahun, jadi sekarang mereka jelas akan memiliki kesempatan.”