Jika konflik ini berdampak pada penutupan atau gangguan di Selat Hormuz, maka distribusi energi global akan terganggu. Pemerintah Jepang pun telah memerintahkan analisis mendalam terkait dampak konflik terhadap transportasi laut dan udara.
4. Ancaman serius bagi ekonomi Jepang
Dampak ekonomi menjadi perhatian besar bagi Jepang. Seorang ekonom dari Nomura Research Institute memperkirakan bahwa lonjakan harga minyak dapat menekan produk domestik bruto Jepang hingga 0,65 persen.
Dalam skenario terburuk, jika Selat Hormuz benar-benar ditutup, harga minyak dunia bisa melonjak drastis. Bahkan, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate diperkirakan bisa naik dari sekitar 60 dolar AS menjadi 140 dolar AS per barel.
Kenaikan ini akan berdampak langsung pada inflasi di Jepang, yang diperkirakan meningkat lebih dari 1 persen. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi mendorong Jepang ke jurang resesi.
5. Jepang tetap dorong solusi diplomatik
Di tengah situasi yang memanas, Jepang tetap menekankan pentingnya penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi. Menteri Luar Negeri Toshimitsu Motegi menyatakan bahwa isu nuklir Iran sebaiknya diselesaikan melalui dialog, bukan kekerasan.
Dalam komunikasi dengan negara-negara G7, Jepang menegaskan bahwa Iran tidak boleh mengembangkan senjata nuklir. Namun, pendekatan yang diambil tetap mengedepankan negosiasi dan kerja sama internasional.
Kontributor : Hillary Sekar Pawestri