- Strategi Iran mengandalkan perang atrisi logistik jangka panjang; stok persenjataan AS di kawasan terbatas hanya bertahan dua minggu.
- Iran menerapkan pertahanan mosaik terdesentralisasi, menggunakan drone untuk menguras rudal pencegat mahal milik militer Amerika Serikat.
- Dukungan publik domestik AS terhadap serangan ke Iran sangat rendah, menciptakan pelemahan posisi politik Washington secara signifikan.
Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan dukungan awal terhadap perang Afghanistan yang mencapai 92% atau perang Irak sebesar 71%.
Perpecahan ini juga merembet ke panggung politik di Capitol Hill. Di internal Partai Republik sendiri terjadi keretakan; meskipun banyak yang mendukung, tokoh seperti Senator Rand Paul dan Thomas Massie mengecam serangan ini karena dianggap melanggar konstitusi dan mengkhianati janji kampanye untuk mengakhiri perang di luar negeri.
Di sisi lain, mayoritas politisi Demokrat mengutuk operasi tersebut sebagai perang pilihan yang tidak sah.
Senator Adam Schiff dengan tajam menyatakan, "Trump menyeret negara kita ke dalam perang luar negeri lainnya yang tidak diinginkan warga Amerika dan tidak diizinkan oleh Kongres".
Sentimen serupa datang dari Senator Bernie Sanders yang menyebut serangan ini sebagai "perang ilegal, terencana, dan tidak konstitusional".
Dengan rakyat yang terbelah dan Kongres yang saling sikut, posisi politik AS untuk melanjutkan perang ini semakin melemah dibandingkan ketahanan nasional Iran yang lebih terkonsolidasi.