- Menlu Spanyol Albares mengonfirmasi AS tidak memberi peringatan awal kepada sekutu mengenai serangan udara 28 Februari di Iran.
- Operasi militer AS dan Israel di Iran menyebabkan kerusakan signifikan dan mengakibatkan gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.
- Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal ke Israel dan fasilitas militer AS, memicu eskalasi ketegangan kawasan secara drastis.
Suara.com - Menteri Luar Negeri Spanyol Jose Manuel Albares memberikan pernyataan resmi yang mengejutkan terkait operasi militer Amerika Serikat di Timur Tengah.
Dalam keterangannya pada hari Rabu (4/3/2026), Albares menegaskan bahwa pihak Washington tidak memberikan informasi atau peringatan awal kepada negara-negara sekutunya mengenai dimulainya serangan militer terhadap wilayah Iran.
Keterbukaan Spanyol dalam menanggapi langkah sepihak Amerika Serikat ini disampaikan langsung dalam sebuah sesi wawancara dengan media nasional.
Albares menyoroti ketiadaan transparansi dalam pengambilan keputusan militer yang berdampak luas pada stabilitas keamanan global.
Ketegangan diplomatik ini muncul di tengah kekhawatiran negara-negara Eropa terhadap eskalasi perang terbuka yang melibatkan kekuatan nuklir dan ekonomi besar di Timur Tengah.
"Tidak ada sekutu yang diberitahu dan tidak ada upaya yang dilakukan untuk melibatkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)," kata Menlu Albares kepada penyiar radio RTVE saat ditanya apakah Washington telah memperingatkan sekutunya sebelum pemboman di Iran.
Pernyataan itu mengonfirmasi bahwa operasi tersebut dilakukan di luar kerangka konsultasi multilateral yang biasanya menjadi standar dalam aliansi pertahanan internasional.
Spanyol, sebagai salah satu anggota penting NATO, merasa perlu mengklarifikasi posisi mereka guna menghindari kesalahpahaman diplomatik dengan pihak-pihak terkait di kawasan tersebut.
Operasi militer yang dimaksud terjadi pada tanggal 28 Februari lalu, di mana Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangkaian serangan udara yang terkoordinasi terhadap sejumlah target strategis di dalam wilayah Iran.
Serangan tersebut menjangkau beberapa titik krusial, termasuk ibu kota Teheran, yang merupakan pusat pemerintahan dan militer negara tersebut.
Laporan lapangan menunjukkan bahwa pemboman tersebut mengakibatkan kerusakan infrastruktur yang signifikan serta menimbulkan korban di kalangan warga sipil yang berada di sekitar lokasi target.
Dampak dari serangan pada akhir Februari tersebut tergolong sangat masif dan mengubah peta politik Timur Tengah secara drastis.
Televisi Pemerintah Iran memberikan konfirmasi resmi yang mengguncang dunia internasional mengenai nasib pucuk pimpinan tertinggi mereka.
Dalam laporannya, Televisi Pemerintah Iran mengonfirmasi bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei gugur dalam serangan itu.
Kematian tokoh sentral ini memicu gelombang kemarahan di seluruh negeri dan mempercepat langkah-langkah militer balasan dari pihak Teheran.
Kondisi keamanan di kawasan tersebut segera memburuk sesaat setelah konfirmasi kematian Ali Khamenei dipublikasikan. Iran tidak tinggal diam dan segera mengaktifkan protokol pertahanan serta serangan balik mereka.
Sebagai bentuk respons langsung, militer Iran meluncurkan serangan rudal balasan ke wilayah Israel dan fasilitas militer Amerika Serikat yang tersebar di berbagai titik di Timur Tengah.
Serangan balasan ini menyasar pangkalan-pangkalan udara dan pusat logistik yang dianggap bertanggung jawab atas operasi pemboman sebelumnya.
Eskalasi ini memicu kekhawatiran akan terjadinya perang regional yang tidak terkendali. Langkah Amerika Serikat yang mengabaikan peran PBB dalam proses ini menjadi catatan kritis bagi diplomasi Spanyol.
Jose Manuel Albares menekankan bahwa tindakan militer tanpa mandat internasional atau setidaknya koordinasi dengan sekutu dapat membahayakan keselamatan personel diplomatik dan warga sipil negara-negara Eropa yang berada di kawasan konflik.
Hingga saat ini, komunitas internasional masih memantau pergerakan armada militer di Teluk Persia.
Ketidakhadiran komunikasi dari Washington kepada sekutu-sekutunya di Eropa, seperti yang diungkapkan oleh Spanyol, menjadi sinyal adanya perubahan pola kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang lebih mengedepankan tindakan unilateral dalam isu-isu krusial di Timur Tengah.
Iran sendiri menyatakan akan terus melakukan tindakan yang diperlukan untuk melindungi kedaulatan nasional mereka pasca kehilangan pemimpin tertinggi dalam serangan udara tersebut.