Ongkos Mental Debat K-pop: Keretakan Fans Korea dan Asia Tenggara

Dimas Sagita Suara.Com
Minggu, 08 Maret 2026 | 11:49 WIB
Ongkos Mental Debat K-pop: Keretakan Fans Korea dan Asia Tenggara
Di balik gemerlap idola, perseteruan digital antara penggemar lintas negara terus memanas. Apakah perdebatan ini merusak pengalaman menjadi seorang fan?

Meskipun masih mendukung idola K-pop-nya, Treasure Maker, Puni memutuskan untuk mengikuti girl band lain dari Indonesia.

"Saya mengikuti No Na juga. Mungkin dari situ banyak ke-distract [teralihkan] kali, ya. Jadi, K-popnya nanti dulu," ujarnya.

"Daripada maksudnya setiap buka X aduh, berantem lagi. Isinya marah-marah lagi, ngatain lagi, mending distract ke cari konten yang disuka, kayak No Na."

Beberapa pembuat konten di media sosial dari Korea Selatan telah meminta maaf.

"Atas nama Korea, saya ingin menyampaikan permintaan maaf. Rasisme seharusnya tidak pernah terjadi," kata seorang pengguna TikTok.

Kreator konten Korea Selatan, Jin Seunghyeon, yang merupakan mahasiswa di Indonesia, juga telah menyampaikan permintaan maaf.

"Saya percaya bahwa dalam situasi saat ini, orang Indonesia memandang orang Korea Selatan sebagai rasis secara umum, yang jauh dari kebenaran menurut perspektif saya," katanya kepada ABC.

'Rasisme sistemik'

Menurut platform analitik global K-pop Radar, Indonesia adalah pasar K-pop terbesar di Asia Tenggara, tetapi perseteruan daring tersebut telah menyebabkan banyak penggemar menyerukan boikot konser K-pop dan budaya Korea secara lebih luas.

"Budaya pop asing yang ada di Indonesia itu sekarang didominasi oleh Korean Wave, baik dari lagu K-Pop atau K-drama, atau juga industri kecantikannya, K-beauty dan juga pariwisata," kata Ranny Rastati, peneliti budaya pop Korea di Badan Riset dan Inovasi Nasional Indonesia.

Baca Juga: Infinix Resmi Gaet Idol K-pop Yuna ITZY Jadi Global Brand Ambassador Pertama

Ranny mengatakan meskipun konflik online tersebut kemungkinan tidak akan berdampak signifikan pada pendapatan industri Korea, para penggemar mungkin akan mulai mengonsumsi lebih banyak konten dari negara lain seperti China dan Thailand.

"Saya pikir kalau dua negara ini bisa mengambil momentum dari kejadian Knetz versus SEAblings, ini mungkin bisa memperkuat dominasi mereka terhadap K-Pop," katanya.

Perseteruan di internet itu juga menyentuh isu "rasisme sistemik" di Korea Selatan, terhadap warga Asia Tenggara, dan "mereka yang berkulit lebih gelap."

Ivy Tania mengatakan mengalami rasisme di Korea Selatan ketika ia pergi ke sana pada tahun 2014 untuk 'training' sebagai idola K-pop.

Ketika baru datang, Ivy mengaku merasakan kebaikan dan keramahan dari teman-teman Koreanya.

Namun, ia mulai mengalami tindakan rasisme di sana ketika dalam perjalanan ke Busan.

Sumber artikel cek disini
Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Seberapa Sehat Jam Tidurmu Selama Bulan Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Paling Cocok Jadi Takjil Apa saat Buka Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI