- Pembangunan turap sepanjang 33 meter di Kali Pesanggrahan Jakarta Selatan dikebut untuk meminimalisir risiko banjir Pasar Cipulir.
- Proyek yang dikelola Dinas SDA ini ditargetkan selesai paling lambat H-3 Idulfitri demi ketenangan para pedagang.
- Pekerja menghadapi kendala pemasangan pondasi secara manual karena area terhalang pagar beton dan harus turun ke dalam air.
Suara.com - Proyek pembangunan turap atau dinding penahan tanah di pinggiran Kali Pesanggrahan yang membatasi Pasar Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan terus menunjukkan progres signifikan.
Proyek sepanjang 33 meter ini dikebut sebagai langkah konkret meminimalisir risiko banjir yang kerap merugikan pedagang pakaian di area tersebut, terutama menjelang puncak arus belanja Idulfitri.
Sebelumnya pada Jumat (6/3/2026) lalu, Pasar Cipulir sempat terendam banjir kurang lebih setinggi 50 sentimeter.
Salah satu faktornya adalah karena Posisi lantai dasar pasar yang lebih rendah dari permukaan jalan raya. Hal tersebut membuat beberapa pedagang di lantai dasar rentan terdampak banjir maupun genangan.
Kejar Target Sebelum Lebaran
Pantauan di lokasi menunjukkan sekitar 12 pekerja dikerahkan untuk menyelesaikan tanggul setinggi sekitar 4 meter tersebut.
Proyek yang dikelola oleh kontraktor di bawah Dinas Sumber Daya Air (SDA) ini ditargetkan rampung pada hari ke-25 Ramadhan dan paling lambat H-3 sebelum Lebaran.
"Prediksi kami selesai tanggal ke-25 puasa, atau sekitar tanggal 17 Maret. Jadi kurang lebih H-5 Lebaran sudah beres agar pedagang bisa tenang berjualan, paling lambat H-3 sudah beres," ujar salah satu pekerja di lapangan saat dikonfirmasi Suara.com, Senin (9/3/2026).
Perjuangan di Balik Fondasi
Baca Juga: Sopir Tertidur Picu Tabrakan Adu Banteng Transjakarta di Cipulir, 24 Orang Luka-Luka
Pengerjaan turap ini bukan tanpa kendala. Pembangunan turap Kali Pesanggrahan menghadapi kendala karena adanya titik yang tidak terjangkau alat berat, seperti area yang terhalang pagar beton.
Akibatnya, pekerja harus memasang pondasi secara manual dengan terjun langsung ke lokasi yang dalam.
Para pekerja harus turun langsung "nyemplung" ke dalam air untuk menyusun karung-karung penahan dan memasang patok sebelum area kerja disedot kering.
"Ya harus nyemplung, basah-basahan. Kita susun karung dulu ke dasar kali, baru dipasang patok dan disedot airnya supaya tanahnya kelihatan dan bisa digali manual pakai cangkul," ujar pekerja asal Pekalongan tersebut.
Upaya ekstra ini dilakukan demi memastikan pondasi tertanam sedalam 1,5 meter di bawah dasar sungai agar tidak mudah terkikis arus.
"Kami kerja tidak main-main. Kalau pondasinya tidak kuat di bawah air, nanti bisa roboh. Kami ingin memastikan ini aman sebelum kami pulang kampung," tambahnya.