Pakar Pertahanan: Kesiapan Negara Hadapi Perang Modern Tercermin dari Kehidupan Sehari-hari

Vania Rossa

Selasa, 10 Maret 2026 | 11:58 WIB
Pakar Pertahanan: Kesiapan Negara Hadapi Perang Modern Tercermin dari Kehidupan Sehari-hari
Mantan Kepala Staf Angkatan Udara, Chappy Hakim. (tangkap layar Youtube)
baca 10 detik
  • Mantan KSAU Chappy Hakim menyatakan kesiapan perang modern bergantung pada pengelolaan kehidupan sehari-hari masyarakat yang terorganisir.
  • Pembangunan pertahanan harus berlandaskan konstitusi melalui perencanaan strategis jangka panjang dan dokumen seperti white paper.
  • Kebijakan luar negeri dan sikap internasional harus berasal dari pemahaman jati diri dan kepentingan nasional, bukan opini publik.

Suara.com - Pakar pertahanan sekaligus mantan Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Chappy Hakim menilai kesiapan suatu negara menghadapi perang modern tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer atau teknologi siber. Lebih dari itu, kemampuan negara dalam mengelola kehidupan sehari-hari masyarakatnya juga menjadi faktor penting.

Hal tersebut disampaikan Chappy dalam sebuah diskusi di kanal YouTube milik Rhenald Kasali, saat menanggapi pertanyaan mengenai kesiapan Indonesia menghadapi kemungkinan perang siber dan penggunaan drone seperti yang terjadi dalam konflik modern.

Menurut Chappy, kondisi kehidupan sehari-hari suatu negara merupakan refleksi langsung dari kemampuan negara tersebut dalam menghadapi konflik.

“Solidnya sebuah negara itu tidak hanya dilihat pada waktu perang. Day to day life dari sebuah negara itu adalah simbol bagaimana negara itu bisa bertahan atau berperang,” ujarnya, dikutip pada Senin (9/3/2026).

Ia menambahkan bahwa organisasi dan kedisiplinan dalam kehidupan masyarakat menjadi indikator penting dalam menilai kekuatan suatu negara. Chappy mencontohkan Iran yang dinilainya memiliki sistem kehidupan sehari-hari yang tertata dengan baik.

“Dari sehari-hari Iran dia well organized, Pak. Dan itu adalah refleksi dari bagaimana mereka juga mengorganisasikan, mendesain negaranya,” kata dia.

Sebaliknya, ia menilai kondisi sosial di Indonesia masih diwarnai berbagai konflik yang tidak produktif. Hal tersebut, menurutnya, dapat dilihat dari berbagai polemik yang kerap muncul di ruang publik.

“Kita lihat aja di media kan banyak orang ngurusin orang, kita nggak ngerti siapa urusan siapa kan,” ujarnya.

Pentingnya Perencanaan Strategis Pertahanan

baca juga

Chappy juga menekankan bahwa pembangunan kekuatan pertahanan harus berangkat dari prinsip dasar negara dan dirancang melalui perencanaan strategis jangka panjang. Menurutnya, setiap negara seharusnya memiliki peta jalan yang jelas terkait keamanan nasional.

“Sebuah negara itu sebenarnya dia harus menentukan dia mau pergi ke mana. Dan itu berangkat dari konstitusi. Dari konstitusi terus harus ada blueprint, harus ada white paper, harus ada perencanaan, harus ada long term strategic planning,” kata Chappy.

Dalam praktiknya, dokumen strategis tersebut biasanya dituangkan dalam defense white paper, yang menjadi dasar arah kebijakan keamanan nasional suatu negara.

Ia mencontohkan Australia yang secara konsisten menyusun dan memperbarui dokumen strateginya. Negara tersebut bahkan pernah menggelar latihan keamanan nasional besar pada 1989 yang disebut Kangaroo 89, sebagai implementasi dari dokumen pertahanan yang dikenal sebagai Dibb White Paper.

Sikap Indonesia dalam Konflik Global

Menanggapi perdebatan publik mengenai posisi Indonesia dalam konflik internasional—misalnya antara Iran dan Amerika Serikat—Chappy menilai sikap luar negeri tidak seharusnya ditentukan oleh opini spontan atau emosi publik.

Menurutnya, kebijakan luar negeri harus berangkat dari pemahaman yang jelas mengenai jati diri dan kepentingan nasional.

“Menentukan sikap kita keluar itu sebenarnya kita harus menentukan sikap kita di dalam diri itu sendiri. Foreign policy start from home (Kebijakan luar negeri dimulai dari dalam negeri),” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa setiap negara memiliki landasan konstitusional dan prinsip diplomasi yang harus dijadikan acuan sebelum menentukan posisi politik internasional.

“Masak kita harus dipaksa untuk berpihak? Tunggu dulu, kita tentukan dulu kita ini siapa dan kita mau bagaimana,” kata Chappy.

Kritik terhadap Pola Pikir Politik Jangka Pendek

Dalam kesempatan tersebut, Chappy juga menyoroti kecenderungan politik nasional yang dinilainya terlalu berorientasi pada siklus lima tahunan pemilu.

Menurutnya, orientasi jangka pendek tersebut berpotensi membuat negara kehilangan arah strategis yang lebih besar.

“Visi bangsa ini yang sekarang masuk ke jurang 5 tahunan, Pak. Kita hanya melihat 5 tahunan yaitu Pilkada dan Pilpres,” ujarnya.

Ia menilai kondisi tersebut dapat menghambat lahirnya program pembangunan strategis yang visioner, termasuk dalam bidang keamanan nasional.

Chappy kemudian mencontohkan bagaimana pemerintah Australia melihat kebangkitan Asia sebagai peluang strategis bagi negaranya. Ia mengutip pernyataan mantan Perdana Menteri Australia Julia Gillard yang menyebut abad ke-21 sebagai “Asian century.”

“The development of Asia is unstoppable. We are now in the Asian century. And all of that are Australian opportunity,” pungkas Chappy menirukan pernyataan tersebut.

Pernyataan tersebut bermakna bahwa kemajuan Asia tidak dapat dihentikan dan dunia kini memasuki abad Asia. Bagi Australia, kondisi tersebut dipandang sebagai peluang strategis untuk berkembang.

Sementara itu, pernyataan “I want Australia becoming a winner in this Asian century. I want every Australian citizen becoming a winner in this Asian century” menunjukkan keinginan agar Australia—termasuk seluruh warganya—dapat memperoleh manfaat dari kebangkitan Asia.

Menurut Chappy, arahan strategis dari kepemimpinan nasional seperti itu membuat seluruh warga negara memahami arah besar pembangunan negaranya.

Ia menilai contoh tersebut menunjukkan bagaimana kepemimpinan strategis dapat membentuk visi nasional yang jelas dalam menghadapi perubahan geopolitik global.

Reporter: Dinda Pramesti K

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Dampak Harga Minyak Dunia Naik Mulai Terasa, di Sini BBM Sudah Batasi, SPBU Antre, dan Kampus Libur

Dampak Harga Minyak Dunia Naik Mulai Terasa, di Sini BBM Sudah Batasi, SPBU Antre, dan Kampus Libur

News | Selasa, 10 Maret 2026 | 11:48 WIB

Chappy Hakim: Era Smart War Dimulai, AI dan Drone Ubah Strategi Perang Modern

Chappy Hakim: Era Smart War Dimulai, AI dan Drone Ubah Strategi Perang Modern

News | Selasa, 10 Maret 2026 | 11:48 WIB

Kemlu RI Kawal Kepulangan 32 WNI dari Iran, Ini Jadwal Kedatangannya

Kemlu RI Kawal Kepulangan 32 WNI dari Iran, Ini Jadwal Kedatangannya

News | Selasa, 10 Maret 2026 | 11:45 WIB

Terkini

Amnesty: Dandhy Tak Wajib Hadiri Undangan Klarifikasi Polisi soal Film Pesta Babi

Amnesty: Dandhy Tak Wajib Hadiri Undangan Klarifikasi Polisi soal Film Pesta Babi

News | Sabtu, 24 Oktober 2026 | 20:31 WIB

Mengenal Permakultur: Gaya Hidup Bertani yang Bekerja Bersama Alam

Mengenal Permakultur: Gaya Hidup Bertani yang Bekerja Bersama Alam

Your Say | Sabtu, 24 Oktober 2026 | 20:30 WIB

Cara Migrasi Kartu SIM Fisik ke eSIM di HP Android: Panduan Praktis Telkomsel, Indosat, dan XL

Cara Migrasi Kartu SIM Fisik ke eSIM di HP Android: Panduan Praktis Telkomsel, Indosat, dan XL

Tekno | Sabtu, 24 Oktober 2026 | 20:29 WIB

Malaysia Kirim 1,6 Ton Narkoba ke Indonesia, Dasco Apresiasi Operasi Kapolri Suyudi

Malaysia Kirim 1,6 Ton Narkoba ke Indonesia, Dasco Apresiasi Operasi Kapolri Suyudi

News | Sabtu, 24 Oktober 2026 | 20:27 WIB

Jelang Laga Panas di Pakansari: Polres Bogor Pertemukan Suporter Garudayaksa, Persib hingga Jakmania

Jelang Laga Panas di Pakansari: Polres Bogor Pertemukan Suporter Garudayaksa, Persib hingga Jakmania

Bogor | Sabtu, 24 Oktober 2026 | 20:25 WIB

Viral Video Pria Diduga Pamer Alat Kelamin di Warung Nasi Gunung Putri Bogor

Viral Video Pria Diduga Pamer Alat Kelamin di Warung Nasi Gunung Putri Bogor

Jabar | Sabtu, 24 Oktober 2026 | 20:15 WIB

HUAWEI FreeBuds Neo Andalkan ANC hingga 55 dB, Baterai Tahan 40 Jam

HUAWEI FreeBuds Neo Andalkan ANC hingga 55 dB, Baterai Tahan 40 Jam

Tekno | Sabtu, 24 Oktober 2026 | 20:15 WIB

6 Rekomendasi HP Murah Minim Iklan dan Bloatware, Bebas Notifikasi Mengganggu Mulai 1 Jutaan

6 Rekomendasi HP Murah Minim Iklan dan Bloatware, Bebas Notifikasi Mengganggu Mulai 1 Jutaan

Tekno | Sabtu, 24 Oktober 2026 | 20:11 WIB

Budisatrio Apresiasi Prestasi Siswa Sekolah Rakyat di Olimpiade Bahasa Asing BBNKT 2026

Budisatrio Apresiasi Prestasi Siswa Sekolah Rakyat di Olimpiade Bahasa Asing BBNKT 2026

News | Sabtu, 24 Oktober 2026 | 20:10 WIB

Ungkap Alasan Bedah Rumah di Kampung Ambon, Kapolda: Berantas Narkoba Tak Cukup Pakai Hukum

Ungkap Alasan Bedah Rumah di Kampung Ambon, Kapolda: Berantas Narkoba Tak Cukup Pakai Hukum

News | Sabtu, 24 Oktober 2026 | 20:09 WIB

×