-
Pemerintah Iran membantah rumor pemimpin tertinggi Mojtaba Khamenei terluka akibat serangan AS-Israel.
-
Yousef Pezeshkian mengonfirmasi Mojtaba Khamenei dalam keadaan aman dan sehat melalui laporan resmi.
-
Mojtaba Khamenei resmi memimpin Iran menggantikan ayahnya setelah agresi militer skala besar terjadi.
Suara.com - Otoritas tinggi di Teheran akhirnya memberikan klarifikasi resmi mengenai keselamatan pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei.
Laporan mengenai kondisi kesehatan Mojtaba Khamenei sempat menjadi teka-teki setelah agresi militer besar-besaran terjadi.
Amerika Serikat dan Israel dilaporkan menjadi aktor di balik serangan yang menyasar jantung pertahanan Iran tersebut.
Kabar mengenai Mojtaba yang menderita luka-luka akibat gempuran udara tersebut langsung dibantah oleh orang dalam pemerintahan.
Pihak Teheran menegaskan bahwa sang pemimpin berada dalam lindungan dan tidak terdampak serangan fisik secara serius.
Informasi mengenai situasi terkini Mojtaba ini mencuat ke publik melalui keterangan pers pada Rabu (11/3/2024).
Adalah Yousef Pezeshkian, seorang penasihat pemerintah Iran, yang membagikan detail kondisi sang pemimpin melalui saluran digital.
Yousef yang juga merupakan putra Presiden Masoud Pezeshkian bergerak cepat menepis isu miring yang beredar luas.
Ia melakukan koordinasi langsung dengan berbagai pihak yang memiliki akses informasi primer di pemerintahan Iran.
Baca Juga: Ketua Federasi Iran: Pemain Kami Diculik Sebelum Dikasih Visa dari Australia
Langkah ini diambil untuk menenangkan publik dan memberikan kepastian di tengah ketegangan perang yang meningkat.
Pernyataan resmi ini disebarkan melalui platform Telegram untuk menjangkau masyarakat internasional dan warga lokal secara cepat.
Yousef Pezeshkian memberikan kalimat penegas yang memastikan bahwa sang pemimpin berada dalam kondisi yang prima.
"Alhamdulillah, beliau dalam keadaan aman dan sehat," kata Yousef seperti dikutip dari Telegram.
Penegasan ini sekaligus menunjukkan bahwa struktur kepemimpinan Iran tetap kokoh meskipun berada di bawah tekanan militer.
Media kenegaraan Iran sebelumnya memberikan gambaran mengenai latar belakang militer yang dimiliki oleh Mojtaba Khamenei.
Televisi pemerintah sering merujuk sosok pria berusia 56 tahun ini sebagai seorang pejuang yang berdedikasi.
Laporan tersebut melabeli Mojtaba sebagai "veteran perang yang terluka dalam perang Ramadan" dalam narasi sejarahnya.
Meskipun demikian, tidak ada rincian medis yang pernah dibuka secara transparan mengenai jenis cedera masa lalunya.
Kerahasiaan ini menjadi bagian dari protokol keamanan dan citra kepahlawanan pemimpin tertinggi di mata rakyatnya.
Eskalasi kekerasan di kawasan Timur Tengah ini bermula dari operasi militer gabungan pada akhir Februari lalu.
Pasukan Amerika Serikat dan militer Israel meluncurkan serangan udara terkoordinasi yang menargetkan posisi-posisi strategis.
Operasi yang dimulai sejak 28 Februari tersebut bertujuan untuk melumpuhkan rantai komando tertinggi di Teheran.
Dampak dari gempuran tersebut sangat signifikan dengan gugurnya sejumlah tokoh penting dan pejabat elit negara.
Salah satu kehilangan terbesar bagi Iran adalah wafatnya Ayatollah Ali Khamenei dalam rangkaian serangan udara tersebut.
Pihak Teheran tidak tinggal diam melihat wilayah dan pemimpin mereka menjadi sasaran serangan mematikan pihak asing.
Militer Iran segera meluncurkan serangan balasan menggunakan teknologi drone canggih dan rudal balistik jarak jauh.
Target balasan tersebut diarahkan kepada aset-aset militer Israel serta pangkalan AS di wilayah negara-negara Teluk.
Di tengah situasi perang yang berkecamuk, Iran harus segera menentukan sosok pengganti untuk mengisi posisi tertinggi.
Tepat sepekan setelah kepergian Ali Khamenei, sebuah keputusan besar diumumkan oleh otoritas keagamaan dan politik Iran.
Pada hari Minggu (8/3), pengumuman resmi mengenai suksesi kepemimpinan akhirnya disampaikan kepada seluruh dunia.
Mojtaba Khamenei secara formal ditunjuk untuk mengemban amanah sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru.
Penunjukan ini menandai era baru kepemimpinan dinasti yang diharapkan mampu menyatukan kekuatan faksi di Iran.
Sebagai putra dari mendiang Ali Khamenei, ia dianggap memiliki legitimasi kuat untuk melanjutkan garis perjuangan ayahnya.
Kini, tugas berat menanti Mojtaba untuk menavigasi Iran keluar dari krisis keamanan dan ancaman serangan lanjutan.