-
Konflik Timur Tengah memicu kelangkaan gas memasak LPG secara nasional di seluruh India.
-
Kantin dan asrama menghapus menu teh serta masakan panas demi menghemat stok energi.
-
Restoran mulai beralih ke peralatan listrik akibat terganggunya distribusi gas lewat Selat Hormuz.
Suara.com - India kiamat makanan masak, dapur-dapur di seluruh wilayah India kini sedang mengalami perubahan drastis akibat situasi geopolitik yang memanas.
Hidangan panas yang biasanya mengepul serta minuman teh yang ikonik mulai menghilang dari daftar menu.
Dikutip dari Reuters, fenomena ini terjadi sebagai dampak langsung dari krisis gas memasak yang melanda negara tersebut.
Masyarakat mulai beralih mengonsumsi makanan cepat saji dan air lemon dingin sebagai alternatif utama.
Langkah ini diambil demi menghemat sisa bahan bakar gas minyak cair atau LPG yang kian langka.
Kondisi sulit ini bermula dari terhentinya lalu lintas pelayaran di kawasan Selat Hormuz dan Teluk.
Peperangan yang melibatkan Iran menjadi pemicu utama tersendatnya jalur logistik energi internasional tersebut.
Hal ini secara otomatis memicu lonjakan biaya transportasi serta kenaikan harga energi secara signifikan.
Output dari produsen minyak dan gas di kawasan Timur Tengah juga mengalami penurunan drastis.
India sendiri menyandang status sebagai negara pengimpor LPG terbesar kedua di tingkat global saat ini.
Pemerintah India telah menggunakan wewenang darurat untuk memerintahkan kilang agar segera meningkatkan hasil produksi mereka.
Meski demikian, pihak asrama dan pengelola kantin melaporkan bahwa ketersediaan stok di lapangan masih sangat terbatas.
Kondisi tersebut memaksa pengelola tempat makan melakukan perubahan komposisi menu secara mendadak dan cepat.
Sektor industri juga tidak luput dari dampak dengan mulai membatasi pilihan makanan bagi para pekerja.
Sebuah pabrik komponen otomotif di Gujarat bahkan telah menghapus semua jenis gorengan dari daftar menu.
Minuman teh yang biasanya wajib tersedia kini mulai digantikan dengan air lemon yang lebih praktis.
Sup panas yang biasa disajikan saat makan siang pun kini berganti menjadi susu mentega atau dadih.
Di wilayah Tamil Nadu, persatuan pemilik asrama menginstruksikan anggotanya untuk berhenti memproduksi kopi sementara waktu.
Pembuatan roti pipih atau flatbread juga dihentikan karena proses memasaknya membutuhkan konsumsi gas yang tinggi.
Beberapa kantin menyatakan akan kembali ke menu normal setelah distribusi gas kembali stabil seperti semula.
Pihak pengelola hunian sewa terus mencari cara agar cadangan energi yang tersisa bisa bertahan lebih lama.
"Asrama kami hanya memiliki stok gas untuk sekitar 4-5 hari, dan jika mereka memasak hidangan yang mengonsumsi lebih sedikit energi, mereka mungkin dapat memperpanjang umur silinder (gas) selama dua hari lagi," kata Arunkumar DT, presiden Asosiasi Kesejahteraan Pemilik PG Bengaluru.
Keterbatasan bahan bakar ini diprediksi akan memaksa banyak restoran untuk memangkas kapasitas layanan mereka.
Analis dari Elara Securities, Karan Taurani, menyebutkan bahwa gangguan ini akan berdampak pada pesanan di platform pengiriman.
Para pelanggan kemungkinan besar akan beralih ke jaringan layanan cepat yang menggunakan oven listrik.
Restoran yang mengandalkan alat penggoreng listrik dianggap lebih aman dalam menghadapi situasi krisis energi ini.
Di New Delhi, sebuah rumah makan pinggir jalan yang populer hanya mampu menyediakan menu nasi dan miju-miju.
Bahkan kantin Pengadilan Tinggi Delhi telah menghentikan layanan makanan berat dan hanya menawarkan roti lapis saja.
Situasi ini menunjukkan betapa rapuhnya ketahanan energi domestik terhadap gejolak politik yang terjadi di mancanegara.
Hingga kini, warga masih menunggu solusi konkret agar aktivitas dapur mereka bisa kembali normal seperti sedia kala.