- Jaksa Agung New York menggugat Trump sejak 2022 atas pemalsuan laporan keuangan untuk keuntungan finansial.
- Pengadilan Banding menguatkan temuan penipuan bisnis Trump, namun mengurangi denda awal $450 juta.
- Pengacara Trump kini menuntut komunikasi Jaksa Agung dengan Michael Cohen karena klaim adanya paksaan kesaksian.
Suara.com - Kasus dugaan penipuan yang menjerat perusahaan Presiden AS, Donald Trump serta anak-anaknya memasuki babak baru.
Di tengah serangan balasan Iran terhadap fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah, Donald Trump tengah dihadapkan dengan kasus hukum yang sudah berjalan sejak 2022.
Untuk konteks, pada September 2022, Kantor Jaksa Agung New York yang dipimpin oleh Letitia James menggugat Trump, anak-anaknya, dan perusahaan mereka dengan tuduhan memalsukan laporan keuangan selama bertahun-tahun untuk mendapatkan keuntungan dari bank dan perusahaan asuransi.
Jaksa menilai Trump menggelembungkan nilai aset hingga miliaran dolar untuk memperoleh pinjaman dengan bunga lebih rendah dan keuntungan pajak.
Jaksa Agung New York menyatakan bahwa Trump membuat lebih dari 200 laporan keuangan menyesatkan antara 2011–2021.
![Donald Trump (tengah) [White House]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/11/93032-donald-trump.jpg)
Pada Februari 2024, hakim New York memutuskan bahwa Trump dan perusahaannya melakukan penipuan finansial.
Trump diperintahkan membayar lebih dari $450 juta (sekitar Rp7 triliun) dan dilarang menjalankan bisnis di New York untuk beberapa waktu.
Namun pada pengadilan banding, putusan pembayaran denda itu dikurangi. Dasar Komisi Banding Pengadilan Bagian New York berlebihan dan dilarang oleh Amandemen Kedelapan Konstitusi AS.
Meski menyebut hukuman kepada Trump terlalu tingi, Pengadilan Banding New York tidak membantah temuan bahwa Trump, anak-anak dan perusahaan milik mereka melakukan penipuan bisnis.
Babak Baru Kasus Penipuan Trump
Terbaru di kasus ini, kuasa hukum Donald Trump menuntut agar Jaksa Agung New York, Letitia James, menyerahkan seluruh komunikasi dengan mantan pengacara Trump, Michael Cohen.
Permintaan itu muncul setelah Cohen mengaku dirinya “ditekan dan dipaksa” untuk memberikan kesaksian yang memberatkan Trump.
Dalam dokumen setebal 25 halaman yang diajukan ke pengadilan, pengacara Trump meminta perintah agar semua catatan komunikasi diserahkan.
Mereka menuntut dokumen berupa email, transkrip wawancara, rekaman, hingga catatan pertemuan antara Cohen dan kantor Jaksa Agung New York.
Tim hukum Trump menegaskan bahwa kesaksian Cohen menjadi inti dari kasus yang diajukan terhadap presiden.
“Kesaksian Cohen berada di jantung perkara dan menjadi dasar dimulainya penyelidikan yang bermuatan politik terhadap Trump, keluarganya, dan bisnisnya,” tulis tim pengacara Trump seperti dilansir dari NY Post.
![Pemilik Inter Miami, Jorge Mas (kiri) bersama Donald Trump dan Lione Messi [Instagram]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/07/99739-jorge-mas-donald-trump.jpg)
Dalam tulisan di platform Substack, Cohen menuduh dirinya dipaksa oleh jaksa untuk memberikan keterangan yang mengarah pada hukuman bagi Trump.
“Saya merasa terpaksa dan dipaksa untuk memberikan apa yang mereka inginkan,” tulis Cohen.
Ia juga menyebut penyelidik dari kantor Jaksa Agung New York dan jaksa Manhattan memiliki tujuan yang sama.
“Letitia James dan Alvin Bragg mungkin tidak berada di kantor yang sama, tetapi mereka memakai buku pedoman yang sama,” kata Cohen.
Tim hukum Trump menilai kantor Jaksa Agung menolak memberikan dokumen yang diminta. Mereka bahkan menyebut pihak jaksa mengaku tidak mengetahui apakah catatan komunikasi tersebut ada atau tidak.
“Jaksa Agung menolak melakukan langkah sederhana untuk memastikan apakah dokumen itu ada atau sedang dihapus secara otomatis,” tulis tim pembela Trump dalam berkas pengadilan.