-
IAEA menduga 200 kg uranium Iran 60 persen masih tersimpan aman di terowongan Isfahan.
-
Fasilitas Isfahan merupakan satu-satunya situs nuklir yang selamat dari serangan militer Juni lalu.
-
Total stok uranium Iran secara teori cukup untuk memproduksi sekitar sepuluh hulu ledak nuklir.
Suara.com - Kondisi terkini mengenai material sensitif di dalam perut bumi Isfahan mulai terkuak ke publik. Material itu adalah bahan baku senjata kiamat milik Iran.
Kepala Badan Energi Atom Internasional atau IAEA, Rafael Grossi, mencurigai cadangan besar uranium Iran masih menetap di sana.
Lokasi yang berbentuk kompleks terowongan bawah tanah ini diduga kuat menjadi bunker penyimpanan utama material berbahaya.
Berdasarkan data pantauan terakhir, tempat ini menampung bahan kimia yang telah diperkaya hingga tingkat kemurnian tinggi.
Keberadaan zat tersebut memicu kekhawatiran global karena posisinya yang sangat dekat dengan standar militer.
"Yang kami yakini adalah bahwa Isfahan, hingga inspeksi terakhir kami, memiliki sedikit lebih dari 200 kg, mungkin sedikit lebih dari itu, uranium 60%," ujar Grossi dikutip dari Reuters, Jumat (13/3/2026).
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa konsentrasi terbesar bahan nuklir Teheran memang terpusat di fasilitas bawah tanah tersebut.
Fakta ini menjadi krusial mengingat Isfahan adalah satu-satunya titik yang selamat dari gempuran udara masif.
Serangan yang diluncurkan oleh militer Amerika Serikat bersama Israel pada Juni lalu tidak melumpuhkan situs ini.
Padahal, banyak instalasi strategis lainnya sudah rata dengan tanah akibat operasi pembersihan kekuatan nuklir tersebut.
Para utusan internasional sebenarnya sudah lama menandai Isfahan sebagai gudang penyimpanan uranium tingkat tinggi tersebut.
Laporan resmi dari pihak IAEA pada bulan Februari juga sempat menyinggung peran penting bunker bawah tanah ini.
Meskipun saat itu belum ada angka pasti, kini perkiraan jumlah total material di seluruh Iran mulai terlihat.
Sebelum serangan terjadi, Teheran diperkirakan memegang kendali atas sekitar 440,9 kilogram uranium dengan kemurnian 60 persen.
Secara teknis, volume sebesar itu mampu menyuplai bahan peledak yang setara dengan sepuluh unit bom nuklir.
Hingga detik ini, Rafael Grossi menyatakan tidak ada tanda-tanda evakuasi besar-besaran terhadap cadangan mineral tersebut.
"Asumsi umum adalah material itu masih berada di sana. Kami belum melihat pergerakan yang menunjukkan bahwa bahan tersebut telah dipindahkan," ujarnya.
Sikap diam dari pihak pemerintah Iran terkait lokasi penyimpanan saat ini menambah ketidakpastian bagi pengawas global.
Akses bagi para inspektur internasional untuk kembali masuk ke lokasi yang pernah dibom pun masih tertutup rapat.
Iran nampaknya masih enggan memberikan informasi mendetail mengenai kondisi sisa-sisa program nuklir mereka pasca konflik.
Alasan utama serangan militer sekutu beberapa waktu lalu adalah untuk memutus rantai produksi senjata nuklir.
Pihak Barat meyakini bahwa Iran sudah berada di ambang pintu untuk menjadi negara dengan kekuatan atom.
Namun, di sisi lain, IAEA mencatat bahwa bukti program senjata nuklir yang terorganisir belum ditemukan secara nyata.
Kerusakan parah memang menimpa dua pabrik pengayaan di Natanz serta satu instalasi penting di wilayah Fordow.
Meski hancur, sisa-sama uranium dengan kadar 60 persen dilaporkan masih tertinggal di reruntuhan situs Natanz tersebut.