- Rasimin, sopir bus asal Banyumas, harus bekerja maraton saat Lebaran demi mengantar pemudik, menunda kepulangannya pasca arus balik.
- Pengabdiannya selama satu dekade lebih mengutamakan keselamatan penumpang dibandingkan kecepatan, didukung kerjasama dengan sopir cadangan.
- Untuk menjaga stamina, Rasimin mengandalkan buah mengkudu alami dan rutin mengikuti pemeriksaan kesehatan seperti tes urin dari BNN.
Suara.com - Di saat ribuan orang berbondong-bondong mengemas barang untuk kembali ke kampung halaman, Rasimin justru melakukan hal sebaliknya.
Pria asal Sumpiuh, Banyumas, Jawa Tengah, ini harus menekan rindu pada anak dan istrinya di rumah.
Hal itu dilakukan pria berusia 56 tahun tersebut demi memastikan roda bus Sinar Jaya yang ia kemudikan tetap berputar, mengantar para perantau bertemu keluarga.
Bagi Rasimin, momen Lebaran Idulfitri bukanlah waktu yang tepat untuk libur. Tuntutan profesi dan lonjakan penumpang membuatnya harus tetap berada di balik kemudi secara maraton, mulai dari sebelum hingga sesudah hari H.
"Wah, insya allah nonstop lah (nyopir). Kebutuhan," kata Rasimin sembari terkekeh saat ditemui di Terminal Jombor, Sleman, DIY, Senin (16/3/2026).
Ia mengaku tidak melakukan mudik di saat orang lain mudik. Melainkan menggeser waktu pulangnya hingga arus balik usai.
"Ya, insyaallah (pulang setelah arus balik), paring sehat slamet (semoga sehat selamat)," kata dia.
Pengabdian Sepuluh Tahun di Jalanan
Sudah lebih dari satu dekade Rasimin melakoni profesi ini. Baginya, aspal jalur selatan mulai dari Bumiayu, Gombong, hingga Purworejo sudah seperti rumah kedua.
Baca Juga: Puluhan Ribu Kendaraan Padati Jalur Nagreg Jelang Mudik Lebaran
Menghabiskan hari raya di jalanan bukan lagi hal yang asing atau menyedihkan baginya. Rutinitas ini dijalani dengan lapang dada.
Ia mengaku sudah terbiasa dengan ritme kerja yang padat. Selama kebutuhan keluarga di rumah tercukupi, berada di jalanan saat hari raya justru dinikmatinya sebagai bagian dari tanggung jawab profesi.
"Ya, kalau saya udah biasa di jalanan ya enjoy aja, yang penting di rumah sudah ada buat kebutuhan, udah (cukup)," tuturnya dengan nada santai.
Keselamatan Penumpang di Atas Kecepatan
Meskipun jalanan terkadang sepi dan jalan yang mulus, Rasimin tidak pernah terpancing untuk memacu kendaraannya di luar batas normal. Baginya, membawa nyawa puluhan orang di dalam bus berkapasitas 40 kursi itu adalah amanah besar.
Ia selalu mengedepankan prinsip keselamatan daripada sekadar mengejar waktu sampai ke tujuan.