Ubedilah Badrun Ungkap 3 Dugaan Aktor Intelektual di Balik Serangan Andrie Yunus

Vania Rossa, Bagaskara Isdiansyah

Kamis, 19 Maret 2026 | 18:55 WIB
Ubedilah Badrun Ungkap 3 Dugaan Aktor Intelektual di Balik Serangan Andrie Yunus
Analis Sosial Politik dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) sekaligus Aktivis 98, Ubedilah Badrun. (Suara.com/Bagaskara)
  • Analis Ubedilah Badrun menduga aktor intelektual penyerangan KontraS terkait kritik Andrie Yunus terhadap remiliterisasi.
  • Dugaan aktor intelektual terbagi tiga: komando struktural BAIS, elit strategis istana, atau kekuatan politik besar.
  • Kasus ini berpotensi mengikuti pola Novel Baswedan, di mana penanganan hukum berhenti pada eksekutor lapangan.

Suara.com - Analis Sosial Politik dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) sekaligus Aktivis 98, Ubedilah Badrun, memberikan analisis mendalam terkait siapa sosok di balik layar (aktor intelektual) penyerangan terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus

Ia meragukan kasus ini akan terbongkar hingga ke akarnya jika berkaca pada kasus serupa di masa lalu.

Ubedilah membandingkan pola penanganan kasus ini dengan peristiwa yang menimpa mantan penyidik KPK, Novel Baswedan, di mana hukum cenderung berhenti pada eksekutor lapangan dengan motif yang dikonstruksikan sebagai "dendam pribadi".

“Nah, apakah ini akan terbongkar sampai ke aktor intelektual? Saya belajar dari peristiwa Novel Baswedan. Novel Baswedan kan pelakunya kan polisi, ya kan, polisi aktif. Ya sampai di situ, tidak sampai ke aktor intelektual. Motifnya dendam pribadi pada Novel karena Novel dianggap sebagai penyidik yang tidak loyal kepada atasannya karena independensinya,” ujar Ubedilah dalam sebuah diskusi yang digelar di Kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (19/3/2026).

Ia menduga ada pola yang sama sedang dimainkan, yakni mengaburkan motif politik di balik kritik Andrie Yunus terhadap isu remiliterisasi.

“Nah, sekarang kita enggak tahu motifnya apa. Jangan-jangan polanya akan sama, motifnya karena enggak suka secara pribadi gitu terhadap Andrie Yunus karena mengkritik identitasnya sebagai bagian dari tentara misalnya. Kan mungkin saja motifnya begitu nanti dikonseptualisasinya begitu,” tambahnya.

Ubedilah menekankan bahwa serangan ini merupakan buntut dari ketersingguan kelompok tertentu atas kritik korban terhadap penguatan militerisme dalam Undang-Undang TNI.

“Tapi saya melihat ini perkara yang sangat serius karena Andrie Yunus yang dikritik oleh dia adalah isu tentang remiliterisme. Yang dikritik oleh Andrie Yunus adalah kemunculan kembali upaya untuk memperkuat pola militerisme dalam Undang-Undang Tentara misalnya, dan seterusnya. Jadi artinya ini ada pertarungan demokrasi dengan militerisme yang dampaknya akan berakibat buruk citra negatif terhadap militer. Karena itu mereka tersinggung dengan upaya Andrie Yunus ini,” jelasnya.

Terkait siapa aktor intelektualnya, Ubedilah membagi dugaannya ke dalam tiga hipotesis besar:

1. Logika Komando di Tubuh BAIS

Ubedilah meyakini bahwa prajurit aktif tidak akan melakukan tindakan berisiko tanpa adanya perintah atasan.

“Kalau pakai logika struktural militerisme itu pasti ada komando, ya kan? Tidak mungkin anggota tentara melakukan tindakan fatal atau sangat radikal begitu, sangat berisiko, tanpa perintah atasan. Itu enggak mungkin. Itu analisis pertama. Jadi bisa jadi atasan mereka. Kalau mereka adalah anggota BAIS, sekarang kita tanya siapa komandan BAIS-nya? Ketua BAIS-nya siapa gitu? Apakah Ketua BAIS yang memerintahkan kepada mereka? Kalau bukan Ketua BAIS, siapa di atas mereka? Jadi dugaan pertama adalah atasan mereka langsung dari institusi BAIS.”

2. Keterlibatan Elit Strategis di Istana

Dugaan kedua mengarah pada oknum tentara aktif yang menduduki jabatan strategis di lingkaran kekuasaan Presiden Prabowo Subianto.

“Dugaan yang kedua, aktor intelektual ini adalah dia berada pada dua institusi. Dia adalah tentara aktif tapi dia juga punya posisi strategis di istana. Sehingga konektivitasnya langsung ke istana. Polanya bisa jadi orang istana ini bukan karena perintah Prabowo, bisa jadi karena perintah Prabowo. Kalau kemudian bukan karena perintah Prabowo, itu artinya dia mau menunjukkan kepada Prabowo bahwa dia berjasa untuk menghentikan ini, tanpa perintah Prabowo. Kalau perintah Prabowo ini berbahaya, Prabowo salah besar. Jadi kita analisis siapa tentara aktif yang ada di istana, yang sangat didengar, yang punya pengaruh. Tinggal cari aja.”

3. Perseteruan Kekuatan Politik Besar

Dugaan terakhir menyangkut adanya dukungan finansial dari kekuatan politik tertentu yang sedang berseteru.

“Yang ketiga adalah pelaksana ini, eksekusi ini adalah orang yang tergoda oleh kekuatan besar politik yang memberikan dukungan finansial pada aktor eksekusi ini. Dan itu menjadi satu pola, bisa jadi itu pembusukan institusi atau yang lain. Karena perseteruan kekuatan besar politik, kalau mau disebut kan misalnya antara kekuatan Jakarta dengan Solo misalnya, kita enggak tahu. Jadi siapa aktor intelektual dugaan saya tiga itu kemungkinannya," katanya.

Lebih lanjut, Ubedilah merangkum bahwa penyerangan ini berdiri di atas tiga asumsi dasar. 

“Asumsi pertama karena paradigma militerisme belum hilang, asumsi kedua karena kepentingan elit di istana, dan asumsi ketiga adalah kepentingan kekuatan politik besar di balik itu,” pungkasnya.

Sebelumnya, Komandan Pusat Polisi Militer (Danpuspom) Markas Besar (Mabes) TNI Mayor Jenderal (Mayjen) Yusri Nuryanto telah mengonfirmasi bahwa empat pelaku penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS tersebut berasal dari Bais TNI. 

Adapun para pelaku yang kini tengah diproses adalah Kapten NDP, Lettu SL, Lettu BHW, dan Serda ES.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Soroti Perbedaan Inisial Pelaku Air Keras Andrie Yunus, Ubedilah Badrun: Koordinasi TNI-Polri Kacau

Soroti Perbedaan Inisial Pelaku Air Keras Andrie Yunus, Ubedilah Badrun: Koordinasi TNI-Polri Kacau

News | Kamis, 19 Maret 2026 | 18:36 WIB

Siapa Dalang Teror Air Keras Aktivis KontraS? DPR Desak Bongkar Aktor Intelektual Oknum BAIS TNI

Siapa Dalang Teror Air Keras Aktivis KontraS? DPR Desak Bongkar Aktor Intelektual Oknum BAIS TNI

News | Kamis, 19 Maret 2026 | 16:10 WIB

Komnas HAM Dorong Agar Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus Dilakukan Melalui Pengadilan Umum

Komnas HAM Dorong Agar Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus Dilakukan Melalui Pengadilan Umum

News | Kamis, 19 Maret 2026 | 15:57 WIB

Terkini

Komisi X DPR Dukung Gibran Libatkan Mahasiswa dalam Kunker Pantau Program MBG

Komisi X DPR Dukung Gibran Libatkan Mahasiswa dalam Kunker Pantau Program MBG

News | Kamis, 18 Juni 2026 | 15:40 WIB

Jajaran Direksi Himbara Merapat ke Istana, Prabowo Gelar Rapat Tertutup Bahas Ekonomi

Jajaran Direksi Himbara Merapat ke Istana, Prabowo Gelar Rapat Tertutup Bahas Ekonomi

News | Kamis, 18 Juni 2026 | 15:39 WIB

MBG Jangan 'Makan' Hak Guru dan Beasiswa dari Anggaran Pendidikan!

MBG Jangan 'Makan' Hak Guru dan Beasiswa dari Anggaran Pendidikan!

News | Kamis, 18 Juni 2026 | 15:24 WIB

Presiden Setujui Anggaran Rp 100,1 Triliun untuk Rehabilitasi Pascabencana di Tiga Provinsi Sumatra

Presiden Setujui Anggaran Rp 100,1 Triliun untuk Rehabilitasi Pascabencana di Tiga Provinsi Sumatra

News | Kamis, 18 Juni 2026 | 15:21 WIB

Bukan Sekadar Pertemuan Biasa, Ini Agenda Utama Prabowo Panggil Bos Himbara hingga Rosan ke Istana

Bukan Sekadar Pertemuan Biasa, Ini Agenda Utama Prabowo Panggil Bos Himbara hingga Rosan ke Istana

News | Kamis, 18 Juni 2026 | 15:20 WIB

Kabar Baik! 97 Persen Huntara Rampung, Pengungsi di Aceh-Sumbar Tak Lagi Tinggal di Tenda

Kabar Baik! 97 Persen Huntara Rampung, Pengungsi di Aceh-Sumbar Tak Lagi Tinggal di Tenda

News | Kamis, 18 Juni 2026 | 15:04 WIB

PDIP Sindir Balik Jazilul PKB: Apa Anda Galau Ingin Adu Domba Kami dengan Pemerintah?

PDIP Sindir Balik Jazilul PKB: Apa Anda Galau Ingin Adu Domba Kami dengan Pemerintah?

News | Kamis, 18 Juni 2026 | 15:02 WIB

Kasus Hanania Travel: Awkarin Tunda Pemeriksaan Saksi dan Davina Karamoy Diperiksa Polisi

Kasus Hanania Travel: Awkarin Tunda Pemeriksaan Saksi dan Davina Karamoy Diperiksa Polisi

News | Kamis, 18 Juni 2026 | 14:58 WIB

Jazilul Desak PDIP Tegas jadi Partai Oposisi atau Koalisi, Deddy Sitorus: Memangnya Dia Siapa?

Jazilul Desak PDIP Tegas jadi Partai Oposisi atau Koalisi, Deddy Sitorus: Memangnya Dia Siapa?

News | Kamis, 18 Juni 2026 | 14:47 WIB

Adu Dorong Polwan dan Massa Demo Terekam Video: Polisi Bantah Halangi Aksi

Adu Dorong Polwan dan Massa Demo Terekam Video: Polisi Bantah Halangi Aksi

News | Kamis, 18 Juni 2026 | 14:47 WIB