IEA melaporkan 40 aset energi Timur Tengah rusak parah akibat konflik bersenjata berkepanjangan.
Penutupan Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak dunia dan mengganggu stabilitas ekonomi Asia.
Cadangan 400 juta barel minyak darurat disiapkan IEA untuk mengatasi krisis pasokan global.
Ketegangan militer ini memberikan tekanan yang sangat berat bagi negara-negara di wilayah Asia Pasifik.
Ketergantungan yang tinggi terhadap pasokan dari Timur Tengah membuat posisi negara Asia menjadi sangat rentan.
“Tidak hanya minyak dan gas, tetapi beberapa arteri vital ekonomi global… perdagangan mereka semua terganggu,” tambahnya.
Kepentingan domestik setiap negara kini menjadi prioritas utama di tengah ketidakpastian stok energi internasional.
Birol juga mengingatkan agar negara produsen tidak melakukan pembatasan ekspor secara sepihak tanpa alasan mendesak.
“Setiap negara pertama-tama mempertimbangkan kepentingan domestiknya sendiri, tetapi… pembatasan ekspor yang serius tanpa alasan yang jelas mungkin bukan sesuatu yang mendapat nilai plus,” katanya.
Sebagai langkah antisipasi IEA telah menyusun rencana strategis untuk menjaga keseimbangan pasar minyak dunia.
Lembaga ini berencana mengucurkan ratusan juta barel minyak ke pasar global untuk meredam lonjakan harga.
Volume minyak yang akan dilepaskan dari gudang cadangan darurat mencapai angka 400 juta barel.
Langkah ini diharapkan mampu menjadi bantalan bagi negara-negara konsumen yang terdampak langsung oleh konflik.
IEA juga menyatakan kesiapannya untuk menambah volume cadangan jika gangguan distribusi terus berlanjut ke depannya.
Namun Fatih Birol menggarisbawahi bahwa solusi utama tetap terletak pada kelancaran jalur pelayaran internasional.
Ia menegaskan bahwa akses terbuka di wilayah perairan tertentu menjadi kunci utama pemulihan ekonomi dunia.
Birol menekankan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz tetap penting untuk memulihkan aliran energi global.
Kelancaran arus keluar masuk kapal tangker di jalur tersebut merupakan syarat mutlak kestabilan harga energi.