Suara.com - Emisi karbon yang dilepaskan hari ini kerap dipandang sebagai masalah jangka panjang. Namun, penelitian terbaru dari Stanford University menunjukkan dampaknya jauh lebih mahal dari yang selama ini diperkirakan, dengan beban ekonomi yang terus bertambah seiring waktu.
Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Nature, para peneliti menemukan bahwa emisi karbon dioksida (CO2) yang dilepaskan beberapa dekade lalu telah memicu kerugian ekonomi global dalam skala besar.
Akumulasi emisi dari negara dan perusahaan tidak hanya berdampak saat ini, tetapi juga menciptakan “tagihan” ekonomi yang akan terus meningkat di masa depan.
Berdasarkan analisis tersebut, emisi dari Amerika Serikat sejak 1990 diperkirakan telah menyebabkan kerugian ekonomi global lebih dari 10 triliun dolar AS.

Dampak ini tidak merata, dengan negara-negara berkembang menanggung beban signifikan, termasuk sekitar 330 miliar dolar AS di Brasil dan 500 miliar dolar AS di India. Sementara itu, kerugian di dalam negeri AS sendiri mencapai hampir 3 triliun dolar AS, diikuti kawasan Eropa sebesar 1,4 triliun dolar AS.
Profesor bidang environmental social sciences di Stanford Doerr School of Sustainability, Marshall Burke, menyatakan bahwa emisi domestik terbukti berdampak langsung terhadap kinerja ekonomi negara penghasilnya. Namun, jika dilihat dari proporsi terhadap output ekonomi, negara berpendapatan rendah justru menanggung kerugian yang jauh lebih besar.
Proyeksi Kerugian Jangka Panjang
Studi ini juga menyoroti peran korporasi besar dalam akumulasi emisi global. Emisi yang dihasilkan dari produksi dan penggunaan minyak oleh Saudi Aramco antara 1988 hingga 2015 diperkirakan telah menyebabkan kerugian global sebesar 3 triliun dolar AS pada 2020. Jika emisi tersebut tetap bertahan di atmosfer hingga akhir abad ini, nilainya bisa melonjak lebih dari 20 kali lipat menjadi 64 triliun dolar AS.
“Selama masih ada satu ton karbon dioksida yang dipancarkan di sana, hal itu menyebabkan pemanasan hingga kerusakan,” kata Burke.
Kerugian dan Kerusakan
Perhitungan ini mengacu pada konsep “kerugian dan kerusakan” yang digunakan dalam negosiasi iklim internasional, yakni dampak perubahan iklim yang tidak lagi dapat dihindari melalui mitigasi maupun adaptasi.
Salah satu penulis studi, Solomon Hsiang, mengibaratkan akumulasi emisi seperti tagihan sampah yang tidak pernah dibayar.
“Ketika kita menghasilkan sampah, membuangnya di mana pun kita mau adalah ilegal, karena hal itu menimbulkan biaya bagi orang lain. Biasanya, kita membayar orang lain untuk membuang sampah kita. Warisan emisi gas rumah kaca kita sama, hanya saja kita tidak pernah membayar tagihannya dan bunganya terus bertambah,” ujarnya.
Urgensi Waktu dalam Penanganan Karbon
Penelitian ini menekankan pentingnya waktu dalam penanganan emisi karbon. Para peneliti menghitung bahwa jika satu ton CO2 dibiarkan berada di atmosfer selama 25 tahun sebelum dihilangkan, maka sekitar setengah dari total kerugian ekonominya sudah terjadi.