Studi Ungkap Biaya Tersembunyi Emisi Karbon bagi Ekonomi Global

Bimo Aria Fundrika

Jum'at, 27 Maret 2026 | 10:30 WIB
Studi Ungkap Biaya Tersembunyi Emisi Karbon bagi Ekonomi Global
Ilustrasi emisi karbon. (Freepik/freepik)

Suara.com - Emisi karbon yang dilepaskan hari ini kerap dipandang sebagai masalah jangka panjang. Namun, penelitian terbaru dari Stanford University menunjukkan dampaknya jauh lebih mahal dari yang selama ini diperkirakan, dengan beban ekonomi yang terus bertambah seiring waktu.

Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Nature, para peneliti menemukan bahwa emisi karbon dioksida (CO2) yang dilepaskan beberapa dekade lalu telah memicu kerugian ekonomi global dalam skala besar.

Akumulasi emisi dari negara dan perusahaan tidak hanya berdampak saat ini, tetapi juga menciptakan “tagihan” ekonomi yang akan terus meningkat di masa depan.

Berdasarkan analisis tersebut, emisi dari Amerika Serikat sejak 1990 diperkirakan telah menyebabkan kerugian ekonomi global lebih dari 10 triliun dolar AS.

Ilustrasi Emisi Karbon ( freepik/freepik)
Ilustrasi Emisi Karbon ( freepik/freepik)

Dampak ini tidak merata, dengan negara-negara berkembang menanggung beban signifikan, termasuk sekitar 330 miliar dolar AS di Brasil dan 500 miliar dolar AS di India. Sementara itu, kerugian di dalam negeri AS sendiri mencapai hampir 3 triliun dolar AS, diikuti kawasan Eropa sebesar 1,4 triliun dolar AS.

Profesor bidang environmental social sciences di Stanford Doerr School of Sustainability, Marshall Burke, menyatakan bahwa emisi domestik terbukti berdampak langsung terhadap kinerja ekonomi negara penghasilnya. Namun, jika dilihat dari proporsi terhadap output ekonomi, negara berpendapatan rendah justru menanggung kerugian yang jauh lebih besar.

Proyeksi Kerugian Jangka Panjang

Studi ini juga menyoroti peran korporasi besar dalam akumulasi emisi global. Emisi yang dihasilkan dari produksi dan penggunaan minyak oleh Saudi Aramco antara 1988 hingga 2015 diperkirakan telah menyebabkan kerugian global sebesar 3 triliun dolar AS pada 2020. Jika emisi tersebut tetap bertahan di atmosfer hingga akhir abad ini, nilainya bisa melonjak lebih dari 20 kali lipat menjadi 64 triliun dolar AS.

“Selama masih ada satu ton karbon dioksida yang dipancarkan di sana, hal itu menyebabkan pemanasan hingga kerusakan,” kata Burke.

baca juga

Kerugian dan Kerusakan

Perhitungan ini mengacu pada konsep “kerugian dan kerusakan” yang digunakan dalam negosiasi iklim internasional, yakni dampak perubahan iklim yang tidak lagi dapat dihindari melalui mitigasi maupun adaptasi.

Salah satu penulis studi, Solomon Hsiang, mengibaratkan akumulasi emisi seperti tagihan sampah yang tidak pernah dibayar.

“Ketika kita menghasilkan sampah, membuangnya di mana pun kita mau adalah ilegal, karena hal itu menimbulkan biaya bagi orang lain. Biasanya, kita membayar orang lain untuk membuang sampah kita. Warisan emisi gas rumah kaca kita sama, hanya saja kita tidak pernah membayar tagihannya dan bunganya terus bertambah,” ujarnya.

Urgensi Waktu dalam Penanganan Karbon

Penelitian ini menekankan pentingnya waktu dalam penanganan emisi karbon. Para peneliti menghitung bahwa jika satu ton CO2 dibiarkan berada di atmosfer selama 25 tahun sebelum dihilangkan, maka sekitar setengah dari total kerugian ekonominya sudah terjadi.

Profesor di Stanford Doerr School of Sustainability, Noah Diffenbaugh, menambahkan bahwa dampak pemanasan global terhadap pertumbuhan ekonomi bersifat kumulatif. Artinya, semakin lama emisi bertahan di atmosfer, semakin besar pula kerugian yang ditimbulkan.

Meski demikian, para peneliti menilai angka-angka yang dihasilkan masih bersifat konservatif. Perhitungan ini belum mencakup dampak lain seperti hilangnya keanekaragaman hayati, kerusakan situs budaya, hingga risiko kenaikan permukaan laut dan peristiwa cuaca ekstrem.

Dengan kata lain, biaya nyata dari krisis iklim kemungkinan jauh lebih besar dari yang saat ini terukur.

Penulis: Vicka Rumanti

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Sampah Popok Meningkat di Jepang, Bisakah Daur Ulang Jadi Solusi?

Sampah Popok Meningkat di Jepang, Bisakah Daur Ulang Jadi Solusi?

News | Jum'at, 27 Maret 2026 | 10:11 WIB

Pasar EPC Energi Surya Diprediksi Tembus Rp133 Triliun, Peluang Ekonomi Hijau Makin Besar

Pasar EPC Energi Surya Diprediksi Tembus Rp133 Triliun, Peluang Ekonomi Hijau Makin Besar

Bisnis | Jum'at, 27 Maret 2026 | 09:17 WIB

Ekonomi Syariah RI Melesat, Aset Permata Bank Meningkat

Ekonomi Syariah RI Melesat, Aset Permata Bank Meningkat

Bisnis | Jum'at, 27 Maret 2026 | 08:33 WIB

Terkini

Aksi Enerjik The Changcuters Guncang Panggung Pestapora 2026

Aksi Enerjik The Changcuters Guncang Panggung Pestapora 2026

Foto | Sabtu, 26 September 2026 | 17:51 WIB

3 Parfum Pria Tahan Lama Terbaik, Dijamin Bikin Cewek Nempel!

3 Parfum Pria Tahan Lama Terbaik, Dijamin Bikin Cewek Nempel!

Lifestyle | Sabtu, 26 September 2026 | 17:41 WIB

Sinopsis Matching: True Love, Film Thriller Jepang Dibintangi Tao Tsuchiya

Sinopsis Matching: True Love, Film Thriller Jepang Dibintangi Tao Tsuchiya

Your Say | Sabtu, 26 September 2026 | 17:40 WIB

YOGYAKOMTEK 2026 Resmi Dibuka, Pameran Komputer Terbesar di DIY

YOGYAKOMTEK 2026 Resmi Dibuka, Pameran Komputer Terbesar di DIY

Jogja | Sabtu, 26 September 2026 | 17:38 WIB

Sinopsis The Love of Hypnosis, Dracin Terbaru Liu Yifei dan Jing Bo Ran

Sinopsis The Love of Hypnosis, Dracin Terbaru Liu Yifei dan Jing Bo Ran

Your Say | Sabtu, 26 September 2026 | 17:35 WIB

Pemprov DKI Guyur Rp2,11 Triliun untuk 7 Proyek Strategis: Bangun Rusun hingga Pengendali Banjir

Pemprov DKI Guyur Rp2,11 Triliun untuk 7 Proyek Strategis: Bangun Rusun hingga Pengendali Banjir

News | Sabtu, 26 September 2026 | 17:30 WIB

Pestapora 2026 Resmi Digelar, 330 Musisi Ramaikan Panggung JIExpo

Pestapora 2026 Resmi Digelar, 330 Musisi Ramaikan Panggung JIExpo

Foto | Sabtu, 26 September 2026 | 17:21 WIB

Koneksi vs Kualifikasi: Apa yang Sebenarnya Menentukan Peluang Kerja?

Koneksi vs Kualifikasi: Apa yang Sebenarnya Menentukan Peluang Kerja?

Your Say | Sabtu, 26 September 2026 | 17:20 WIB

Fasilitas Mewah Lapas Cibinong: 52 Napi dan 50 Pegawai Diperiksa, Kemenimipas Temukan Kejanggalan!

Fasilitas Mewah Lapas Cibinong: 52 Napi dan 50 Pegawai Diperiksa, Kemenimipas Temukan Kejanggalan!

News | Sabtu, 26 September 2026 | 17:17 WIB

Sepatu Lari Lebih Baik Pas atau Longgar? Ini Tips Bebas Cedera dari Dokter Ortopedi

Sepatu Lari Lebih Baik Pas atau Longgar? Ini Tips Bebas Cedera dari Dokter Ortopedi

Lifestyle | Sabtu, 26 September 2026 | 17:13 WIB

×