- Pelemahan Rupiah hingga Rp17.000/USD pada Maret 2026 diperkirakan menaikkan harga pangan 2 hingga 8 persen.
- Ketergantungan impor komoditas seperti kedelai, gandum, daging, telur, dan susu meningkatkan risiko gejolak eksternal.
- Pedagang merasakan dampak langsung berupa kenaikan bahan baku dan biaya operasional, menekan margin keuntungan mereka.
Partisipasi konsumen dalam memilih produk lokal tak bisa dianggap remeh. Terlebih untuk memperkuat ketahanan pangan nasional dari guncangan ekonomi di masa depan.
Keluh Kesah Pedagang
Kondisi ekonomi makro tersebut nyatanya berdampak nyata di lapangan, salah satunya dirasakan oleh Utik Sutyani, penjual Jadah Tempe di Kaliurang, Sleman.
Berjualan sejak tahun 2010 pasca-erupsi Merapi, kini ia harus menghadapi lonjakan harga bahan baku yang drastis di tahun 2026.
Kenaikan tidak hanya berhenti pada bahan utama, tetapi juga pada sarana pendukung seperti kemasan plastik berbagai ukuran.
"Ketan sekarang sudah Rp23 ribu per kilogramnya, naik banyak banget. Plastik loh juga naik, yang dulu dari Rp6 ribu untuk plastik putih (dua kiloan) ini sekarang jadi Rp8 ribu," keluh Utik.
Beban operasional yang meningkat ini membuat margin keuntungan pedagang semakin menipis di tengah situasi pasar yang sedang tidak menentu.
"Kalau tahun lalu sehari bisa laku 6-7 kilogram. Ini tadi 4 kilogram aja masih sisa sedikit. Jadi ini pengunjung itu turun," ucapnya.